[Movie Review] Two Days One Night

Sandra (Cotillard) has just been released from the hospital to find that she no longer has a job. According to management, the only way Sandra can hope to regain her position at the factory is to convince her co-workers to sacrifice their much-needed yearly bonuses. Now, over the course of one weekend, Sandra must confront each co-worker individually in order to win a majority of their votes before time runs out.


Seminggu jelang Oscar 2015, saya buru-buru menuntaskan PR nonton. Yang berhasil ditonton dan merupakan nominasi Oscar, salah satunya adalah film ini. Film yang… moving… thought-provoking… digging empathy.

Sandra baru saja kembali dari rumah sakit (ia mengalami mental breakdown –prediksi saya karena yang terlihat jelas saat menonton film ini adalah ia depresi dan memiliki anxiety issue) dan menemukan fakta bahwa dia tidak bisa kembali bekerja. Home-industry yang memproduksi panel surya tempat Sandra bekerja mengevalusi kinerja mereka saat Sandra tiada dan berkesimpulan bahwa ketiadaan Sandra malah mengefektifkan jam kerja karyawan. Pimpinan mereka, Mr.Dumont lantas memberikan dua pilihan: mempekerjakan Sandra kembali atau memberhentikannya dan karyawan lain akan mendapatkan bonus tahunan sejumlah 1000 Euro.

Ditemani Juliette, rekan kerjanya, Sandra meyakinkan Mr.Dumont untuk mengadakan voting kembali. Setelah usulan tersebut diterima Mr.Dumont, Sandra hanya memiliki sisa akhir pekan untuk mendatangi rekan kerjanya satu per satu dan meyakinkan mereka bahwa ia siap bekerja kembali ditengah mereka meski itu artinya mereka harus merelakan bonus tahunan yang jumlahnya sangat menggiurkan tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, apakah rekan-rekannya rela melepaskan peluang bonus 1000 Euro dan menerima Sandra yang baru saja pulih dari mental breakdown?


Benar apa yang dikatakan Mba Sinta Yudisia dalam novel terakhirnya, Bulan Nararya:

Sakit fisik apapun bentuknya, masih dapat ditoleransi. Sakit mental, meski dapat kembali seperti sediakala, bagai residivis yang tak mendapatkan grasi..

Bila luka luar yang mongering harus demikian diperlakukan berhati-hati agar tak mengalami benturan dan sobek di tempat yang sama, bagaimana luka hati penyandang gangguan mental yang kembali ke tengah keluarga? Bukan saja dibenturkan, luka hatinya seringkali disentuh berulang, dikoyak, dibuka lagi dan lagi.

..Mataku basah. Orang-orang dengan hati bersih dan rapuh ini akan senantiasa membutuhkan dorongan ke arah kebaikan. Bila teman perjalanan tak memahami, saraf mereka semakin rapuh, retak, dan hancur sama sekali.

Kalimat-kalimat tersebut yang tiba-tiba teringat kala saya menonton film ini. How hard it must be for Sandra. Lalu melihatnya sepanjang film itu dengan emosi yang naik dan turun, berkali-kali menangis merasa tak mampu menanggung kenyataan yang mesti dihadapinya. Melawan bagian tergelap dari hati dan pikirannya sendiri.

Really, berkali-kali juga mata saya panas dan dada rasanya sesak. I really want to support her all the way through, but she must already facing the battle itself in her mind. Melawan dirinya yang rapuh saja sudah membuatnya kepayahan secara emosi, dan ia ingin (sungguh ingin) tidak terlihat rapuh bagi kedua anaknya –yang hebatnya di film tersebut, kedua anak Sandra ini paham bahwa ibunya sakit. Dan suami Sandra, untungnya, bersedia untuk terus mendampingi Sandra dan berulang-ulang meyakinkan Sandra bahwa ia –mereka- bisa kembali menjalani kehidupan yang normal.

Hal lain, yang tentunya akan terasa sekali saat menonton film ini adalah sorotan terhadap humanisme yang dimiliki rekan-rekan kerja Sandra. Ada yang dengan selfish-nya merasa berhak atas bonus 1000 Euro tersebut dan sama sekali tidak peduli dengan apa yang berusaha dilakukan Sandra. Ada yang bersimpati namun tak bisa berbuat banyak karena bonus tersebut, selain menggiurkan, juga adalah sebuah solusi untuk masalah finansial keluarga mereka. Ada yang terluka, antara ia ingin mendukung Sandra namun dirinya hanya pekerja kontrak yang paling potensial menjadi target pemutusan kerja berikutnya. Namun tetap ada yang seperti Juliette dan Robert, dengan selfless-nya berjanji memberikan vote untuk Sandra.

Sederhana, dua hari satu malam. Tapi bagi Sandra, dua hari satu malam ini adalah momen untuk membuktikan bahwa ia bisa membunuh anxiety issue yang bercokol di pikiran dan hatinya sekaligus berusaha kembali menjadi kehidupan dengan harapan.

Film ini, menyentil. Bravo, Dardennes! Membuat saya mencoba melihat kembali sisi humanis yang saya miliki. Meski tak bisa menjanjikan kepedulian yang prima bila dihadapkan dengan situasi semisal dengan film ini, setidaknya saya tahu bahwa saya akan mendorong diri ini menjadi seseorang yang supportive dan helpful.

Advertisements

9 thoughts on “[Movie Review] Two Days One Night

  1. Marion ini simple tp cantik ya, selalu suka sama dia.
    Penasaran pengen nonton, mestinya sih gak terlalu parah2 amat kl dia gak kerja, kan ada ditanggung pemerintah kl gak kerja 🙂 tp ada sisi mata koin lainnya yg jd tema yah…

    1. Dia mw nyerah mba. Mau balik ke social housing kalo emang ngga lagi kerja dan mesti give up rumahnya.
      Iya, mata koin lainnya itu inner battle dan reaksi rekan-rekan kerjanya saat dia datengin satu-satu untuk nego.

  2. Gara

    Banyak pelajaran yang didapat ya Mbak di film ini. Saya jadi penasaran menontonnya :hehe. Setuju dengan beberapa komentar di atas, hanya dengan membaca ini saya juga bisa merasa bahwa film ini layak dinominasikan dalam Academy Awards :)).
    Ayo cari donlotannya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s