10.08.09

Hati ini,

Posted in Mellow side tagged at 5:51 pm by faraziyya

Aku mencintainya semampuku,
saat rasa ini ku tiupkan bersama angin, aku memang jadi bukan diriku.
Cinta buatku begitu
hati ini ku siapkan untuknya.
Hati ini ku pelihara untuknya.
Semampu cinta dalam hati ini mendorong doa agar menyelimutinya selalu adalah kebaikan dari Allah.
Aku menunggu,
hati ini bisa mendapatkan balasan halal dari Allah.

no reason,

Posted in Dariku,, Lepas, SimplyZiyy tagged , at 12:27 pm by faraziyya

bingung sebenarnya aku saat ini,

aku melihat aku masa lalu,

rasa-rasanya aku tiada pernah meniatkan diriku untuk menulis.

apalah aku dengan tulisan?

tiada niat menjadi penulis. berniat menulis pun sepertinya pernah belum terlintas hingga umurku 18 tahun.

menulis serius maksudku,

menulis yang dimaksudkan

menulis dengan tujuan,

namun sekarang, sepertinya aku ingin terbang.

terbang dengan tulisan hasil tanganku, hasil pikirku, hasil tujuanku.

dan jelas aku belum puas sama sekali,

karena kepuasan sejauh ini hanya untukku sendiri,

semoga aku bisa terbang dan menerbangkan harapan ini..

10.01.09

Maafkan ketidakpekaan ini. .

Posted in my Life tagged , at 2:42 am by faraziyya

Bahkan saat aku menulis ini, tanganku gemetar. Betapa. . betapa ingin rasanya merutuki kepekaan yang tiada hadir, bahkan saat seharusnya aku berduka, menangis, merasakan apa yang dunia dan indonesiaku rasakan.

Sore itu, aku ada di bilangan bintaro, mati listrik. Ya, belakangan ini Jakartaku mengalami pemadaman listrik bergilir, karena sebuah insiden yang mengguncang kestabilan pengelolaan listrik negara. Dan kemarin malam, melalui facebook dan status kawan-kawan yang melayangkan dukanya untuk saudara-saudara di Padang. Kabar itu, ketetapanNya untuk membiarkan kami merasai duka kembali, kali ini melalui saudara-saudara kami di Sumatera Barat. Dan aku terpekur, teringat nenek yang lama bermigrasi kesana dan menjadi penduduk di salah satu sudut tanah Sumatera. Semoga keluargaku disana dalam perlindunganMu selalu yaa Rabb. Aku mencoba menularkan informasi ini kepada orangtuaku yang juga baru saja pulang habis berobat. Sedikit, lega itu hampir karena bukan daerah nenek yang disenggol gempa, tapi tak usai, karena orangtuaku terus saja berhusnudzon dan belum memastikan keadaan keluarga disana. Disapa kantuk, akhirnya berita itu seperti lalu karena ternyata tubuhku lebih menginginkan beristirahat daripada kembali berpikir.

O1.22 pagi, 12 Syawal 1430 H. Aku terbangun, dan dalam kesempatanku berkhalwat dalam ibadah lail, doa untuk saudara-saudaraku di Padang tak juga terlampir. Ingatanku seperti dihapuskan atau memang aku tidak berminat untuk ikut-ikutan merasai duka itu? Astaghfirullahal’adzim. Inikah hilangnya kepekaan dari nuraniku? Hingga akhirnya aku menyiapkan sahurku dan kembali memutar kotak berkabel untuk menemaniku, aku masih merasa seperti hari-hari biasa.

Pagi tiba dan saluran-saluran di televisi gencar menginformasikan perkembangan pasca gempa bumi di Sumatera Barat dan menampilkan rekaman langsung gempa dan tangis para korban yang tiada berdaya, tangisku akhirnya menyapa disudut mata.

Astaghfirulllahal’adzim. Aku seperti tak bernurani.

