Rasa Bersalah

Then how should i say it?

To seize life. Broke a lifeline.

Cost a woman, her husband. A child, his father.

Whenever i want to forget it, it’ll come to mind.

Whenever i think of it. I just want to die. Every day. Every night.

(Seo Jae Hui, “Me too, Flower!” episode 5)

 

Seminggu berlalu, sejak terjadinya kecelakaan fatal yang merenggut sembilan nyawa. Ya, tentang kecelakaan karena kelalaian seorang Afriyani. Tentang ia yang mabuk dan mengendarai mobil, kehilangan kendali kemudi dan menerabas pedestrian. Apa rasanya menjadi penyebab hilangnya sembilan nyawa dalam seketika tanpa kita merencanakannya? Rasa bersalah apa yang menghampiri seorang yang mau tak mau dilabeli sebagai pembunuh?

Azalia – Ali Sastra

Kemarin Minggu, saya bertemu dengan solois ini. Saat technical meeting untuk lomba nasyid IBF 2012. Disana, baru tahu bahwa dia debut dengan lagu do’aku. Bersama Kang Tedi (Snada), Ali sempet nyanyi. Dan..ya, suaranya bagus. So, i’m searching for him on youtube. Ketemu deh video ini. Live dari konser edcoustic akhir tahun kemarin. Lagu, suara, dan penampilan yang bagus ^^d *thumbs up

Thufail Ibn Amr Ad Dausi

Thufail, seorang pemuka kabilah Daus, Yaman. Yang secara fitrah, baik kepribadiannya. Hidayah Allah sampai kepadanya dengan mendengar ayat-ayat AlQur’an. Saat itu, ia sedang thawaf di Mekkah. Ia sambil menyumbat telinganya, saat thawaf demi tidak mendengarkan ‘syair’ yang dilantukan Muhammad. Saat datang ke Mekkah, dia diberi informasi yang sangat tidak baik tentang Muhammad. Muhammad diperolok-olok kafir Quraisy dihadapannya. Meski ia sendiri seorang yang sebenarnya baik, ia mengantisipasi perkataan kafir Quraisy.

Dalam izin Allah, penyumbat telinganya terjatuh. Bersamaan dengan itu, ia mendengar ayat Al Qur’an yang dibaca Muhammad dalam shalatnya. Seketika itu pula ia merasa takjub. Sebagai seorang yang menyukai syair-menyair, dia paham betul bahwa ‘syair’ yang dilantunkan Muhammad terlampau indah bila ‘syair’ tersebut merupakan ciptaan manusia. Hingga kemudian ia mendekati Muhammad, menyatakan keislamannya. Dikuatkan keyakinannya saat kemudian ia dijamu dirumah Muhammad. Olok-olok Muhammad oleh kafir Quraisy yang didengarnya dahulu, runtuh seketika. Ia mengimani bahwa Muhammad memang pembawa risalah dan mulia dengan segala akhlak yang didapatinya selama bersamanya.

Sebelum kembali ke sukunya, ia meminta didoakan Rasulullah agar dakwahnya kepada kaumnya tidak mengalami kendala berarti dan dapat diterima luas oleh kaumnya. Dalam izin Allah, keberkahan bersamanya, meliputinya dan meliputi upaya dakwahnya. Allah menjadikan kepalanya bercahaya, lalu ujung cambuknya bercahaya. Cahaya yang kemudian menjadi penjelas keberkahan langkahnya.

Keberkahan juga terlihat dari kemudahannya mengajak ayahnya dan istrinya untuk ikut kedalam agama Islam yang baru dianutnya. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia berhasil mengislamkan 200 penduduk Daus. Subhanallah. Kemudahan mengislamkan orang-orang yang bahkan Rasulullah tidak dapatkan.

Suatu kala, Thufail menyampaikan bahwa dirinya bermimpi. Mimpi yang aneh, menurutnya. Meski tetap saja dianggap bahwa mimpi tersebut memiliki tabir yang baik oleh pengikutnya yang mencintainya. Thufail bermimpi. Kepalanya terlepas dari raganya, kemudian burung keluar dari mulutnya. Anaknya memiliki permintaan yang tidak bisa dipenuhinya kecuali di kesempatan yang berbeda. Mimpi tersebut, adalah tabir kematiannya. Kelak, ia syahid dengan kepala yang terpenggal, terputus dari badannya. Subhanallah, meski telah lepas dari raganya, dua kalimat syahadat justru terlafal dari mulutnya ketika kepala lepas dari badannya. Ini yang dimaksud kepalanya lepas dari badan dan burung keluar dari mulutnya.

Dan tentang anaknya, Amr bin Thufail yang menginginkan untuk syahid bersama dengan ayahnya, justru pulih total setelah mengalami luka parah pasca perang Yamamah. Dan ia, menjemput syahidnya, di perang Yarmuk. Keinginannya untuk syahid dijemput ditempat yang berbeda dari Ayahnya. Wallahua’lam

Semoga kita termasuk yang bisa memetik pelajaran atas kisah-kisah terdahulu.

Tentang Menghadirkan Sirah dalam Fiksi

Hal ini, riuh akibat pertanyaan seorang peserta kajian semalam. Yang ditanyakan adalah batasan menghadirkan sirah dalam fiksi. Demi menikmati sirah, novel fiksi based on sirah Rasulullah kan sekarang lagi laku tuh. Tapi mengganjal kah dalam benak kita tentang mencampurkan fiksi dan sirah itu, yang benar, bisa sejauh mana?

