Every Syawal

Syawal penanda,

di tiap-tiapnya aku mengunduh kembali ingatan yang masih tersisa,

tentangmu Bunda.

Penghujung 21 Syawal 1433 H,

Berikut tulisan satu tahun yang lalu. Saking payahnya proses recalling ingatan dan proses pengunduhannya, aku tak mempersiapkan kalimat-kalimat rindu terbaru. Maafkan aku, Bu. Rindu ini menua, kebersamaan yang tak mungkin lagi ada dan aku yang tak maksimal menjadi sesosok shalihah untuk berhasil memakbulkan doa-doa yang terpanjat. Apalagi bisa ku kata? Tapi aku bersyukur, tangis ini masih ada, sebagai penanda lainnya.

13 Syawal 1432 H, seminggu menuju satu tahun komariyah penanda perginya ibu.

Aku mengikuti kembali prosesi itu, pemandian jenazah seorang Ibu sahabatku. Meluapkan ingatanku pada prosesi yang sama setahun yang silam. Airmataku otomatis meleleh saat itu juga, yang benar-benar terbayang diingatanku adalah ibu. Seketika itu juga rasanya aku ingin berlari menuju kuburnya, seperti aku butuh melihatnya seketika itu juga.

Ibu sahabatku itu meninggal karena penyakit gula. Sejak ramadhan memang kesehatannya memburuk. Aku jadi ingat saat shalat idul fitri lalu, seorang anaknya menangis tiada henti dengan isak yang terlihat pilu sekali. Doanya tiada putus seiring airmata membasahi pipinya yang kian merah. Aku yang melihatnya merasa sesak. Tahu sekali rasanya memohon penuh harap untuk kesembuhan Ibu.

Sepanjang prosesi pemandian jenazah Ibu sahabatku itu, anak lelakinya berkali-kali pingsan. Sedang yang lain, tidak sedikit menangis dengan ratap. Sahabatku bahkan tidak pergi menjauh sedetik pun dari jenazah ibunya. Ia benar-benar ada disampingnya. Hingga jenazah Ibu sahabatku itu dikafani, anak lelakinya terjatuh lemas. Seperti benar-benar tidak rela melepaskan ibundanya untuk hadir ke sisi Allah.

Aku ingat diriku di malam kematian Ibu. Aku menangis keras, benar-benar tidak percaya.

21 Syawal 1431 H, setahun silam.

Hari itu Rabu. Aku, ayah, ibu, abang, dan kakak iparku bertolak menuju pondok pengobatan. Ibu ingin sekali kesana, ingin sekali berobat disana. Waktu dhuha, kami berangkat. Ibu tak lepas dari oksigen yang dibawa. Sejak Ramadhan, ibu bernapas dibantu dengan oksigen tambahan. Ibu menderita kanker payudara, kanker itu menjalar dan mempersempit jalur pernapasannya. Iya, kanker itu membebat paru-parunya sebelah kanan hingga kerongkongan. Ibu bahkan sampai tidak bisa makan. Hanya meminum susu-makanan. Dan hari itu bahkan, ibu sudah tidak sanggup untuk berjalan. Dan baru belakangan kemudian aku tahu bahwa ketidaksanggupannya untuk berjalan merupakan satu dari sekian penanda bahwa ruhnya telah perlahan diangkat dari jasad.

Di dalam mobil yang melaju menuju pondok pengobatan, aku duduk ditengah, duduk disampingnya. Selama perjalanan, ia beberapa kali mencoba untuk beristirahat. Tetapi kesulitannya bernapas membuatnya terus terjaga. Karena cadangan oksigen yang kami bawa tidak banyak, aku memintanya untuk tidak sepanjang perjalanan penuh menggunakan oksigen tersebut. Aku meminta untuk ia sesekali melepasnya. Tapi sekarang ini, aku menyesal tidak membiarkan Ibu penuh memakai oksigen tersebut. Menyesal karena tidak membiarkannya setidaknya bernapas lega dan lebih panjang tanpa terbata-bata di hari yang ternyata adalah hari terakhirnya.

Aku disampingnya tekun membaca buku. Aku mencari kesibukan semata menutupi kegugupanku. Karena tiap kali memandangnya saat itu, mataku selalu menjadi panas. Entah kenapa, buku yang aku baca saat itu juga menyiratkan penanda. Saat sebuah tulisan yang kemudian aku baca berjudul, ‘Sebelum kedua pintu surga tertutup’. Memang saat membaca tulisan itu, aku menahan napas dan berkali-kali menoleh sedang mataku terasa semakin panas. Tapi itu tidak menutup baik sangkaku untuk kesembuhan Mama. Saat itu aku bahkan berjanji untuk melayaninya lebih lagi, untuk membersamainya lebih lama lagi, untuk mematuhinya dengan lebih takzim.

