[FFL] Who are the people of Taqwa – Ust. Nouman Ali Khan

Bismillahirrahmanirrahim

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

QS. ‘Ali Imran (3) : 132-136

Dua ayat pertama merupakan anjuran, ajakan, dan dengan kalimat yang telah jelas: Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Lalu, berlarilah menuju ampunan dari Allah swt. Mengapa kepada ampunan-Nya? Karena, perlu kita pahami, bahwa kita dalam kondisi membutuhkan ampunan-Nya. Tidak mungkin tidak. Berlarilah menuju Jannah-Nya, masya Allah, bagaimana pelarian ke Jannah akan kita lakukan? dan di akhir hayat di sebutkan bahwa Jannah tersebut tersedia bagi orang-orang bertakwa. Jadi, berlarilah menuju Jannah-Nya sebagai orang-orang bertakwa.

Menariknya beberapa ayat tersebut, didahului dengan disebutkannya Jannah dan diakhiri juga dengan disebutkannya Jannah. Lalu ditengahnya dijelaskan mengenai muttaqiin yang dijanjikan Jannah atas mereka. Manusia-manusia semacam apakah, muttaqiin yang dimaksudkan dalam akhir ayat ke 133 surah Ali Imran tersebut? Dari dua ayat setelahnya, disebutkan empat macam karakter orang-orang bertakwa.

 Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.

Lapang, juga sempit, dalam kedua kondisi tersebut muttaqiin tetap menafkahkan hartanya. Bila kah kita bagian dari muttaqiin? Bagaimana dengan riwayat sedekah kita? Dalam Ramadhan, di mana dalam bulan tersebut, kondisi lapang bisa saja diusahakan, kita bisa menyaksikan banyak manusia-manusia loyal. Karena memang disunnahkan untuk memperbanyak sedekah di bulan tersebut. paska nya? Pada bulan-bulan ini dimana tidak seheboh janji-janji Allah atas Ramadhan, bisa kah disamakan dengan kondisi sempit? Atau memang atmosfernya mempersempit kedermawanan kita? Astaghfirullahal’adzim.

Lapang dan sempit memang tentang lahiriah rezeki yang kita miliki. Sedang berlebihan kah? Atau sebaliknya, sangat pas-pasan? Dalam kedua kondisi itu, muttaqiin selalu mencari kesempatan bersedakahnya. Akan kah kita?

Orang-orang yang menahan amarahnya.

Jangan berputus asa bahwa sulit bagi kita menjadi muttaqiin. Karena ada jalannya. Ada karakter-karakter muttaqiin yang bisa kita usahakan untuk ada pada diri kita, semisal dari karakter menahan amarah. Muttaqiin adalah mereka yang mampu menahan amarah. Sesungguhnya banyak hal dan banyak kesempatan amarah itu bisa datang. Sehingga menahan amarah ini juga hal yang sulit. Menahan amarah setiap kali amarah itu datang. Itu artinya menahan amarah perlu sering dilakukan. Dan menahan amarah a la muttaqiin adalah menahan amarah hingga amarah tersebut tidak terlihat dalam perilaku bahkan tidak boleh terlihat dalam airmuka. Masya Allah. Akan mampu kah kita? Insya Allah. Semoga Allah memudahkan kita.

..dan memaafkan kesalahan orang.

Ada sebuah kisah menarik. Suatu kali, pembantu Hasan radhiallahu ‘anhu hendak menuangkan minuman untuk majikannya. Saat itu, minuman itu tumpah, berlebihan. Tentu saja Hasan kesal, marah. Tapi lalu budaknya membaca ayat di atas. “wal kadhiminal ghoidz –dan orang-orang yang menahan amarahnya” lalu Hasan berkata, ayat ini menelan kemarahanku. Oke. Aku tidak marah. Lalu budaknya meneruskan,”wa ‘afiina ‘anin naas –dan memaafkan (kesalahan) orang lain” Hasan berkata. Baiklah. Aku memaafkanmu. Budaknya kembali meneruskan ayat tersebut, menyelesaikannya. “wallahu yuhibbul muhsiniin –dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” Hasan lalu berkata, baiklah, sekarang kamu bebas. Sekarang kamu seorang yang merdeka.