Dalam jawabannya, Ust Salim bilang, bahwa penulis harus hati-hati. Karena ada kemungkinan, apa yang tertulis dalam fiksi sirah tadi menyinggung sebuah hadis dimana jatuhnya adalah neraka bagi mereka yang menisbatkan Rasulullah. naudzubillah. Kebolehan hanya ada pada segmen memodifikasi latar suasana, dan mesti sesuai dengan sirah yang menjadi rujukan. Tidak boleh sampai memodifikasi, ucapan, atau perbuatan Nabi. Bila pun memodifikasi kalimat, redaksinya mungkin bisa diubah tetapi harus berhati-hati karena makna yang ditunjukkan mestilah sama.

pfiuh..saya pribadi jadi ingat beberapa novel. seperti novel Humaira, MLPH juga MPPH, sampai novel Pengikat Surga yang bercerita tentang Asma’. Rasanya ingin memindai sekali lagi, buku-buku itu, dan berhati-hati. Sebuah pelajaran penting sekali tentang ‘aturan main’ menggunakan sirah dalam menjadi sandaran tulisan kita.

oia, tentang isi kajian #majelisjejaknabi edisi 20 Januai 2012, di Masjid Pondok Indah, ulasannya disini

semoga bermanfaat :-)

[Review Buku] Meraba Indonesia

“Menulis Indonesia bagaikan mengisahkan sekelumit misteri yang rumit sekaligus menantang. Tak ubahnya mengupas sebiji bawang. Lapisan demi lapisan menguak sejarah, namun begitu terkuak, mata kita perih karenanya. Tapi, biarlah mata ini perih. Yang terutama adalah saya berusaha mengelupasi lapisan-lapisan”.

–Ahmad Yunus, halaman 19 buku Meraba Indonesia
Dalam film dokumenter Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, pelengkap buku Meraba Indonesia, Farid Gaban menjawab alasan ekspedisi yang dilakukannya dengan ahmad Yunus ini dalam rangka mengkonfirmasi kekayaan alam dan manusia Indonesia. Maka, sebagai pembaca, yang juga orang Indonesia, saya secara pribadi berterimakasih. Konfirmasi ini sampai bahkan kepada saya, dan pembaca lainnya, yang belum berkesempatan menjelajahi Indonesia. Konfirmasi semacam ini, kerja keras dan kerja yang patut diapresiasi. Demi apa sih, melakukan perjalanan yang sedemikian melelahkan, menguras pikiran, badan dan kekayaan? Demi mengenal lebih dekat, demi mencintai Indonesia dengan pengetahuan yang utuh. Demi mencintai Indonesia meski dengan terlebih dahulu merasai perihnya.

Benarlah, yang dikatakan Yunus, membaca catatan perjalanan ini saja rasanya tak jauh beda dari sensasi mengupas bawang. Ternyata Indonesia, jadi Indonesia begitu, dan lainnya. Perasaan berdesir dan sedih bersamaan. Seumpama mengupas bawang!

Dari catatan perjalanan ini juga, saya belajar nasionalisme dalam rupa lain. Sama sekali jauh dari euforia nasionalisme yang serempak meruak gara-gara tersinggung kekayaan budaya kita duga di-plagiat. Atau nasionalisme yang bentuknya saru, yang meruak dari mendukung timnas sepakbola kita untu menang dalam laga melawan timnas negeri lain. Melihat rupa nasionalisme yang seperti itu, bahkan rasanya rupa semacam itu masih terlampau dangkal. Cobalah tengok nasionalisme penduduk Indonesia di pulau-pulau terluar. Yang diseru oleh Presiden kita untuk menjaga garis terluar Indonesia tapi terabaikan. Kesulitan sendiri dalam menyejahterakan diri dan sekitarnya. Diminta ‘menjaga’ tapi dirinya tidak ‘dijaga’ dengan baik. Nasionalisme yang mereka miliki lah “nasionalisme yang sudah teruji” (Indonesia di tepi pasifik; Miangas)

Maka saya bisa lebih memahami alasan-alasan separatis beberapa daerah. Tapi didaerah terluar itu pun, mati-matian mereka berusaha tetap menggunakan bahasa Indonesia, melakukan perniagaan dengan kekayaan Indonesia meski dalam kesulitan. Mengabaikan kemudahan melakukan perniagaan sehari-hari yang ditawarkan negara tetangga. Bisa kah kita, penduduk Pulau Jawa, memahaminya? Memahami kebertahanan mereka?

Buku ini juga tentang cerita orang-orang Indonesia. Tentang sejarah dan kisah. Bisa sangat memilukan. Bisa sangat memprihatinkan. Tetapi itulah wajah Indonesia. Mari kembali bersyukur, kita diajak bertumbuh dengan belajar dari hal yang tak melulu menyenangkan tapi juga dari hal yang tidak menyenangkan. Bisa kah kita lebih arif, setelah ini?

Hati saya terus menerus berdesir membaca bagian tengah hingga akhir buku ini. rasanya gegap. Ingin juga ikut-ikutan mengkonfirmasi sendiri. Ingin mengenal Indonesia lebih dekat. Dan memaknai nasionalisme tidak hanya dengan ungkapan termudahnya. Ingin ke Teluk Kiluan, ingin ke Banda, ingin ke Pulau Kakaban yang evolusinya (secara sains) begitu rumit. Ahh, semoga tersampaikan.

Secara penuturan, saya menikmati sajian tulisan jurnalisme sastrawi macam yang dibawakan Yunus ini. Mengalir, sederhana dan jujur. Kalian pun, akan menyukainya. Tentu saja. :-)

Semoga ulasan ini bermanfaat.
Selamat Membaca.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers