[Movie Review] Tausiyah Cinta

Official_Poster_Film_Tausiyah_Cinta

Sutradara | Humar Hadi
Penulis Skenario | Umank Ady, Yuli Retno Winarsih, Maryah El Qibthiyah, Nadia Silvarani
Produser |Azwar Armando, Suwandi Basyir
Pemain | Rendy Herpy, Hamas Syahid, Ressa Rere, Irwansyah, Peggy Melati Sukma, Medya Safira, Igo Ilham, Rafi Cinoun, Ust. Hilman Rosyid


Tausiyah Cinta sebenarnya bukan judul film yang asing buat saya. Beberapa kali informasi tentang film tersebut berkeliaran di dinding feed saat saya membuka akun facebook yang saya miliki. Jadi ketika ditawari menonton film ini, saya langsung menganggukkan kepala. Selain karena rasa penasaran saya akan film yang dedikasi untuk berdakwah kepada masyarakat muslim Indonesia secara luas, ada nama Hamas Syahid Izzuddin. #ehem #fangirlingdetected Malu1

 

Tentang Tausiyah Cinta,

Film ini dimulai dengan adegan pertengkaran antara Levan (Rendy Herpy) dengan kakak perempuannya, Elfa, yang seorang Da’iah. Levan mendebat sang kakak yang ia rasa tidak bersikap adil akan waktunya. Bagaimana kakak Levan meminta waktu Levan untuk keluarga namun dia sendiri sibuk berdakwah hingga hampir abai untuk menyeimbangkan kewajibannya terhadap keluarganya. Lalu film ini bergerak sedikit dipercepat ke kondisi di mana Elfa, mengalami emergency dan perlu segera dibawa ke rumah sakit.

Di fragmen lain, ada Rein (Ressa Rere). Seorang muslimah yang membuat jealous muslimah lain karena perangai baiknya dan prestasi yang diukirnya. Rein nantinya akan bersinggungan dengan Levan berkat proposal inovasinya yang membuat Rein, Levan dan Azka (Hamas Syahid) berada dalam satu proyek kerja. *sebelum saya beranjak menceritakan Azka, ada baiknya saya beritahukan bahwa akan ada love interest antara Rein dan Levan. Fufufu

 

Yang tak bisa luput dari film ini, adalah karakter Azka yang diperankan oleh Hamas Syahid Izzuddin. Azka adalah pemuda teduh penghafal qur’an sekaligus seorang arsitek yang hidupnya cemerlang. Bukan dalam artian materi namun dalam artian kekayaan hidup. Namun dalam plot cerita nanti, ujian dari Allah akan mendatanginya dan menguji rasa bersyukurnya kepada Allah yang telah lama terpelihara baik dalam hati dan keyakinannya.

Dari tiga karakter dan sekilas kehidupan mereka masing-masing yang mengisi 99 menit durasi film ini lah, Tausiyah Cinta disyiarkan.

Tausiyah Cinta, menurut saya..

Adalah sebuah film yang terbit dengan niat yang sangat baik. Yang perlu diperjuangkan untuk bisa ditonton masyarakat muslim secara luas. Banyak sekali hikmah yang berserak di film ini. Didukung dengan cast yang memang bukan hanya memerankan karakter muslim taat yang cinta AlQur’an melainkan karakter tersebut adalah representasi diri mereka dalam kehidupan kesehariannya, berhasil membuat film ini terasa sekali atmosfer ketakwaannya. Membuat penonton berdzikr, mengingat Allah dan nikmatNya.

Ada yang berusaha mencari kembali cintanya padaNya, ada yang berusaha mengerti cara cintaNya bekerja dan ada yang menyegerakan diri menjemput ikatan sakral untuk memperdalam cinta kepadaNya. –my thoughts on watching Tausiyah Cinta.

Even some of the parts touched me in my deepest side of consciousness with it similar line of story of mine. Istilah kata lain, ada beberapa cerita dari salah satu karakter yang kayaknya tuh ‘gw banget’. Oia, tentang Hamas Izzuddin juga, ternyata saya bukanlah apa-apa. Gadis-gadis di sebelah saya kerap kali berkata, ‘Ademnya..” tiap kali ada scene Azka di awal film diputar. Saya cuma bisa mesem-mesem karena ingat salah satu motif saya menonton film ini juga untuk melihat dia #astaghfirullahal’adzim Sign

 

Cuma ada satu yang saya kurang sreg, bukan karena sedikit terasanya kecanggungan akting karena memang mereka bukan berprofesi sebagai aktor. That is still acceptable karena kisah dalam film Tausiyah Cinta ini kuat banget. Tapi yang bikin saya agak ngga sreg itu pengambilan gambar yang masih banyak close shot kayak sinetron-sinetron jaman sekarang. Tapi itu cuma selera sih kayaknyaHmm.

 

To wrap this up,  Tausiyah Cinta mesti banget ditonton. Kisahnya yang reflektif bahkan mengajak kita banyak-banyak mengingat Allah dan mengajak mencintai Al-Qur’an yang merupakan kitab cinta dan pedoman sesungguhnya bagi umat muslim. Siapa sangka menonton bias jadi salah satu bentuk dzikrullah??

Selamat menonton! 😉

Edisi dibuang sayang a.k.a quotable lines: 

Berhenti menjadi baik itu berarti berhenti bersyukur..
Saat kita jemu dengan manusia, mungkin Allah sedang membukakan pintu kemesraanNya..
Semua orang bisa down, tapi cara bangkitnya beda. Pakai kecintaanmu padaNya untuk bangkit dan kembali. 
Kalau merasa hidup harus sempurna, akan timbul banyak penyakit hati.
Karena tampan itu berdurasi. Hanya yang mencintai Al-Qur'an lah yang menyejukkan hati.
Advertisements

11 thoughts on “[Movie Review] Tausiyah Cinta

    1. Dari kisahnya sih aku suka ka, meski klo dari akting ya beda krn mrka kan bisa dibilang cast yg masih pemula.
      Yg aku suka sih karena kisahnya relatable dan kondisi lingkungan yg sarat dengan kecintaan pada AlQur’an dapet banget.
      In short, bikin eling. Hehhe x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s