See, let see it as how ayat can change behaviours of a mukmin. Begini lah semestinya efek ayat Allah terhadap mukmin yakni: menggerakkan. (#NtMS)

Sebelum berlanjut, mari menambah dzikr kita tentang memaafkan. Forgiving, forgive out of love. Karena sepertinya memaafkan itu sangat sulit bagi sebagian kita. Maka, mari kita mengingat kembali apa yang dialami Abu Bakr dalam satu penggalan hidupnya. Yakni ketika ‘Aisyah mengalami fitnah besar. Masalahnya, ‘Aisyah adalah ummul mukminin. Kabar buruk yang menyangkut dirinya adalah kabar buruk juga bagi Rasulullah, pun bagi Islam.

Dalam fitnah tersebut, ada Mistah, seorang kerabat Abu Bakar. Kerabat yang Abu Bakar bersedekah rutin kepadanya. Celakanya, ia adalah sekian dari mereka yang menyuburkan fitnah terhadap ‘Aisyah. Mengetahui hal tersebut, Abu Bakar menghentikan sedekahnya untuk Mistah. Tapi kemudian Allah menegurnya. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”QS. An Nuur (24): 22.

Dan dengan sifatnya yang terbaik, kalian pasti tahu apa yang akan dipilih Abu Bakr. Ya, ia memilih ampunan Allah. Meski, demi Allah, fitnah yang terjadi ketika itu sama sekali bukan  hal sepele. Bahkan sangat memilukan bagi Abu Bakr , ‘Aisyah juga Rasulullah. Tidak kah kita ingin meneladani kelapangan Abu Bakr? Meski sulit, ada kah yang menimpa kita sehingga kita perlu memaafkan orang lain itu lebih pedih dari apa yang dilalui oleh Abu Bakr, ‘Aisyah dan Rasulullah saat itu?

Yang perlu kita ambil pelajaran dari kisah yang melibatkan Abu Bakar, ‘Aisyah dan Rasulullah tersebut adalah saat kita begitu sulit, merasa sangat tidak mampu memaafkan orang lain, maka ingatlah bahwa kondisi kita tidak separah apa yang dialami Abu Bakr. Bila ia ditegur lalu langsung menerima untuk memaafkan orang yang telah memfitnah anaknya, ummul mukminin ‘Aisyah radhiallau ‘anhu, mengapa kita –yang kedudukan tidak semulia ia- tidak bisa memaafkan orang lain atas kesalahannya? Apakah kesalahannya membuat tragedi semisal tragedi yang menimpa ummul mukminin ‘Aisyah? Tidak, kan? Lalu buat apa kita tidak bisa memaafkan orang lain?

Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka… Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,

Bila tiga karakter pertama merupakan karakter baik yang dianjurkan dan perlu kita upayakan demi menjadi muttaqin, maka ada kondisi lain yang memanusiakan kita. Sebab manusia tempatnya salah. Tapi bersalah bukan berarti kita tidak bisa menjadi bagian golongan muttaqiin. Bukankah ayat ini menjelaskan? Hendaklah setelah bersalah, kita ingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya lalu tidak meneruskan perbuatan keji tersebut.

Ketahuilah bahwa muttaqiin tidak pernah berputus asa terhadap ampunan-Nya. Karena, kepada siapa kita akan kembali bila tidak kepada Allah? Semoga kita termasuk mereka yang ketika berbuat salah, masih terdapat Allah dalam hati kita sehingga kita mampu bersegera meminta ampunan-Nya lalu berharap mendapatkan rahmatNya dan bisa disertakan sebagai muttaqiin saat kelak kita bertemu dengan-Nya.

Allahu’a’lam bish showab

Advertisements

3 thoughts on “[FFL] Who are the people of Taqwa – Ust. Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s