Sama atau Berbeda?

tau manga ini? 🙂

Justru hal-hal yang kontradiktif membuat sepasang manusia akan belajar untuk saling melengkapi dan mengerti. Sebaliknya, punya seseorang yang setipe dan seide denganmu hanya akan bikin hidup terasa monoton dan menjemukan.” –Nick, halaman 35 novel Ping! A Message from Borneo

Iya, saya tahu sih kalau besok itu pemilukada DKI putaran dua dan akan lebih match kalo ngomongin pemimpin atau berpendapat terhadap pemilukada itu sendiri. Tapi saya tipikal pemerhati, tak banyak bicara tentang politik. Selebihnya, saya semacam tidak memiliki kapasitas akan hal tersebut. Hehhe. ^__^v

Baru saja saya menyelesaikan Ping! A Message from Borneo , lalu saya sampai pada kalimat yang saya quote di atas itu. Memaksa saya mengingat kembali cerita-cerita dari Ummi (guru ngaji saya) tentang dia dan Abi, suaminya. Ummi, seorang yang supel, sociable, banyak bicara, dan(kayaknya) korelis-sanguinis. Lalu si Abi yang kalem, cool, pinter, tipikal cowok baik-baik dan penggemar buku. Usia Ummi lebih tua dari Abi, tapi masalah mature? Who knows? J . Ummi sering, dengan berseri-seri, bercerita bahwa akhirnya hikmah ia dipasangkan Allah dengan Abi membuat dia paham arti melengkapi.

Lalu setelah dia bercerita, tak jarang akhirnya dia memanas-manasi kami. Kadang juga menembakku, “mungkin aja nanti ziyy dapetnya sama yang ngga suka baca”, dan lain-lain, dan lain-lain. Buat saya? Hmm…

Sejauh ini, bila melihat riwayat cinta-monyet jaman masih sekolah dan labil dulu (*trus sekarang udah ngga labil gitu?), kecenderungan saya terhadap lawan jenis mesti jatuh sama karakter yang ngga jauh beda dari saya: cool, pendiem, pinter, ngga banyak omong. Sebutlah si A, seorang pendiam-kharismatik kakak kelas saya waktu SMA dulu dan kami sempat satu kelas khusus persiapan OSN MIPA dulu. Atau si D, teman sekelas yang cool. Dulu, saya akan mudah tertarik sama lawan jenis yang ngga banyak omong. Lalu kesini-sini, saya tahu bahwa saya akan suka dengan lawan jenis yang juga gemar membaca dan mencintai buku. Kalau balik ke ledekan ummi, saya jadi takut sendiri. Mengandai, “Haduh gimana kalau dia ngga suka baca? Gimana dia akan mensuppport saya yang suka mengoleksi buku? Gimana reaksinya kalau ada saat dimana waktu saya tersita dengan buku? Apa dia bakalan cemburu sama buku?”. Karena saat itu, rasanya saya akan lebih memilih seseorang yang mirip dengan saya, bukankah dengan begitu akan lebih memuluskan hubungan di antara kami?

Hahha. Kelebatan pikiran yang ngga penting, sebenarnya. 😀

Dan, kalau melihat pola drama zaman sekarang sih, memang yang diperlihatkan adalah  pasangan-pasangan yang akhirnya bersama meski karakternya bertolak-belakang sama sekali. Mungkin karena lebih fulfilling. Mungkin karena lebih berwarna. Sepertinya juga, ngga cuma drama, tapi banyak kenyataan berseliweran tentang pasangan yang langgeng meski bertolak belakang karakternya. Contoh terdekat ya roman orangtua saya. Dan itu cukup. Oke lah, ‘berbeda’ atau ‘bertolakbelakang’ itu menjadi pola rahasia yang dirajut sendiri oleh Allah dalam perkara percintaan manusia. Lalu?

Memiliki karakter yang sama atau memiliki karakter yang bertolakbelakang, yang saya percaya, dua keadaan itu memiliki mekanismenya sendiri untuk kemudian menggenapkan proses ‘melengkapi’, ‘saling mengisi’ atau apapun itu istilahnya yang terjadi dalam chemistry hubungan dua manusia. Dan mekanisme itu, mulanya hanya Allah yang mengerti, lalu pelan-pelan ia buka kan pemahaman kepada manusia tentang hal tersebut. Lalu manusia akan serta merta mengangguk-angguk, menerima, dan bersyukur. Bukankah skenario-Nya yang terbaik? ^___^

Advertisements

21 thoughts on “Sama atau Berbeda?

  1. suka ini. emang harus siap2, ziy..
    awal2 menikah, saya pun cukup shock. sering sekali ngambek karena ya itu.. perbedaan cara pandang thd sesuatu dsb.
    tapi sekarang udah mulai belajar memahami. kita tak boleh memaksakan dia yang harus menyesuaikan ke (kebiasaan) kita, meskipun kadang kita merasa (kebiasaan) itu lebih baik. maksudku,, pun hal-hal yang jelas baik pun tidak bisa dipaksakan.. *hehe, curcol

  2. jadi ziyy lebih punya kapasitas nulis tema ini? #eh? 😛

    aku justru berharap dapet tipe yg bertolak belakang. terutama bisa meredam aku yg rame :))

    *jadi itu manga judulnya apa deh?

  3. sahabat saya dulu juga lumayan berbeda dengan saya. dia pinter, saya…yah begitulah. dia berhasil jadi orang, saya…yah begitulah. tapi justru karena pinter itu dia bisa mengerti imajinasi2 saya.

  4. sungguh dari “berbeda’ itulah saya banyak belajar. teman saya pintar IT maka saya kurang dan saya belajr daru dia. ehhh yang ngomongin tentang saya siapa ya? pede!

  5. baca tulisan ini jadi inget sama twit aku yang kamu RT..hhehe
    ya begitulah ziyy.. sampe saat ini aku kdg msh suka gregetan waktu nemuin perbedaan pandangan (yang mana aku lebih prefer sama pandanganku). tapi biar gimana juga, harus dihadapi dengan kelapangan hati. pada akhirnya skarang kalau kejadiannya berulang (perbedaan pendapat dan pandangan) di akhir perbincangan, kita sama2 senyum.. menertawakan perbedaan kita dan menghargainya, tanpa ada rasa ‘ingin menang sendiri’.
    jadi..udah siap sama ‘yang beda’ ?? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s