Love Comes Softly

Marty Claridge : Katherine Heighl

Clark Davis : Dale Midkiff

Missie Davis : Skye McCole Bartusiak

Jadi ceritanya saya sedang mencari film roman. Saya mengoptimalkan kolom pencarian yang ada di youtube untuk mencari video full movie. Entahlah, sampai keluar nama katherine heighl lalu keluarlah filmnya yang ini. Malam ini, lepas mengajar, saya menontonnya. Usai menonton, saya baru mencari tahu lebih lanjut tentang film ini. Ternyata, Love Comes Softly hanyalah film pertama dari drama yang diangkat dari novel karya Janette Oke. Dan, terkategorikan sebagai christian drama television movie (seperti disebut wikipedia), dengan latar waktu abad 19. Ada sepuluh seri, dimulai tahun 2003 –dengan judul love comes softly ini- dan berakhir (seri kesepuluh) pada November 2011 lalu.

“Is she alright, Pa?” said Missie, Clark’s daughter. “No, she’s not.”

Perempuan yang dimaksud oleh Missie, adalah Marty Claridge. Janda muda yang juga sedang hamil muda. Sesaat setelah menemukan lahan untuk membangun kehidupan bersama suaminya, Aaron, kejadian buruk menimpanya. Aaron yang sedang mencari kudanya yang lepas, tak kembali dan membuat Marty khawatir. Dalam pengejaran kuda yang lepas, Aaron terjatuh dari kuda yang dinaikinya. Terjatuh dan naas, kepalanya membentur batu besar dan meninggal seketika. Mayatnya ditemukan oleh Ben Graham, tetangga jauh yang mengenali mereka berdua.

Kesedihan bagi Marty terasa amat sangat. Ia tak memiliki kedua orang tuanya, dan sejauh ini hanya Aaron yang mendampingi dan hidup bersamanya. Tapi tiba-tiba Aaron tidak ada lagi, tidak ada untuk selamanya. Hingga kemudian, dalam hujan usai pemakaman Aaron, seorang pria datang. Menyapanya lembut, lantas mengungkapkan niatnya langsung kepada Marty bahwa ia, Clark Davis, ingin menikahinya. Yang ditawarkan Clark adalah perjanjian mutual. Ia ingin putrinya memiliki sosok ibu, dan untuk kesediaan Marty nantinya, ia menawarkan rumah berteduh dan berjanji membawanya pulang ke kampung halamannya. Kondisinya saat itu, Marty tak memiliki tempat tinggal dan harta. Didorong oleh Sarah Graham, ia menerima dirinya menjadi istri Clark.

Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan duka kehilangan Aaron. Belum lagi, Missie, tak bersepakat dengan kehadirannya. Penyesuaian-penyesuaian, kebertahanan Marty untuk tetap meladeni kejailan Missie yang menginginkannya pergi, terjadi di awal bergabungnya mereka dalam sebuah rumah sederhana. Kelak, sebuah gaun pink kecil hasil rombakan Marty akan menjadi penanda hubungan Marty dan Missie menghangat. Well, love really takes time. Love really takes patience.

Masih ada konflik lain, tidak berhenti pada akurnya Marty dan Missie saja. Bila ada kesempatan tontonlah sisanya. Begitu menyenangkan ketika Missie dan Marty berbagi. Missie, gadis berusia 9 tahun, yang besar dengan melakukan pekerjaan ternak dan pekerjaan yang familiar bagi laki-laki. Lalu Marty yang hidup bersama buku. Mereka menularkan kebisaan satu sama lain. Melengkapi.

Ah, iya, Marty yang menyukai buku. Saya menyukai ia yang begitu.

Once you can read, you can have every adventure you’ve ever dream of.
On the pages of the book, you’re princess on the tower or the best shot in the town.
On those pages, there are no limits . . to where you can go, who you can be.
No one would ever tell you you’re too young to fight the dragon because it was all happen here where it save.

Belum lagi, Clark itu tipikal pria baik banget. All package, because he is also a handsome father and the religious one who have his time routine for praying in his own ‘church’.