Tiba-tiba dibenakku, ruangan itu semakin menyempit dan hanya menghadirkan diriku dan potongan-potongan duka yang telah menghampiri tanah airku. Masyaa Allah. Reruntuhan itu. . . jerit tangis itu. . mayat-mayat terdampar itu. . begitu nyata memenuhi ruang pikirku. Menghadirkan kenyataan-kenyataan yang belum siap ku hadapi, yaitu mati. Membayangkan diriku yang mengalami guncangan bumi itu, membayangkan jerit tangis itu hadir dari orang-orang yang paling ku sayang, membayangkan papan tempat ku biasa berteduh menjadi rata dengan tanah. . naudzubillah. . Rabb, kembalikan aku. . .

Ruangan itu kembali menyempit, masih begitu banyak yang beum aku tunaikan. . .masih banyak yang ingin ku hampiri dan ku raih. . masih begitu banyak yang ingin kuperbaiki dari jiwa dan raga ini. . setidaknya sebelum aku benar-benar menghampiriMu kelak.

Rabb, kembalikan aku. .

Rabb, kembalikan aku..

Rabb, kembalikan aku. .

Kembalikan aku pada nikmat bersyukur.

Kembalikan aku pada nikmat bersabar.

Kembalikan aku pada nikmat perjumpaan di jenak-jenak doa dalam tegaknya sholat.

Kembalikan aku pada nikmat bertaubat. .

Meski ku tahu, raung tangis yang ada. . jerit kepayahan meminta. . takkan menghalangi ketetapanMu juga takkan menyegerakan ketetapanMu.

Maka izinkan ku selalu meminta keadaan terbaik untuk ku berpulang.

Keadaan yang paling paripurna untukku berpulang.. .

Perlahan. . ruangan itu melebar, melepaskan himpitannya dari jiwaku yang menyesak. Perlahan.. potongan-potongan kenyataan bahwa tanahku Indonesia dan dunia biru ini hendak berganti wajah, mendominasi pikiranku. Mau Kau palingkan kemana wajah bumiku? Adakah Kau ingin perlihatkan bahwa kemenangan ataukah kekalahan atas kesombongan manusia akan meluruh diatas kekuasaanMu?

Di detik-detik ini, Engkau begitu Besar dengan segala daya yang tak sanggup dijangkau akal.

Di detik-detik ini, Engkau begitu Raja dengan segala titah yang tak sanggup disangkal oleh hambaMu yang manapun. .

Di detik-detik ini, Engkau begitu pengasih dengan segala bentuk nikmat dan rahmat yang dahulu. . yang terlebih dahulu Kau datangkan pada kami dan akhirnya membutakan kami dengan kesombongan kami sendiri.

Di detik-detik ini, Engkau begitu kaya dengan segala yang takkan pernah tersia meski hanya bentuk satu sekon saja.

Keselamatan atas muslimiiin dan muslimaat,

Keselamatan atas mukminiin dan mukminaat,

Keselamatan atas ’alim dan ’abid,

Keselamatan atas mubaligh dan da’i penyampai risalah Muhammad,

Keselamatan atas umat manusia dan peradabannya

Kami mohon dengan sangat. .

***saudaraku. .

Tiada yang kan sirna tanpa sebuah kesengajaan, maka kuatlah bertahan meski duka kini mengetuk kesedihan dan ketidakberdayaanmu.

Tiada yang kan utuh tanpa sebuah kesengajaan, maka ikhlaskanlah semua yang tiada lagi utuh dan ingatlah nikmat Tuhanmu.

Tiada yang kan pergi tanpa sebuah kesadaran, maka biarkan yang harus pergi dengan takdir dariNya karena sisiNya adalah sebaik-baik tempat kembali.

Meski tak kurasai tangismu,

Meski tak kurasai letih langkah kakimu yang jauh berlari mencari tempat dimana keamanan jadi sandaran,

Meski tak kurasai darah-darah itu mengalir dari tubuhku,

Meski tak kami rasai luka-luka psikologis yang kini menggelayuti jiwamu,

Meski semua itu tak bisa kami rasai sekarang,

Ketahuilah. . semua ini tetap kebaikan bagimu karena engkau didahulukan menyapaNya.

Karena engkau disegerakan untuk mencicipi surga atas kebaikan-kebaikanmu.

Karena engkau diselamatkan dari fitnah akhir dunia.

Karena engkau diselamatkan dari keniscayaan yang akan datang itu dan hanya menyisakan orang-orang yang tidak beriman untuk merasakannya.

Semoga dalam sisiNya, tempat terbaik dimana engkau kembali.

Bismillahirrahmanirrahim, 12 Syawal 1430H. Sehari setelah guncangan di tanah gadang. Aku, makhlukMu yang dhaif ini, hanya bersegera untuk bersyukur. Dengan mata apapun kami berusaha menerka rahasiaMu, maka yang lahir hanya kepayahan. Dengan mata apapun kami menyikapi duka yang menghampiri saudara kami, meski genangan tangis masih ada, maka yang harus kami yakini bahwasanya ketetapanMu. . . keputusanMu. . begitu dekat dan tiada terhambat. Dan semuanya kan terbayar, karena segalanya menyimpan pembalasan yang sepantasnya dariMu.

09.27.09

Teman, Aku ingin. .

Posted in my Life tagged , at 2:24 pm by faraziyya

bismillahirrahmanirrahim.

tergelak dan tergerus rindu, aku yang membaca notes dari Akh Salim yang berjudul,” pernah ada masa-masa. . ” menjadi begitu juga ingin berkata-kata. meluapi rasa agar sampai meski hanya lewat maya. karena selalu ukhuwah indah bila sesuai kadarnya, maka aku hendak mengutip sebuah rasa yang tertulis ini. selamat menikmati saudaraku . .

———————————-

Teman, Aku Ingin..

Teman tersayang,

Aku ingin kita seperti Abu Bakar ash-Shiddiq

Persahabatan dijalin kerana Al-Khaliq

Harta dikorbankan bukan sedikit

Cintakan kebenaran, sanggup bersakit

Serta tawakkal Ibrahim mulia

Ketika meninggalkan insan tercinta

Di bumi tandus tanpa bicara

Meyakini Allah sebagai Penjaga

Aku impikan antara kita seorang Umar

Berdiri tatkala tunduknya manusia

Bersuara tatkala diamnya mereka

Menggerunkan musuh durjana

Serta senyuman Sayyid Quthb

Ketika berhadapan dengan tali maut

Akidah mantap tidak terrenggut

Roh da’wahnya tidak surut

Aku ingin kita seteguh Ibnu Zubair

Menahan panahan Hajjaj dengan rela

Bersama si ibu tua

Lantas syahid, rohnya ke syurga

Marilah kita menyemai benih Hasan al-Banna

Fikrahnya jernih, menggegar dunia

Merelakan tubuhnya dimamah peluru

Demi menegakkan kalam Allah dan Rasul

Aku cintakan pemuda Ghiffari

Menentang kezaliman walaupun diancam

Moga kan lahir lagi di abad ini

Jiwa jitu pemuda yang tak pernah suram

Aku ingin kita sepemaaf Yusuf

Tetap mencintai saudaranya

Walau dihumban ke perigi tua

Terpisah dari ayahanda bertahun lamanya

Aku ingin pusara kita harum mewangi

Bagai harumnya pusara Masyitah

Semerbak kasturi

Aku ingin persahabatan indah ini

Bisa menjadi syafaat

Di Mahkamah Mahsyar nanti

[Tautan Hati, Fatimah Syarha M Nordin]

————————————————

mungkin ada dari beberapa kalian yang pernah membacanya. tapi sungguh, aku selalu luruh dalam harap saat menatap dan merasai tulisan ini. karena inilah cinta dalam ukhuwah itu berbahasa. dan dalam koridor kadarnya, semoga ukhuwah kita saling menyelamatkan. tak perlu melulu bertemu, kadang mengulum rindu lebih manis dari sebuah senyum dalam perjumpaan. karena dengan rindu itu, ada gelegak rasa yang kuat dan harap yang menunggu jawab. indah bila saatnya rindu itu berbalas lewat tatap namun tiap jeda penantian menjadi bumbu yang paling mantap karena dalam penantian itu senantiasa terisi doa-doa dan kepasrahan.

Dia. . Luthfi.

Posted in SimplyZiyy, my Life tagged at 1:47 pm by faraziyya

Bismillahirrahmanirrahim

Usianya baru lewat 10 tahun. Dia seorang anak kecil tampan bernama Luthfi (bukan nama sebenarnya). Dalam keluarganya, dia anak kedua dari 3 bersaudara. Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Thoriq dan seorang adik perempuan berusia 2 tahun bernama Hasna (juga bukan nama sebenarnya). Luthfi, sama seperti anak laki-laki lainnya, suka bermain dan juga mengenyam sekolah dasar saat ini. Yang agak berbeda dari dirinya adalah, sifatnya yang pengasih terhadao adik kecilnya. Memiliki seorang bunda berperawakan gemuk, pemarah dan juga pemalas, nampaknya adalah sesuatu yang berat yang dirasakannya saat ini. Mungkin karena pembawaannya yang rajin dan penurut, dialah objek yang paling enak untuk di suruh-suruh. Dia jarang melawan.

Di kesehariannya, seusai sekolah, sudah menjadi kewajibannya yaitu mencuci piring dan menjaga adiknya. Mungkin kalian akan merasa ini wajar-wajar saja, namun ada sesuatu yang mengganjal disini. Dia-lah (Ltuhfi) si rajin yang juga selalu dimarahi. Selain disuruh-suruh, ia selalu dituntut berperan ganda yang menggantikan tugas-tugas ibunya. Coba bayangkan, dialah yang menjaga adiknya, memandikannya, mengganti popok adiknya sementara ibunya yang pemalas hanya sibuk dengan urusannya sendiri yang tidak jauh dari urusan ibu-ibu, sibuk arisan, bergosip dan berlomba-lomba mempercantik dirinya.

Kakaknya, Thoriq? Thoriq bukanlah sosok yang rajin, sebaliknya Thoriq berwatak keras kepala dan pembangkang. Dia bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan yang dilakukan adiknya, Luthfi. Dia lebih sering berada diluar rumah dan sang ibu yang sudah tahu pembawaan Thoriq yang keras sehingga dia tidak lantas mendidik Thoriq membantunya.

Luthfi, dalam kesehariannya, sering dipanggil paksa saat dia asyik bermain. Dipanggil paksa untuk menenangkan adiknya yang menangis, untuk menjaga agar adiknya tertidur sementara sang ibu pergi dengan urusan yang dia bilang lebih penting.

Tapi aku tidak pernah melihat Luthfi mengeluh. Padahal adik kecilnya, Hasna, adalah anak yang cengeng. Melihatnya, aku bangga sekaligus prihatin. Anak sekecil itu belum mengerti dampak perlakuan dari sang ibunda. Anak sekecil itu tiada tahu bahwa ia dieksploitasi.

Tapi ia punya kasih sehingga tak lantas berontak.

Tapi ia punya derma sehingga tak lantas mengeluh.

——————————————————————————————–

Semua yang jadi pengalaman hidupnya, biarkanlah menjadi kekayaan akhlaqnya. Dan kedewasaan semoga cepat menghampirinya meski ia belum pantas secara umur. Kasih dan dermanya, semoga berbuah. Bentakan-bentakan yang mungkin sering menghampirinya, semoga selalu cepat tersapu layaknya debu yang disapu hujan. Karena aku tahu, ia begitu adanya dengan segala kerendahan yang ia punya. Karena aku tahu, ia akan jadi orang yang baik yang kata orang sedang sulit dicari. Karena aku tahu, dialah kekayaan sebenarnya yang dikabulkan dalam wujud seorang bocah laki-laki yang kan selalu tersenyum dan memeluk masa depannya dengan kesabaran.

*terhatur doa dan harapanku selalu, keponakanku.

09.22.09

Ketidakseberapaan

Posted in my Life tagged , , at 10:01 am by faraziyya

Yang segelintir manusia berkata bahwa cantik atau tampan itu relative, landasannya apa ya?

Benarkah mereka benar-benar tidak ingin membedakan manusia lewat anugrah kecantikan atau ketampanannya saja? Benarkah bisa tulus seperti itu?

Aku bukannya meragukan. Namun, terlalu banyak kenyataan yang ku lihat bahwa manusia benar-benar menjadikan cantik atau tampan (yang katanya relatif itu) sebagai sebuah bahan pertimbangan. Naasnya jadi seseorang yang menurut standar manusia umunya agak berbeda, semisal tidak putih, tidak mancung, tidak berlesung, tidak berbolamata bulat atau apalah.

Relatif? Benarkah?

Dasar manusia. Benarkah terlalu rapuh hanya karena pengaruh sedap atau tidaknya dipandang mata? Astaghfirullah. Jangan-jangan aku pernah demikian.

Entahlah. Aku hanya bingung. Tersinggung mungkin. Karena melihat diluar sana ada yang tidak mau mengakui sahabatnya hanya karena tampilan luar sahabatnya yang tidak seberapa menarik (tidak menarik mungkin) dibandingkan dengan tampilan jasadiahnya yang memang menarik dan cantik.

*menghela napas dalam* Duh manusia, inikah rupamu yang asli?

Aku jadi melihat aku lagi. . Aku tak punya kecantikan. Atau aku punya tapi tak ada apa-apanya.

Bukannya aku sombong dengan tidak mengatakan bahwa aku jelek. Tapi, jika ku katakan diriku jelek, bukankah aku menyindir hasil karya Rabbku?

Aku tak punya kekayaan. Atau aku punya tapi tak seberapa.

Aku tak punya kecerdasan cemerlang. Atau aku punya tapi tak secemerlang orang-orang cerdas diluar sana.

Jika aku melihat itu dengan mengambil pembenaran yang negatif. Itu hanya membuatku mati.

Jika aku melihat itu dan melihat saudari-saudari dengan kelimpahan nikmat yang berbeda-beda, bagaimana aku bisa bertahan? Aku bisa tenggelam. Sendiri. Dalam keterpurukan yang aku ciptakan sendiri tanpa sadar.

Ketidakseberapaan yang ku punya itu, haruskah aku sesali? Lantas apa yang aku punya kalau begitu?

Ketidakseberapaan yang ku punya itu, haruskah semakin membuatku tak berdaya? Lantas apa yang aku bisa harapkan kalau begitu?

Meski terkadang merasa aman menjadikan ketidakseberapaan itu sebagai alasan, tapi itu tak akan lama bertahan.

Aku mengikuti orang-orang. Hidup itu terus berputar. Ada masa kejayaannya masing-masing. Termasuk aku yang punya banyak ketidakseberapaan. Dan pada saatnya, ketidakseberapaan itu rasanya harus aku simpan. Di gudang yang paling gelap mungkin.

Karena aku ingat, Dia memandang kita dari ketakwaan.

Lantas, buat apa aku menyerah? Ya. Ketidakseberapaan itu tidak boleh buatku kalah.

Aku ingat sekali dengan para sahabat yang dikaruniai shibghahNya yang indah-indah dan beraneka. Aku jadi iri dan berharap bisa menghadapNya dengan shibghahNya yang Dia hadiahi padaku.

Betapa ketika menghadapNya, akan lebih indah jika kita terlihat istimewa dengan keutamaan-keutamaan yang berbeda-beda. Betapa ketika menghadapNya, aku tak perlu minder karena ketidakseberapaanku. Dan untuk itu. Aku akan mengusahakannya dengan caraku.

2 Syawal 1430H

09.21.09

Pengagumnya,

Posted in Poetry tagged at 10:41 am by faraziyya

Aku merengkuh ingatan tentangnya
atas ikatan persahabatan. .

Aku mengikat kenangan bersamanya
sebagai seorang pengagum. .

Dia yang hadirkan mula buatku,

Dia yang sebenarnya jauh,

dan aku. . .sebenarnya. . .

hanya menggenggam separuh. .

karena tiada sambutan berarti darinya,

dia hanya anggapku sama. .

Tak apa. .

Toh, kehadirannya sesaat dalam hidupku
adalah cukup,

cukup merenggut sebagian ruang dihatiku. .

09.05.09

Eksklusif, tak disangkal namun dengarlah dahulu,,

Posted in Lepas tagged at 2:34 am by faraziyya

Bismillahirrahmanirrahim

Eksklusif itu melekat pada segolongan orang-orang yang eksistensinya jatuh pada ruang lingkup dakwah dan aktivitas syiar. Eksklusif itu tercermin dari sebagian yang menggunakan busana muslim khas, dengan jilbab lebarnya atau dengan janggut yang dipelihara.

