Catatan Akhir Pekan: Obrolan Dalam Mobil

Dalam perjalanan Jakarta – Sumedang – Jakarta, penghuni mobil termuda adalah aku. Ada ayahku, tanteku (selanjutnya aku panggil Bu Am), suami tanteku (selanjutnya aku panggil Baba), dan cucu tertua dari tanteku (selanjutnya aku panggil Ka Robi).

Aku kadang bisa sangat terkagum-kagum dengan hubungan kakak-adik yang masih erat hingga usia tua yang terjalin antara ayahku dengan Bu Am. Bisa dikatakan, Bu Am ini merluin banget. Ia yang mau ke sana ke mari mendampingi ayahku berobat. Yang kalau memasak, suka membawakan masakan ikan untuk dimakan ayahku. Pokoknya, menjadi pendukung ayahku. Tapi aku rasa itu memang tabiatnya, karena di luar juga ia suka menolong. Siapapun.

Berhubung hubungan kakak-adik mereka menua seiring usia mereka, banyak hal yang mereka alami bersama. Sulit maupun senang. Apalagi belasan tahun ini, rumah tinggal kami berdampingan. Pastinya, sudah banyak cerita yang terjadi beririsan di antara tahun-tahun mereka menghadapi kehidupan. Cerita-cerita itu, adalah satu topik besar yang menjadi obrolan di dalam mobil sepanjang perjalanan ke dan dari Sumedang.

Sebenarnya, ayahku ini memang sangat suka menceritakan jalan hidup yang dialami. Sebisa mungkin dalam keadaan apapun. Dan yah, sebagai anak yang introvert dan suka tak tahan terhadap orang yang banyak omong, aku suka abai terhadap ceritanya. Tapi karena ia sering mengulang beberapa cerita, aku sudah hapal pada cerita yang saat dalam mobil ini ia ceritakan. Tapi tidak sama halnya dengan beberapa cerita dari jalan hidup Bu Am, kakak perempuan ayahku itu.

Siapa sangka ia termasuk ‘rakyat jelata’ yang kenal baik dengan keluarga Pak Habibie. Aku mengangguk-angguk sendiri ia yang bercerita bahwa Pak Habibie dan Bu Ainun itu membumi sekali. Tak peduli ia menteri, saat itu, ia mau makan bersama Bu Am. Bahkan melakukan perjalanan bersama dalam satu mobil bersama Bu Am. Kakak perempuan ayahku itu, kenal betul anggota keluarga Pak Habibie, dan keluarga kakaknya Pak Habibie. Hingga tabiat mereka. Yah, meski Bu Am ini bukan siapa-siapa. Saat itu mungkin, hanya karena mereka bertetangga. Dan keluarga Pak Habibie adalah satu dari sekian keluarga yang beririsan dengan kehidupan keluarga besar Sengko dan menolong mereka.

Haha. Aku ngga ada maksud nyombong. Buat apa? Toh bukan aku yang sempat dekat hari-harinya dengan keluarga Pak Habibie. Tapi ya pas mendengar beberapa penggal cerita dari Bu Am, terbersit envy. Asik ya Bu Am pernah berinteraksi (untuk beberapa lama) dan  menjadi saksi briliannya dan sederhananya kehidupan Pak Habibie dan Bu Ainun yang kisahnya  dibukukan menguarkan haru biru itu.

Selebihnya, obrolan dalam mobil yang memang didominasi oleh mereka itu, ya tentang hidup mereka dan beberapa cerita spesifik yang membawa nama seseorang (eh, beberapa orang). Kadang juga mereka membahas berita terkini. Dari cerita mereka, yang topiknya tentang kehidupan bermasyarakat di lingkungan kami tinggal, membikinku sadar kalau memang kadang cerita di kehidupan nyata seseram sinetron. Bisa ‘woh’ banget. Banyak intrik. Drama. Manipulasi.

Eh iya, sepanjang mereka asyik mengobrol dalam mobil, Ziy ngapain? Hahaha. Emang kalian mau tau saya ngapain lagi selain khusyuk nyimak mereka? *padahal ngelempar pertanyaan sendiri* Hehehe. Hmm.. kadang ya tidur. Saat berhenti, aku nulis jurnal *ciee*. Tapi yang paling penting dari itu semua, aku  berhasil membuktikan bahwa membaca di dalam mobil saat  mobil bergerak itu engga sureal amat. Beneran? Iya. Jadi tuh, saat pulang menuju Jakarta, aku duduk di bagian paling belakang. Berbagi dengan barang-barang yang disesakkan dalam kapasitas duduk dua orang. Pembuktiannya ternyata gampang aja. Aku memiringkan bangku duduk sebesar (kurang lebih) 30 derajat. Terus, aku  sampirkan boneka ulat nan panjang di leher  yang membantu membuatku nyaman bersandar. Dan dengan bantal tebal nan empuk di pangkuan, aku buka buku dengan posisi berdiri. Doooh, pewe banget. Aku menamatkan bukunya mba Des (yang berjudul Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku) dan terharu-haru ya di jok paling belakang itu siang tadi. Bahkan bisa lanjut ke buku baru, menghabiskan 30 halaman lebih sebelum akhirnya sadar bahwa mobil kami sudah keluar jalur tol.

Eh, itu bukan bagian penting sih. Tapi emang pengen  dipamerin di tulisan ini. Hahahaha.

Balik lagi ke judul, obrolan dalam mobil. Menurutku, momen mengobrol dalam mobil itu bisa masuk momen keluarga yang belakangan sedang dilombakan produk teh s***w**** itu. Yah, meski emang sulit untuk ngeteh saat berada dalam mobil kecuali memang kita bawa termos berisi teh panas *apasih*. Mengobrol dalam mobil itu memang momen keterbukaan dan mengakrabkan. Percaya deh sama Ziy. Hahahaha. 😄

Advertisements

4 thoughts on “Catatan Akhir Pekan: Obrolan Dalam Mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s