From the beginning to the ending, its heartwarming. Saya juga berhasil dibikin mewek dah. Hiks.

Its a lovely and a good movie. i heart it :*

Sometimes, love are fireworks. Sometimes love just come softly.

Tak berlebihan, bila sesu…

Tak berlebihan, bila sesungguhnya, hidup kita sehari-hari, adalah pelintasan di atas segala rasa takut. Betapa besar masalah rasa takut itu. Betapa serius soal takut itu memengaruhi watak dan kepribadian kita. Setiap kali rasa takut datang, kita pasti bertaruh untuk diri kita sendiri akan menjadi apa. Begitu pula setiap kali rasa takut pergi, kita juga bertaruh untuk diri kita sendiri akan seperti apa. Pada setiap rasa takut, selalu ada kadarnya dari kehilangan yang kita khawatirkan. Keunggulan kita ditempa melalui rasa takut itu. Begitu juga keterpurukan kita, dihempaskan oleh rasa takut itu pula.

halaman 9, majalah Tarbawi edisi 275.

Ada nama-nama yang ketika kalian rangkaikan namanya, dalam hati maupun dalam lafal yang paling fasih, tenggorokan kalian tercekat dan mata berlinang dalam sekejap. Nama-nama yang ketika diingat, maka kehangatan-kehangatan lampau menyerbu ingatan. Membersitkan keinginan akan pertemuan. Nama-nama yang merangkum masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan. Nama-nama yang artinya sama saja dengan sayang, cinta, perasaan manis apapun itu namanya. Nama-nama yang teringat dalam doa dan kalian pun mengharapkan doa dari mereka. Nama-nama yang (semoga) tak akan terhapus dan (semoga) selalu saling menguatkan.

Bersalah


Pondok Cabe,

Setelah memastikan bantuan direksi menuju tempat yang hendak saya kunjungi (selanjutnya, sebut saya lokasi x), saya berangkat pukul 06.30. Ah, iya, bantuan direksi yang saya maksud adalah bantuan aplikasi Google Maps. Tidak bermaksud mempromosikan, sebenarnya, tapi aplikasi ini sangat membantu (bagi saya yang sulit menghapal rute).

Ternyata, jalan yang saya tempuh sederhana. 17km, kata Google Maps. Dan butuh 25 menit, menurut perkiraannya. Tapi ternyata butuh waktu (hampir) satu jam. Maklum, saya tidak persis melewati jalan yang dianjurkan oleh Peta Gugel tadi. Tapi, jalan lain yang bisa diakses menuju lokasi yang sama. Tidak nyasar, kan, berarti?

Singkat kata (apa iya pembuka tadi, singkat?), saya berhasil ke sebuah gang yang jadi ancer-ancer. Masuk, sekitar 300 meter ke dalam untuk sampai ke lokasi x. Berhubung lokasi x berada di dalam kompleks perumahan, cukup sulit bagi saya menemukannya. Hingga ternyata saya terlewat, cukup jauh.

Saya menyadari itu karena untuk jarak 300 meter, jalan yang saya ambil sudah cukup jauh melebihi. Saya berniat bertanya kepada seorang ibu yang saya lihat di kejauhan. Ibu itu sedang menunggui warung yang ada di sisi kanan jalan. Untuk mendekat, saya butuh minggir ke sisi kanan, dong? Saya hidupkan sen (bagaimana deh pelafalannya) sebelah kanan. Untuk menandai kendaraan yang ada di belakang. Karena merasa cukup aman, saya perlahan menepi ke kanan. Naas, motor di belakang saya melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Alih-alih mengambil sisi kiri, ia malah berusaha menyalip saya di kanan.

Kebetulan yang tak mengenakkan juga, dari gang kecil yang ada di sebelah kanan, keluar sebuah motor. Crash! Terdengar bunyi hantaman dan motor yang terseret. Laju motor saya melambat, sementara motor yang ada di belakang saya terus saja melaju. Padahal laju ngebut-nya telah membuat motor lain (yang berasal dari gang kecil tadi) kaget dan rem mendadak hingga ia terjatuh bersama motornya ke bagian jalan yang rusak. Masya Allah, saya memarkir di depan warung. Bergerak melihat keadaan. Laki-laki yang terjatuh tadi mengalami luka di tubuh sebelah kiri.