Eksklusif itu hadir saat mereka jarang berkomunikasi dengan orang-orang pada umumnya, berjilbab atau tidak, terkecuali yang mereka kenali sebagai jama’ah.

Eksklusif itu hadir saat mereka menundukkan pandangan berinteraksi dengan lawan jenis dalam jama’ahnya namun tidak terlalu risau untuk tidak menundukkan pandangan saat lawan jenis tersebut dari golongan umum atau yang beragama non-Islam.

Eksklusif itu hadir saat perbincangan mereka tak lagi melibatkan orang umum yang mereka anggap awam. Eksklusif juga hadir saat mereka hanya mau bekerjasama dengan jama’ah mereka.

Eksklusif itu amat terasa ketika secara tidak langsung mereka menanggapi orang awam (bagi mereka) dengan cara yang berbeda. Atau istilahnya, ada standar ganda. Dan biasanya, Sang awam akan begitu kecewa mengetahui banyaknya perlakuan yang dikhususkan untuk mereka.

Itu sekelumit eksklusif dari sisi orang umumnya. Yang mengerti keberadaan orang-orang dengan kriteria di atas. Yang kadang merasa terminorkan karena kebanyakan orang-orang eksklusif itu melaksanakan separuh detak kegiatan di kampus atau di lingkungan sekitar mereka.

Nah, bagaimana dari sisi sang eksklusif?

Kami tidak eksklusif. Adapun kami menjadi segolongan manusia dengan tampilan yang mirip dan bisa dihomogenkan, itu semata karena kami satu pikiran. Karena kami satu keyakinan. Adakah itu salah, jika si A mengganggap berjilbab lebar adalah anjuran yang sebenarnya tersirat dari Al-Ahzab:59, layaknya si B yang menganggap berjilbab lebar adalah yang syar’i sesuai dengan ilmu-ilmu dan syariah yang dia tekuni.

Kami tidak eksklusif. Adapun kami merasa nyaman dengan segolongan manusia tertentu karena ada keterpautan hati satu sama lain. Karena ada sebuah tujuan yang sama. Karena keyakinan bahwa kami harus berjamaah, sebagaimana kehati-hatian yang ditanamkan oleh Sang Khalik adalah bahwa serigala mengincar domba yang sendirian. Lantas dengan perumpamaan itu, segolongan orang yang dihomogenkan oleh manusia pada umumnya lantas menjadi satu dan berhulu dalam sebuah struktural baik non struktural dengan ikatan yang kasat tapi biasa disebut dengan ukhuwah islamiyah.

Kami tidak eksklusif. Jika kami memperlakukan oorang lain berbeda halnya dengan kami berlaku terhadap sesama jama’ah, itu adalah sebuah konsekuensi, karena kami memperlakukan orang lain sesuai dengan kapasitas standar lingkungan tempat kami dan orang tersebut berada. Juga sesuai dengan pengetahuan yang melingkup interaksi kami. Jika kami menundukkan pandangan terhadap ikhwan (sebutan laki-laki), semata karena kami mengetahui bahwa ikhwan tersebut juga mengetahui bahwa menundukkan pandangan adalah anjuran yang diberikan Allah langsung dalam kitabNya. Jika kami belum menundukkan pandangan terhadap lawan jenis yang bukan ikhwan menurut kami, itu semata karena faktor fleksibilitas. Kami menyesuaikan diri. Tak bisa dengan sama kami menegaskan sesuatu karena tiap-tiap manusia berbeda dan berhak mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan kapasitas ia berada. Agar terjadi sinkronisasi dan interaksi terjalin dengan penerimaan dari keduabelah pihak.

Kami tidak eksklusif. Jika kami tersalah dalam memperlakukan orang-orang pada umumnya. Itu semata kekhilafan personal yang sama sekali tidak diniatkan.

Astaghfirullahal’adzim.

Kami menyadari banyak hati-hati yang kecewa diluar sana. Baik karena tampilan kami atau pembawaan kami.

Tapi ketahuilah, bukan kami yang menyetting bahwa diri kami eksklusif. Cap itu datang dari penilaian orang lain. Kami tak menganggap ada yang patut disombongkan dari kami. Kami tidak memberlakukan standar bahwa kami lebih dari yang lain. Sungguh tidak.

