Writing Challenge| Day 2

The Buttered Bun*

Kafe Marquis, Rue Des Francs Bourgeois, Le  Marais. Perancis.

Aku sekadar mengikuti instruksi.

Aku duduk di keteduhan awning hijau teras kafe, termangu memandang ke ujung Rue de Francs Bourgeois. Matahari musim gugur di ujung siang hari, menghangatkan sisi wajahku. Seorang pramusaji telah menyajikan sepiring croissant dan secangkir besar cafe creme. Le Marais, Will pernah menyebutkan distrik ini. Kata-katanya yang membuatku terbang ke sini dan terduduk menghirup aroma kopi. Ya, aku mengikuti instruksi Will.

Aku menyesap cafe creme yang kini panasnya sudah bisa diterima lidahku. Sejenak, aku berpindah memandang ke Renfrew Road, ke rumah yang terasa jutaan kilometer jauhnya. Ku taruh cangkir kopiku, kutarik napas dalam-dalam,  kemudian ku ambil sebuah surat yang sudah hampir enam minggu kubawa-bawa bersamaku.

Kubaca tulisan yang tertera di bagian depan amplop-nya; tulisan itu diketik di bawah namaku. Dalam huruf-huruf besar:

HANYA BOLEH DIBACA DIKAFE MARQUIS, RUE DES FRANCS BOURGEOIS, DENGAN DITEMANI SEPIRING CROISSANT DAN SECANGKIR BESAR CAFE CREME.

Aku tertawa dan menangis waktu pertama kali membaca tulisan di amplop itu-sangat khas Will, bossy.

Isi suratnya diketik. Aku mengenali jenis hurufnya dari kartu yang pernah dikirimkan Will padaku, lama berselang. Kusandarkan tubuh di kursiku, dan aku mulai membaca.

……

…………. isi suratnya, tidak akan ku lafalkan. Juga tidak akan aku beberkan untuk kau baca. Tapi aku akan sedikit memberitahu padamu sedikit isinya. Will menekankan kembali bahwa ia ingin aku hidup dengan ‘penuh’. Dan, sebagai awalan, ia memberiku ‘modal’. Sembari ia katakan bahwa aku jangan terlalu bersandar pada ‘modal’ darinya itu.

Dia juga memintaku untuk jangan lama-lama bersedih. Tapi bagaimana, aku masih begi merindukannya.

……

Setetes air mata menitik ke kayu meja yang tidak ditutup kain di hadapanku. Kuseka pipiku dengan telapak tangan dan kuletakkan surat itu di meja. Setelah beberapa menit, barulah pandanganku jernih kembali.

Pramusaji yang tadi melayaniku, telah muncul kembali ke dekat mejaku. Ia menangkap perubahan wajahku lalu menawariku untuk mengisi ulang cangkirku dengan kopi.

“TIdak,” kataku, balas tersenyum. “Terima kasih.”

Lagipula, cangkir kopiku masih berisi setengah cafe creme. Kusesap kembali sedikit cairannya, aku mengedarkan pandanganku sekali lagi ke  luar kafe. Setelah kurasa tidak ada lagi objek yang menarik untuk ku amati. Aku beralih ke surat dari Will, menggenggamnya dengan erat. Dengan bodohnya aku mengendus kertas surat itu, berharap ada aroma Will yang tersisa di sana. Hal yang mustahil, aku menggelengkan kepalaku. Mengembalikan surat itu ke tas selempang yang ku bawa. Mataku kupejamkan, sebentar, lalu aku mengambil napas dalam-dalam. 

“Kau tak apa-apa?”

Ketika kelopak mataku terbuka, telah berdiri seorang laki-laki berpenampilan backpacker di hadapanku. Cukup tinggi hingga ia menghalangi sinar matahari. Ia mengenakan cap, dan berkat topinya itu, aku tidak begitu jelas saat melihat wajahnya.

“Apa aku boleh duduk di sini?” tanyanya lagi.

Tapi belum sempat aku menjawabk, laki-laki itu kini sudah menempati kursi yang berhadapan denganku dan cepat-cepat membuka cap-nya. Wajahnya sedikit bulat dan dagunya sedikit terbelah. bulu-bulu halus memenuhi pipi dan rahangnya. Matanya berwarna abu-abu redup. Ia tersenyum. Lalu aku membalas senyumnya, sedikit  terpaksa.

“Kau tinggal di sekitar sini?”, tanyanya lagi. “Oh iya, kenalkan, aku Jimm.” Ia lalu mengulurkan tangannya.

Aku masih belum menyambut tangannya, malah terpaku dan memandangnya..kosong.

~

Déja Vu occurs when your brain tries to apply a memory of a past situation to your current one, fails, and makes you feel like its happened.

~

Kafe The Buttered Bun, 5 tahun sebelumnya.

Setahun yang lalu, niatku hanya membantu Frank yang belum lama membuka kafe ini. Hari-hari berlalu, Frank mengangkatku menjadi karyawan di The Buttered Bun. Tanpa kontrak. Malah rasanya memang tidak perlu. Di kota kecil ini, mengandalkan kepercayaan pada tetangga kita masih menjadi hal yang lumrah. Apalagi aku tahu bahwa Frank adalah laki-laki yang baik. Patrick juga mendukungku. Atau sebenarnya dia mengiyakan saja tak ambil pusing karena kini ia sedang disibukkan dengan kegiatan entrepeneurnya.

