Catatan Akhir Pekan: Menjadi Pendamping

Sejak Jum’at akhir pekan lalu, hingga siang ini, aku diculik untuk kedua kalinya. Rasa-rasanya memang aku diculik untuk dimanfaatkan, meski sebenarnya bukan seperti itu seharusnya. Sebenarnya, 4 hari 3 malam ini aku mendampingi ayahku. Yang bersama dengan tanteku, memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan lalu di Penginapan & Pemandian Cipanas Cileungsing yang terletak di daerah Sumedang.

Sudah pada tahu belum kalau ayahku hingga saat ini masih belum bisa memaksimalkan kakinya dan menggunakan kursi roda? Nah, ia berharap bahwa dengan mandi air panas di sana bisa menyembuhkan sakitnya. Lalu masalahnya apa, ziy, kok kamu sampe merasa diculik dan dimanfaatkan? Masalahnya aku sendirian. Dan artinya, aku akan menjadi satu-satunya orang untuk mengangkatnya dari kursi roda, membantunya ke tub sederhana yang disediakan di setiap kamar penginapan untuk berendam air panas, dan tentu saja mesti siap sedia atas setiap yang diperintahkannya. Masalahnya aku ini perempuan yang kekuatannya tak seberapa, dan, ayahku itu gemuk.

Sabtu pagi, ah bahkan sejak Jum’at malam, badanku bereaksi sesuai perkiraan. Remuk. Nyeri di kedua lengan dan kedua kaki. Sakit dan remuk itu berhasil membuatku merajuk. Bagaimana dengan ayahku? Lebih-lebih ia, kasihan sekali karena yang menemaninya hanyalah aku yang tak prima ini. Terhitung sepanjang aku membantunya, dua kali ia terjatuh. Badannya merasakan jauh lebih banyak sakit. Apalagi memang otot-ototnya sudah lama tak banyak digerakkan. Saat di sana, saat ia mencoba sendiri, menyeret diri ke tub, ia memaksimalkan lengan dan pinggulnya karena kakinya tak mampu.

Sebenarnya aku against keinginannya untuk menghabiskan weekend kemarin di sana. Kali pertama kami kesana, aku ditemani kakakku jadi kami mendampinginya berdua. Bertugas menjadi caretaker jauh lebih ringan saat dilakukan berdua. Meski kami berdua adalah perempuan. Sayangnya, saat ini kakakku itu sedang hamil muda, dan fisiknya sedang lemah-lemahnya. Jadilah aku ‘korban’ terakhir. Sayangnya, ayahku ini termasuk keras kepala. Sekalinya ia punya keinginan, mesti diiyakan. Aku, yang meski seringnya tak patuh, tak pernah bisa benar-benar meninggalkan ia yang sakit. Mana bisa? Ia orangtuaku. Dan pintu surgaku kini tinggal satu, ia.

Aku ini cuma punya sedikit natural-born love for parents, khususnya terhadap ayahku. Aku akui lebih mudah jatuh cinta ke Mama, lebih mudah menyayangi dan mendampingi Mama dibanding ayahku. Kamu tahu? Aku bahkan perlu mensugesti diriku bahwa aku harus lebih mencintainya. Kala itu ia sedang dirawat di rumah sakit, hampir setahun (atau lebih ya?) yang lalu. Aku yang paling mungkin untuk menemaninya, kadang capek juga meladeninya. Itu jujur dariku. Alhamdulillah, aku terselamatkan majalah Tarbawi edisi Ayah. Lucu. Aku disampingnya, terduduk di lantai. Hati dan mataku panas saat membaca majalah edisi ayah itu dan menyadari bahwa ayahku pantas menerima rasa sayang dan bentuk cinta yang lebih banyak dariku.

Tapi aku manusia biasa. Kadang makan hati. Sakit ayah sudah lama. Mamaku meninggal hampir 3 tahun yang lalu. Dan sejak kepergiannya, kesehatan ayahku menurun. Kalau hitunganku tidak salah, dua tahun ini ia menghadapi sakit yang memayahkan alat geraknya. Dua tahun ini, kami (anak-anaknya) menghadapi dan mendampinginya. Mendampingi secara fisik, bisa secara total kami lakukan. Itu yang paling bisa kami, dan tentu saja aku, pahami. Tapi mendampingi secara emosional ini kadang butuh menyabar-nyabarkan diri. Karena orang sakit itu tabiatnya bisa macam-macam. Kalau kamu juga memiliki anggota keluarga yang butuh dirawat bersama, kamu pasti tahu apa yang kumaksud.

Aku akui, aku juga masih payah menjadi pendamping. Dan masih saja payah, belum juga jadi anak berbakti. Tapi, entah kenapa, orangtua masih punya magnetnya dalam ketakutan dan harapku. Untuk itu aku bersyukur. ‘daya tarik’ yang mereka miliki yang membuatku tak mampu ingkar terhadap apa yang mereka inginkan.

Mungkin bagi sebagian besar orang, aku ini keterlaluan. Tapi bagaimana, kadang cintaku tak sebanyak yang dimiliki sebagian orang pada umumnya. Bersyukur, dengan ‘daya tarik’ yang memang adalah fitrah mereka sebagai orangtua, aku masih eling dengan posisiku sebagai anak. Menyedihkan ya, aku? Maaf. Tapi mohon doakan aku, sebisa kalian yang ingin mendoakan, karena aku sedang mengusahakan hatiku untuk lebih mencintai ayahku. Dalam kondisi apapun ia. Dalam keadaan berat sekalipun.

Hari-hari ini, aku sedang berproses ‘mencetak’ diriku yang baru. Satu di antara resolusinya, adalah menjadi ‘yes man’ sebelum apapun dalam menghadapi orangtuaku. Yang tinggal satu: ayahku.

Advertisements

6 thoughts on “Catatan Akhir Pekan: Menjadi Pendamping

  1. ih mau nangis. kok kita sama ya Zi? hampir 2 tahun lalu babak meninggal. sekarang juga lagi ngurus “pintu surga’ yg tinggal satu. osteoporosis pula T.T

    ngerasain kok gimana mesti banyak sabar-sabarnya. nyaris mirip! masuk surga tuh susah yaaa T.T

  2. Saya yang tak pernah menikmati hari-hari dengan Ayah, karena beliau keburu dipanggil ketika saya masih sangat kecil, cuma bisa memberi saran untuk sabar dan menikmati setiap detik waktu Mbak dengan ayahanda. Semangatlah mbak, karena perempuan bisa lebih kuat daripada pria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s