Writing Challenge| Day 11 (part 1)

We Stay Together For Egypt

The challenge for the 11th day was write about anything that’s currently on your mind. I have a lot going on my mind. I hope i can spill it here, most of them. Spill it in long-writing, maybe. And why part 1? Because i have 3 main things that bothered my mind and my emotion. The first main thing, i’m about to tell it to you in this post.

Mohamed Morsi became Egypt’s first democratically elected president on June 30 last year, but 12 months later, millions of Egyptians were back on the streets to protest against his rule. The army stepped in and deposed Morsi on July 3, appointed an interim president and outlined plans for a new constitution and elections. However, Morsi’s supporters stayed in the streets for more than a month protesting against his removal. Security forces finally moved against their Cairo sit-ins on August 14, with deadly results. (from Egypt live blog column on aljazeera.com)

Lebih dari setahun yang lalu, saat terdengar kabar sampai Indonesia bahwa Muhammad Mursi memenangkan suara rakyat Mesir dan diangkat menjadi presiden di sana, muslim di Indonesia turut berbahagia. Termasuk saya. Kenapa? Karena Mursi adalah sosok yang tidak bisa tidak didamba. Ia seorang Hafizh, dan akan memimpin sebuah negara. Seseorang yang menjaga AlQur’an dalam lisan dan hatinya, AlQur’an yang adalah kitab pedoman orang-orang yang beriman, akan memimpin sebuah negara dengan berpegang pada apa yang telah dan sedang dijaganya. Tidakkah itu cukup menjamin dan menenangkan?

Tapi jalan politik memang tidak mulus. Saya sendiri tidak begitu mengikuti sepak terjang Mursi di setahun belakangan. Hingga ada ternyata, kurang lebih sebulan yang lalu, Mursi dikudeta. Oleh sebagian rakyatnya. Dan oleh orang-orang orde lama. Ada fragmen bahwa ini adalah tentang Fatah dan Ikhwan. Tapi ini tentang rakyat Mesir. Dan yang membuat saya membicarakannya di postingan ini, ini adalah tentang gejolak yang sedang dihadapi banyak muslim saudara seiman di Mesir sana.

Rakyat terbelah, coup dan anticoup. Militer (dan sebagian sipil coup) dan protester (pro Mursi). Banyak yang mendukung Mursi dan melakukan aksi sit-in di beberapa titik di Mesir. Mereka membela pemimpin mereka yakini yang patut diperjuangkan. Aksi sit-in  ini telah berlangsung selama 5 minggu, hingga kemarin, 14 Agustus 2013, camp sit-in yang ada di Cairo dibombardir militer dengan peluru, gas airmata, dan bom. Kemarin juga diumumkan state of emergency yang akan berlangsung selama sebulan ke depan. Bertepatan dengan itu clash antara militer dan protester terus terjadi, seantero mesir. Per pukul 3 pagi wib, jumlah korban yang jatuh pada serangan 14 agustus ini dilansir AlJazeera.com sebagai berikut:

According to the official spokesman for the health ministry, Mohamed Fath-Allah the casualties nationwide is at: 278 killed, 2001 injured. 61 killed in Rabaa al-Adawiya. 21 in killed Nahda Square. 18 killed in Helwan. The rest across the country. He also confirmed the Interior Ministry line that 43 policemen were killed (those are included in the 278 total).

Yang tidak diterima oleh muslim dunia adalah pertumpahan darah yang terjadi. Mengapa? Rakyat mereka sendiri loh itu. Dan serangan ini mungkin baru awal. Duh revolusi. Belum lagi tangan-tangan gaib negara adikuasa yang menjadi bayang konflik politik kekuasaan ini.

Clash, perang, pertumpahan darah dengan nama apapun itu tidak pernah tidak memilukan bagi yang menyaksikannya. Apalah lagi yang dirasakan oleh pihak yang bersangkutan. T~T

Muslim di sini berharap pemerintah turun tangan berupaya menghentikan Egypt turmoil ini. Sedangkan pemimpin Turki di sana sudah mulai bergerak, US pun sudah mengeluarkan statement basi. Dalam konferensi pers, interim prime minister Mesir Hazem El-Blawi bilang kalau yang militer lakukan di 14 agustus kemarin itu adalah langkah untuk membersihkan camp sit-in para protester. Iya kah? Kenapa yang terjadi di lapangan justru serangan langsung dari militer kepada demonstran? Huh. Dia juga bilang mendapati senjata di camp sit-in para demonstran, tapi sebenarnya siapa yang menggunakan senjata?

Hpfhh..

Apa wajah revolusi selalu berdarah macam ini? 😦

Allahummanshur ikhwanal muslimiina wa mujahiidiina fi miisry .. fii kullii makaan… wa  fii kulli zamaan.. aamiin.

here, our heart bleeding. just like your body, there.

we pray, we stand for you; #westandtogetherforEgypt

Advertisements

5 thoughts on “Writing Challenge| Day 11 (part 1)

  1. Fitnah dunia, fitnah akhir zaman, banyak pembunuhan dan pertumpahan darah. Memang pilu memikirkan nasib saudara semuslim di Mesir. Palestina belum kelar masalahnya, Suriah masih berdarah-darah, sekarang pun Mesir sedang diberi ujian. Semoga do’a kita sampai kepada mereka… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s