Yang aku suka dari The Buttered Bun adalah kehangatan berbau daging panggang di kafe itu, semburan-semburan kecil udara dingin sewaktu pintu dibuka dan ditutup. Bahkan aku suka suara radio Frank yang cempreng yang memecahkan kesunyian di kafe saat sepi pelanggan.

Kafe ini tidak keren penampilannya, rasanya Frank memang tidak begitu berbakat mendekor ruangan. Tapi aku suka pelanggan-pelanggan kami. Aku suka mengamati mereka, melakukan observasi. Lagipula, itu kan yang biasa dilakukan pelayan kafe: menikmati waktu mengamati pelanggan yang datang dan pergi. Siapa tahu ada pelanggan yang menarik. Eh.

Seperti penghujung siang ini, matahari di musim gugur membuat hangat wajahku saat aku berjalan keluar kafe. Semua  pelanggan telah kulayani, aku hanya mencuri waktu untuk mengambil napas banyak-banyak. Aku suka musim gugur. Baru saja aku menurunkan kedua tanganku yang terentang dan membuka mata, di hadapanku berdiri seorang laki-laki berpenampilan backpacker. Ia menatapku dan mengangkat sebelah alisnya. Terheran. Aku  buru-buru menjatuhkan tanganku dan menggosokkannya di celemek, lalu membukakan pintu agar ia bisa masuk.

Laki-laki itu memiiki rambut berwarna cokelat gelap yang terlihat lemas dan mudah diatur. Kulitnya berwarna cokelat terbakar matahari, matanya hijau gelap, dan garis rahangnya tegas. Penampilannya, dengan backpack dipunggungnya, mengingatkanku pada sesosok laki-laki dari masa lalu yang tidak ingin aku ingat. Sedetik kemudian aku menggelengkan kepala, menoleh ke arah lain dan sengaja berlama-lama, beberapa menit di luar, baru kemudian masuk. Aku tidak siap bertemu dengan laki-laki yang berpenampilan sepertinya, seperti laki-laki dari masa laluku. Bayangannya membuatku mengingat bahwa ada bagian dari ‘diriku yang dulu’ yang aku benci.

Beruntung, di dalam kafe, laki-laki itu dilayani oleh Frank. Mereka sudah terlihat akrab mengobrol, tertawa dan seolah saling bertukar kabar. Laki-laki itu tersenyum, di pipinya terbentuk lesung, Aku tersadar, ia berbeda dari laki-laki masa lalu yang aku benci. Entah mengapa, aku merasa ia bukan laki-laki bejat, tidak seperti stereotip yang beberapa menit lalu aku labelkan padanya saat ia sampai di depan kafe.

Frank menyampaikan pesanan laki-laki itu padaku, meminta aku yang mengantarkan sepiring butter buns dan secangkir kopi hitam kental ke mejanya. Ia terlihat sedang memainkan ponselnya saat aku menghampiri meja tempat ia duduk.

“Pesanannya, Tuan.” ucapku, sengaja membuatnya berpaling sebentar ke arahku.

Ia tersenyum. “Terima kasih ….” balasnya, dengan kalimat yang menggantung.

“Louisa,” kataku, spontan.

“Ya, terimakasih, Louisa.” Laki-laki itu memasang senyum terbaiknya, menyembulkan lesung yang membuatnya terlihat manis.

Aku membalas senyumnya, dan kembali ke dapur. Saat itu aku belum tahu, bahwa 3 tahun setelah hari itu, senyum laki-laki itu memudar. Direnggut sebuah kecelakaan yang juga mematahkan semangatnya menjalani kehidupan. Saat itu, aku belum tahu bahwa laki-laki itu adalah Will Traynor. Laki-laki yang akan kucintai dan membuatku mau membuat hidupku ‘penuh’.

~~~

*Fanfiction ini dibuat berdasarkan novel Me Before You karya Jojo Moyes, yang ternyata hasilnya failed. Hiks. 😥 Mungkin saya  kurang devoted sebagai fans Will. Mungkin juga saya kurang menguasai novel tersebut. Tapi sepertinya, alasan sebenarnya adalah ini kali pertama saya membuat fanfiction. Mohon dimaklumi, saya sudah berpikir keras memikirkan plot, tapi akhirnya saya cuma bisa mengada-adakan deja vu di cerita antara Louisa dan Will. Imajinasinya kurang andal, jauh dari kreatif. Sigh.

Oia, bagian awal itu sebenarnya spoiler ya? Maaf. Itu konten dari Epilog yang ada di akhir novel yang sudah berusaha saya ubah sana-sini.

Advertisements

6 thoughts on “Writing Challenge| Day 2

  1. challenge fanfiction ini yg paling susah kayaknya, selain gak pernah bikin, aku jg gak ada imajinasi siapa tokoh yg siap dikorbankan utk eksperimenku 😦
    tapi, aku bakalan coba deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s