Writing Challenge| Day 8

credit: etsy.com

wanderlust:

noun [mass noun]: a strong desire to travel

Saya sebenarnya orang rumahan. Sejak lama, sejak kecil. Mungkin karena dulu saat saya kecil, orangtua saya jarang sekali mengajak saya jalan-jalan. Terlebih lagi saya sangat dibatasi untuk bisa ikut jalan-jalan saat diajak oleh om atau tante. Saya tak menyadari betapa berjalan-jalan itu adalah kegiatan yang menyenangkan.

Tapi akhirnya saya tahu bahwa berjalan-jalan itu menyenangkan. Menyembuhkan. Dan bisa dioptimalkan untuk mengisi ulang semangat. Juga menimbulkan … efek ketagihan. Selalu berdesir rasa ingin mengunjungi banyak tempat. Kadang sebagai efek samping menonton film dan menyaksikan latar yang beautiful. Tapi lebih banyaknya, sebagai efek samping dari: MEMBACA. Ya membaca buku travelling atau novel yang mengambil latar kota-kota lokal atau luarnegeri yang masih belum familiar bagi saya.

Berjalan-jalan seperti apa yang saya inginkan? Mulanya, desiran itu adalah keinginan merasakan menjadi turis. Singkat. Tapi setelah membaca buku-buku travelling a la Agustinus Wibowo, yang saya inginkan itu semacam berjalan-jalan dengan waktu yang lama. Berjalan-jalan dengan waktu yang sedikit lebih lama untuk bisa melebur dengan orang-orangnya, kekhasannya, terbiasa dengan scenerynya dan tahu sedikit lebih banyak tentang karakter tempat dan kebudayaan setempat. Untuk kemudian bisa saya ceritakan kembali, bukan dengan format menjabarkan itinerary tapi dengan membuat cerita terpisah-terpisah yang masing-masingnya punya momen. Yang masing-masing punya warna dan emosi saya. Wih, muluk banget yah >,<

Kadang saya juga kepingin seperti mb dina @duaransel dan pasangannya yang mengambil jalan hidup nomaden. What a life!

Tapi balik kembali, apa saya punya jiwa petualang sedalam itu? Apa saya punya wanderlust dengan penakanan ‘lust’ (as a verb) itu begitu memenuhi diri saya? Jawabannya, tidak terlalu. Bahkan saya merasa kata ‘wanderlust’ untuk rasa urge to travel yang saya punya itu keberatan. Tapi setidaknya, sedikit, saya punya wanderlust itu.

Hanya saja saya belum kemana-mana. Masih banyak hambatan, yang tak sekedar uang. Tapi posisi, yang masih intolerable dan mengikat saya untuk selalu di rumah. Tak bisa terganggu gugat, kecuali saya dengan abainya menggadaikan posisi ini. Kenyataannya, menggadaikannya itu, tidak akan pernah bisa saya lakukan. Meski kadang urge to travel or wandering around itu sudah sedemikian penuh dan membuat tenggorokan tercekat.

Bersyukur, saya ditemani buku. Sejauh ini, yang bisa mengobati saya ya mereka. Mungkin sampai nanti, sampai saya bisa mewujudkan impian menjadi wanderer. Semoga.

*tulisan yang dibuat saat tidak sabaran menunggu buku terbaru Agustinus Wibowo, Titik Nol, yang belum dikirim GPU. Hiks.

**maaf sekali lagi, menyalahi challenge dan memposting tulisan challenge hari kedelapan di hari kesembilan. Mohon sangat, dimaklumi. Terimakasih 😉

Advertisements

5 thoughts on “Writing Challenge| Day 8

  1. Setuju sama kamu, jalan-jalan itu memang kegiatan yang menyembuhkan. Kalo lagi sedih, bad mood trus dibawa jalan-jalan, hati terasa jauh lebih lapang. Ohya, kayaknya untuk wanita emang lebih aman melakukan perjalanan sama pasangan yaaa, hehehe. Semoga kesampaian yaaa harapan kamu jadi wanderer…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s