Barangkali

Barangkali manusia yang kaya adalah yang merelakan dirinya menjadi support bagi manusia lain yang membutuhkan. Dan barangkali, manusia yang lebih kaya lagi adalah yang merelakan dirinya menjadi support dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Kurun waktu yang seringkali menghadirkan aral bagi keikhlasan niat dan perbuatan. Kurun waktu yang  mengatakan bahwa kesabaran perlu punya tombol refresh. Kurun waktu yang seringnya menyadarkan bahwa dalam kemanusiaan kita ada istilah ‘lelah’. Kadang juga menyadarkan bahwa dalam kemanusiaan kita ada mekanisme ‘menerima’ setelah ‘memberi’.

Mereka kaya, sepertinya, karena dalam berperan sebagai perantara healing manusia lainnya sesungguhnya mereka mengalami proses healing itu sendiri. Bahkan tak jarang, pada keringat terakhir mereka setiap harinya, terkucur pula rasa syukur yang tak kalah banyaknya. Dan bila -dalam kurun waktu tersebut di atas- mereka tidak berubah menjadi semacam robot, sesungguhnya kekayaan yang mereka miliki bukanlah kekayaan yang biasanya menjadi suluh kesombongan. Karena kekayaan yang mereka timbun justru berujung pada ketundukan, kebersahajaan.

ah, apa yang hendak ku katakan sebenarnya?

apa yang hendak ku katakan dengan membawa hati dan tenggorokan yang tercekat, terdera melankolia ini, sebenarnya?

Advertisements

12 thoughts on “Barangkali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s