Fortitude yang Fiktif

Situs Project-free Tv sudah jadi langganan saya untuk mengunduh serial tv luar yang sedang saya ikuti. Kebetulan, saat mampir ke sana beberapa hari yang lalu, saya menemukan serial yang baru-baru ini terbit. Ya, judulnya Fortitude.

Yang memikat saya untuk mencoba menonton serial ini adalah poster ukuran thumbnail yang menyertai info (terlihat di kanan): Aurora Borealis. Berharap dari serial ini saya bisa ‘nonton’ Aurora Borealis yang cantik. And guess what? Saya suka latar tempat di serial ini.

So, Fortitude adalah sebuah kota kecil/komunitas yang terletak di ujung utara dunia (north part of Norway, it says) dan dihuni oleh sekitar 700an penduduk dari beragam kebangsaan. Disinyalir, Fortitude menggambarkan teritorial Norwegia yang bernama Svalbard meski aslinya, pengambilan gambar tv series ini dilakukan di Iceland dan UK.

“In Fortitude, there’s two fundamental rules. You have to have a roof over your head, and you have to be able to provide for yourself, so it follows. Everyone’s got a job. No one’s poor, so there’s no stealing, and there’s no crime. Everybody’s always happy.”

Kota kecil ini dikepalai oleh Gubernur yang ditunjuk dari mainland. Kota kecil yang mengalami midnight sun dan polar night ini, adalah kota yang sunyi dari kriminal. The safest place on Earth, says Hildur the governor.

Well, it is safe. Because, there’s no need for people to steal. No one’s poor. Everyone’s got a job and with its limited population, they knew each other and share an understanding to ‘look out for the wind chimes’.

How does it sounds?

I think it’s interesting. Meski bagian sebagian orang, tempat seperti itu ngga ada tantangannya. Yah, memang ngga ada tantangan (yang tampak) di inter-personal, tapi ‘bertarung’ dengan alam tempatΒ  mereka tinggal itu cukup menantang. Misal, tentang jumlah beruang kutub yang hidup di sana jauh melebihi jumlah manusia (ada 3000an populasi beruang) sehingga untuk keluar rumah yang agak jauh gitu setiap orang mesti bawa senapan laras panjang (rifle?). They’re fighting the cold, frostbite, and polar bears!

Saya jadi inget dengan buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner. Well, memang bukan Norway yang diulas di buku itu melainkan Iceland. Tapi, melihat bahwa mereka bertetangga, topografi dan antropologinya memiliki kemiripan. Termasuk tentang bagaimana mereka menghadapi kehidupan sehari-hari yang ‘rapuh’ (see, mereka berada di belahan bumi yang cuacanya paling tidak bersahabat dan dikelilingi glacier yang belakangan terancam pemanasan global).

“Tidak seperti New York atau Shanghai, Reykjavik tidak memiliki tanda-tanda keagungan. Kota itu tahu tempatnya di alam semesta, tahu bahwa dirinya adalah tempat tak penting, dan nyaman dengan keadaan itu. Orang Islandia melestarikan cara hidup itu. Itu membuat mereka selalu hati-hati, menyalakan imajinasi mereka. Yang terpenting, hal itu mengingatkan mereka akan rapuhnya hidup. Kota-kota besar meyakini keabadian, berangan bahwa entah dengan cara bagaimana ukuran mereka, penaklukan mereka pada alam, akan menghindarkan kematian. Di Islandia, tempat di mana alam selalu menjadi penentu, keabadian benar-benar tampak lucu hingga tak ada yang menganggapnya serius.”

(halaman 246, The Geography of Bliss – Eric Weiner)

Tidak ada kemewahan, sehingga kesenjangan tidak mencolok apalagi memicu kecemburuan sosial (di sana, yang menjadi pejabat bisa jadi tetangga kita). Bahwa mereka selalu sukses untuk tidak bersedih menghadapi dark months -terlihat mengherankan untuk kita yang hanya bisa mendengar dan menontonnya.

Charlie: "Just come out of the dark months, the winter dark.
         People are out and about again. Bears, too."

Vincent: "Does it not really mess with your body clock, your 
         mood, and things? Do people suffer from depression?"

Charlie: "The opposite, elation. They say gleoi."

Vincent: "Gleoi."

Charlie: "Gleoi."

*about gleoi, I can’t find the meaning of that words but let’s just move to the word before it, elation, which means great happiness and exhilaration. So, maybe gleoi meant to express a delighted feeling (?)

Hm… why did I even talk about Fortitude?

You know, I’m in this kind of situation where I watched something and wished to somehow be in that place where it’s settled. Thought it must be a nice place to live. Can’t I just disappear, poof and be there? Although that place may turned out to be what it’s exactly has been described or just the opposite. I won’t know until I went there and live it.

*If you’re interested with the Tv series, here’s the trailer. Fortitude is (actually) a psychological thriller -with the additions of polar bear and Aurora Borealis, of course. πŸ˜‰

Advertisements

10 thoughts on “Fortitude yang Fiktif

  1. Waaah suamiku gak boleh dikasih tau serial ini pasti diikutin habis doi passionnya ngejar aurora boeralis, sampai lagi menabung untuk ke Alaska buat liat itu hahahahaa….
    Ngebayanginnya aja udah kedinginan.

    1. hahhaha,
      justru dikasih tau dong, mba mikan. biar bisa ngintip aurora borealis-nya πŸ˜›
      iyaa, cuma nonton aja udah ketularan dinginnya *secara yang ditonton itu hamparan salju ngga berkesudahan -.-“

      1. Aku takut dia makin terobsesi Ziyy hahaha…saljunya gak dingin Ziyy tapi anginya ituuu lhoooo seperti ngiris kulit sampai masuk ke tulang. Makanya jaket2 pada naik sampai ke muka coveragenya. Apalagi klo suhu naik dikit trus drop lagi..waah es di mana2 makin brrrrr…..

  2. Kalau tak salah: ‘delight’ (gleoi), tapi dengan sense yang semi-transenden kira-kira begirulah.
    Oya Ziyyah tahu serial LA Law kah? (dulu diputar di RCTI masa awal)
    Saya cari tempat yang bisa unduh belum ketemu. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s