Kaki (lutut), tangan, dan bahu lecet. Berdarah, dan sebentar lagi (sepertinya) akan membengkak. Melihatnya, tangan saya dingin. Bukan ngebutnya saya yang membuat dia terkaget, memang. Tapi karena inisiatif mengambil sisi kanan jalan, yang mungkin mengganggu motor di belakang saya hingga akhirnya ia tetap mengambil sisi kanan dan malah membuat motor lain nge-rem mendadak dan jatuh terluka.

Laki-laki yang terluka tadi, tidak menyalahkan saya. Sedang lelaki yang mengendarai motor di belakang saya malah terus saja melaju. Tak sudi lagi menengok ke belakang. Istilah lain, ia kabur. Saya? Sangat merasa bersalah, laki-laki yang terluka tadi hanya diobati seadanya. Diobati dengan obat merah. Padahal, ia hendak berangkat kerja. Tak tahu lah, apa pekerjaannya. Tapi peristiwa ini mengingatkan saya akan kecelakaan kecil yang saya sebabkan, dulu.

Pernah, dalam jalanan yang ramai, saya melaju cukup cepat. Karena jarak kian dekat dengan mobil di depan saya, akhirnya saya rem mendadak. Sayangnya, ada motor yang juga jaraknya tak jauh dari belakang saya. Ia akhirnya ikut-ikutan rem mendadak, hampir menyerempet saya. Tapi saya selamat, sedang ia yang terluka kakinya. Luka yang cukup membuatnya terpincang. Dilihat dari mana pun, itu salah saya kan? Tapi saat itu saya tidak membawa uang banyak. Hingga akhirnya saya ‘dibebaskan’ hanya dengan meminta maaf. Tapi sepanjang melanjutkan perjalanan, Masya Allah, saya terus merasa deg-degan. Menyesal hanya bisa meminta maaf dan tak bisa membayar kerugian.

Kecelakaan pagi ini, sebenarnya bermuara pada tindakan salah saya. Saya tidak ingin membawa pulang rasa bersalah. Hingga akhirnya saya menyelipkan uang, sambil meminta maaf pada laki-laki yang terluka (pagi ini).

Bukan. Bukan berarti rasa bersalah terbayar oleh uang yang seberapa itu. Tapi, setidaknya uang itu bisa meringankan penyembuhan lukanya. Setidaknya uang itu, membantu menghapus kekesalannya akibat kecelakaan pagi ini. Bersyukur bila uang itu bisa bermanfaat lebih.

Tak sepenuhnya tentang rasa bersalah, tapi terselip pelajaran untuk bertanggung jawab dalam berkendara.

Semoga luka laki-laki itu cepat pulih dan cepat kembali beraktivitas seperti sedia kala.

01.07 WIB
Dini hari yang berkawin dengan ‘melancholia’
Selatan Jakarta

*keterangan gambar
potongan video klip Falling – John Park
tidak nyambung,
ini hanya karena, usai tulisan ini, yang diperdengarka daftar putar lagu adalah suara gentle milik John Park.

Purnama Jumadil Ula


Sabtu sore, empat minggu yang lalu. Sejak awal perjalanan, bahkan sebelumnya, saya tahu betul bahwa malam itu akan muncul purnama yang selalu datang dengan bentuk terindahnya. Maka, rencana ke Caringin Tilu sejak sore hingga maghrib saat itu akan sangat menyenangkan (bahkan sudah terasa saat membayangkannya). Bukankah ada kesempatan untuk full-moon-gazing di langit yang berbeda dari langit yang biasa saya nikmati purnamanya?