Orang lain yang banyak menyetting mindset pikirannya sehingga dengan prasangka dari seseorang bahwa kami eksklusif maka secara otomatis perilaku kami dinilai eksklusif. Harusnya orang eksklusif itu seperti ini, seperti itu. Itu yang biasanya orang lain tuntut. Jika sang eksklusif tadi bersalah dalam berkomunikasi atau kekhilafan manusiawi, lantas orang lain akan memperpanjang kekhilafan tersebut dan tidak menerima kami sebagai manusia. Melainkan sebagai eksklusif yang seharusnya begini, begitu.

Banyak hati-hati yang kecewa. Kami tahu hal itu. Meski tak pernah kami niatkan demikian.

Janganlah nila merusak susu sebelanga. Karena sungguh tiap-tiap orang menanggung apa yang diperbuatnya sendiri-sendiri, masing-masing.

Memang pengharapan atau status eksklusif itu demikian besar positifnya sehingga kadang menyampingkan realita bahwa tergelincir dalam kamu kehidupan adalan sebuah keniscayaan.

Jika memang ada yang tersalah, tegurlah.

Jika memang ada yang tersalah, ungkapkanlah.

Jika memang ada yang tersalah, rangkullah.

Bukan dijauhi. Bukan dimaki dari belakang. Bukan diungkit-ungkit di kesudahan.

Melainkan diperbaiki. Bersama. Baik eksklusif atau tidak. Harusnya ada penggeneralan bahwa kita semua adalah manusia. Yang setiap kita mengerti apa-apa yang bisa tercela dari seorang manusia. Setiap kita adalah cermin. Jika kita mungkin berbohong, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa terjebak dalam kebohongan.

Jika kita bermuka masam, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa bermuka masam atas sebuah ketidaksesuaian.

Jika kita menangis, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif mampu berbanjir airmata.

Menyengaja Dia membuat kita tidak sempurna. Karena tiada patut kita merasa sebagian sempurna atas sebagian yang lain.

Bukan saudaraku, aku bukan ingin membela diri. Ketahuilah bahwa mungkin saja ini yang dirasakan sang eksklusif sebagai manusia. Allahua’lam.

15 Ramadhan telah lewat

Posted in Ramadhan tagged at 12:39 am by faraziyya

Semalam saat aku menyiapkan diri hendak berangkat pulang ke rumah, aku tak sengaja menatap langit. Bulan di atas sana purnama sekali. Terang sekali. Menyala tapi bukan merah. Silau tapi bukan putih. Purnama sempurna.

Bulan sudah ada ditengah periodenya. Ramadhan sudah lewat limabelas hari. Cepat sekali ya, tamu agung Allah itu sudah menetap di hari-hari kita. Cepat sekali. .

Sekarang coba kau tanya diri. Inikah 15 Ramadhan yang ku lewati? Bermaknakah? Sudah sebanyak apa mutiara yang ku ambil? Sudah sebanyak apa ibadah ku sembahkan padaNya? Sudah sebanyak apa tilawahku? Sudah bertadabburkah aku? Sudah maksimalkah infaqku? Sudahkah? Sudahkah?

09.02.09

Separuh menunggu purnama

Posted in Poetry tagged at 1:58 pm by faraziyya

Dan separuh hatiku benar-benar tertinggal disana,
di sudut labirin tempatku pernah berdiri tegak dan terduduk lelah bersama dengan rasa yang dijuangkan bersama

Dan separuh hatiku dengan keping kenangannya terserak di sudut ruang itu,
Tempat pernah kita bersatu dalam ajang diskusi panjang nan melelahkan pikiran. .

Dan sebongkah asa tertinggal disana,
tak rela tinggalkan dirimu dan kenangan bersama. .
Sementara patahan asa yang lain,
menunggumu nun jauh di belahan bumiNya yang lain.
Menunggu tulus untuk terus mendamba,

Ya. Menunggu ini jadikan ku durja.
Aku seolah tak indahkan diriku dan apa yang melekat atasku.
Tak apa. Aku hanya berusaha jujur.
Setidaknya pada diriku dan pada angin yang membawa kabar ini kepadamu.

Next page