Maghrib, kami sampai di pondok pengobatan. Ibu bilang ia ingin sholat. Ayah memintanya untuk tayamum saja dan mengqadha sholatnya dengan shalat Isya. Lepas shalat, lepas ayah dan kakak iparku mengurusi keperluan pengobatan dan penginapan kami, ibu minta untuk minum susu-makanannya. Tapi saat itu, susu bahkan sudah tidak diterima oleh tubuhnya, sekujur badannya mulai lemas dan tidak kuat bahkan saat kami berusaha memindahkannya ke kasur. Ternyata saat itu, ruh sudah dibatas kerongkongannya. Dan aku masih belum memahami itu, astaghfirullahal’adzim.

Hingga akhirnya dia meminta untuk tidur saja, meminta kamar inap kami dimatikan saja penerangannya. Sementara ayah menyetel Al-Baqarah dari handphonenya, ibu diam-yang kami kira tertidur tenang. Tak lama sejak dimatikannya penerangan dikamar inap kami, perasaanku seperti ingin sesegera mungkin menyalakan lampu kembali, maka aku mengembalikan penerangan di kamar inap kami. Lalu aku melihatnya, memeriksa Ibu yang sedang tertidur. Tapi saat melihatnya, dadanya sudah tidak naik turun dengan susah payah lagi, tubuhnya diam. Mulutnya sudah mengeluarkan air liur yang membuat bantal sanggahnya tidur menjadi basah. Napasnya sudah tidak ada. Aku benar-benar tidak percaya, ia meninggal dalam tidurnya.

Aku bangunkan ayah yang bersamaku tadi juga hanya sedang tidur-tiduran, sementara airmataku sudah membasahi wajah. Aku panggil abang dan kakak ipar, meminta mereka memanggil orang disana yang bisa mengecek denyut nadinya. Aku kembali ke sisi Ibu dan memegangi tangannya, menempelku pipiku ke pipinya. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan saat itu aku minta Allah menghadirkan Ibu kembali, membuat kenyataan itu tidak nyata. Aku menangis keras hingga Ayah memintaku untuk tenang. Tapi aku tidak bisa, benar-benar tidak bisa menghentikan tangis dari mataku.

**

21 Syawal 1432 H, taman pemakaman yang mulai lengang.

Aku kembali, berdiri didepan kuburnya. Menyapa Ibu, dan mengalirkan cerita-cerita kehidupanku. Hal yang tidak pernah dengan leluasa aku lakukan saat ia masih hidup. Aku melafalkan doa untuknya, meminta Allah menjaganya dan menjagaku. Aku memintanya menunggu, aku membisikkan keinginanku menghadiahinya mahkota, kelak saat kami bertemu di akhirat. Lafal doa biar aku menjadi anak yang shalihah pun, tidak bisa putus aku lafalkan. Karena itu satu cara biar Allah semakin mudah mengabulkan pintaku untuk Ibu.

Ditinggalkan Ibu, sempat terasa bahwa aku ditinggalkan surgaku. Rasa menyesal karena belum paripurnanya bakti kepada Ibu, menggelayut pada siapa saja yang tahu rasanya ditinggalkan Ibu. Termasuk aku. Aku ingat saat dia pinta aku jangan bosan merawatnya yang sedang sakit. Saat itu, sebulan sebelum kepergiannya, dia bahkan memintanya dengan berbisik. Permintaan yang ia sendiri agak enggan, karena khawatir terlalu membebani anaknya. Permintaan yang hingga saat ini masih aku ingat.

Kehilangan memang sesuatu yang pasti, sedang kematian adalah hal yang paling dekat. Apalagi ditinggalkan seseorang yang pernah mengandung kita dalam tubuhnya. Ditinggalkan seseorang yang telah bersedia berbagi napas dan menyediakan ruang untuk terbentuknya diri kita. Ditinggalkan Ibu atau Ayah, kadang seperti mengabarkan bahwa bakti kita kepada orangtua telah usai seiring ketiadaan mereka secara zhahir. Hingga kabar itu membuat kita tidak rela, meratap dengan sangat, hingga hampir bisa menghilangkan kesadaran kita. Tapi setahun ini, setahun yang telah aku jalani tanpa Ibu justru semakin menujukkan bahwa bakti terhadap orangtua kita tidak putus hanya karena orangtua kita meninggal. Seperti adanya kebaikan seseorang yang tidak akan putus bahkan sepeninggalnya.

Setahun yang telah aku jalani tanpa Ibu, benar-benar menempa kesadaran. Tidak bersamanya kami justru ingin aku jadikan kekuatan, untuk menenun rindu dan lafal doa biar bersama kembali di jannah kelak. Ingatan yang ingin selalu aku jaga, cinta yang ingin terus aku pelihara. Biar Ibu tahu, aku cinta dan merindunya bahkan dalam ketidakbersamaan kami.

Ini tidak mudah, untuk menjaga baktiku pada pintu-pintu surgaku. Tapi Allah tahu, aku selalu berdoa untuk itu. KuasaNya membuatku yakin bahwa bakti kepada orang tua bisa menjadi sesuatu yang tidak lekang, meski dalam ketidakbersamaan.

Advertisements

9 thoughts on “Every Syawal

  1. titin bahkan sampe saat ini belum mampu bercerita detail akhir2 hidup bapak, bahkan hampir gak pernah memakaikan kata ‘almarhum’ ketika menyebut namanya.. entah, serasa masih ada. nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s