Tapi siapa bisa tahu kondisi langit yang sekarang-sekarang ini tak bisa begitu diantisipasi kapan cerah atau mendungnya? Setelah sore hari sebelumnya Bandung diguyur hujan (saat kami ke Saung Angklung Udjo), maka dalam angkot yang bergerak menjauh dari hotel Amarossa, diputuskan bahwa rencana ke Caringin Tilu dibatalkan. Seharian itu langit tidak cerah tapi tidak begitu mendung, sejuk saja, sehingga ada kekhawatiran bahwa kami akan berpapasan dengan hujan. Lagipula sulit menjangkau Caringin Tilu dengan angkutan umum.

Lepas pembatalan rencana ke Caringin Tilu, sebenarnya saya biasa saja. Kecewa, tapi memaklumi. Masih mengantisipasi hujan, lagipula purnama tak bisa bersamaan muncul dengan hujan kan?

Yang semestinya langit Caringin Tilu menjelang senja, berganti menjadi langit atap Masjid Salman dan langit sekitar Dago. Tak satu pun titik air turun dari langit. Dan matahari tenggelam tanpa awan mendung. Bergerak mencari penganan oleh-oleh, lalu kembali ke Masjid Salman untuk shalat Maghrib dan Isya lalu selepasnya menuju restoran seafood (yang saya lupa namanya).

Tapi sejak maghrib malam itu, perasaan saya engga enak. Tahu kan kalo ada lintasan dalam benak,”duh, coba jadi ke Caringin Tilu.” Sesal-kesal kecil semacam itu, terus ada di benak saya selama menunggu pesanan di restoran seafood tempat kami makan malam. Saya memang moody, jadi saya semakin diam saja selama menunggu makanan yang, subhanallah, lama betul. Maklum, malam minggu, restoran itu penuh dengan pengunjung. Tapi, subhanallah (lagi), bahkan minuman pun lama sekali tak kunjung disampaikan ke kami. Sampai-sampai bergerak ambil sendiri di lemari pendingin yang tersedia disana (atau memang begitu sejak awal harusnya?).

Dalam masa menunggu malam itu, kami sibuk dengan handphone masing-masing, tapi masih sempat memecahkan keheningan dengan mengobrol. Saya beranjak membuka twitter. Naas, saya bertemu dengan tweet seseorang yang woro-woro keindahan purnama malam ini. Sebel lah saya jadinya, saya dibawah atap restoran, mendongak ke langit pun percuma karena pasti terhalang dengan atap restoran tersebut. Akhirnya, saya kunci handphone saya hingga lampunya meredup. Saya beralih ke buku Melukis Pelangi yang jadi bawaan peserta Gathering Blogger-Mizan siang sebelumnya. Beralih dengan menenangkan sesal yang merusuhi hati saya malam itu.

Saya tidak akan menyalahkan siapapun, tidak ingin menyalahkan diri sendiri juga. Karena tak dipertemukan dengan purnama malam itu pun sudah sesuatu yang pasti akan terjadi.

**

Semalam, empat minggu kemudian sejak malam minggu pertengahan jumadil ula itu, saya menemukan purnama benderang yang vertikal berada di atas kepala. Karena hampir vertikal sempurna, mendongakkan kepala lama-lama sambil berdiri pun akhirnya akan terasa juga pegalnya. Semalam, sebentar saja full-moon-gazing saya lakukan, di depan rumah. Saya tak punya loteng yang kondusif untuk dinaiki dan menjadi spot terbaik tiap purnama tiba. Pun tak enak juga bila saya merebahkan badan di atas motor, yang terparkir di depan rumah, demi menikmati purnama dan bintang-bintang. Tak elok dilihat manusia yang lalu lalang di depan rumah.

Dan malam ini, malam 14 Jumadil Akhir, hujan baru selesai. Saya belum menyengajakan diri berjalan keluar dan memandangi purnama. Mungkin nanti, saat mendung menghilang dan langit telah bersih. Atau saat pertiga malam terakhir, menatapnya dari balik jendela, saat purnama tepat menghadap rumah (sesuai perkiraan posisi purnama di langit sekitar rumah, selama ini).

Lalu, sudahkan purnama (yang diberitakan dalam kondisi primanya: Supermoon) muncul di langitmu malam ini?