[FFL] Capacity of Hearts: a Lecture from Sh. Omar Suleiman

Bismilahirrahmanirrahim

Setelah sebelumnya, FFL perdana bertema pernikahan, serial kedua ini temanya ‘capacity of hearts’. Saya pribadi bingung menyandingkan ‘capacity’ yang dimaksud oleh sh. Omar dengan bahasa indonesia yang tepat kira-kira akan menjadi kata apa? Pun awalnya bingung, ingin membawakan jurnal pertama ini dengan bahasa apa? Dengan bahasa asal video ini atau mencoba mengurainya ke dalam bahasa indonesia. Dan akhirnya, saya putuskan untuk mencoba merangkumnya dengan bahasa indonesia. Semoga makna awal yang dimaksudkan Sh. Omar dalam ceramahnya tidak terdistraksi terlalu luas karena penyampaian kembali oleh saya yang jauh dari sempurna.

Ceramah ini disampaikan Sh. Omar dalam khutbah jum’at di bulan April 2011 lalu, di Masjid Omar Al Farouk – California. Dalam menunaikan shalat jum’at, kita berniat berkumpul untuk memenuhi panggian dan menyerahkan diri kita beribadah sesuai perintah-Nya dan tuntunan Rasulullah. Tapi dalam waktu bersamaan, ada ratusan kita berkumpul disini dan ratusan-hingga-seribu pikiran berkeliaran dalam benak kita. Lintasan-lintasan pikiran di luar kegiatan ibadah jum’at kita. Beberapa di antara kita, duduk disini (shalat jum’at) hanya karena keharusan berada di sini. Beberapa di antara kita mengantisipasi hikmah apa yang akan kita dapatkan dari khutbah jum’at yang akan kita dengarkan.

Beberapa di antara kita ada yang menaruh ‘dunia’nya bersama dengan sandal yang ia titipkan di rak penitipan di masjid. Dan beberapa dari kita ada yang menunggu, hadir disini, mengharapkan sebuah perubahan di hatinya, di dirinya.

Mari kita bayangkan khutbah Rasululah dalam mimbar berdiri dengan kawanan shahabat yang berdiri juga mengelilinginya. Dalam khutbahnya Rasulullah membawa kabar baru, wahyu yang baru turun kepadanya. Tapi ada kala dimana dalam khutbahnya, yang ia sampaikan adalah pesan yang sama, ayat yang sama. Bahkan dengan pesan keimanan yang sama, yang sebelumnya mungkin telah diterima para sahabat, khutbah Rasulullah tersebut selalu berhasil menggerakkan hati para sahabat dan membuat mereka melakukan yang terbaik usai ‘dzikr’ dalam khutbah tersebut.  Penyambutan mereka atas apa yang disampaikan Rasulullah selalu lah yang terbaik meski hanya seumpama dzikrullah sederhana dengan ayat yang sebelumnya telah mereka terima.

Hasan radhiallahu ‘anhu berkata, “ tiap kali para shahabat meninggalkan masjid setelah shalat jum’at, mereka meninggalkan masjid dengan menangis.”

Ini lah, hati mereka telah siap menerima. Mereka memiliki apa yang dimaksud dengan ‘the capacity of hearts’. Kapasitas hati untuk menerima telah tertanam dalam hati mereka.

Why is that our heart do not have the capacity that the hearts of  Shahabat had? Why is it that our heart do not reflect upon the qur’an the way that the Shahabat reflected upon the Qur’an? What is it about that words that they were hearing that was different from what that we are hearing except it was from a different mouth –it was from the mouth of Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Bu it was the same words that they were hear.

Mari berkaca dari penggalan kisah shahabat terdahulu, yang mengajak kita memahami makna ‘capacity of hearts’. Pertama, Thufail ibn ‘Amr ad Dawsy. Seorang pemuka Yaman, kisahnya pernah saya sebutkan di sini. Tapi mari kita mengingat kembali. Thufail ibn ‘Amr ad Dawsy, seorang pemuka Yaman. Karakternya sebelum masuk Islam, merupakan karakter cemerlang. Tahu bagaimana ia masuk ke dalam Islam? Karena ‘innal hamdalillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastgahfiruhu’. Ketika itu ia, dalam thawafnya sengaja menyumbat telinganya agar tidak mendengar apa yang rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam katakan (ayat-ayat Al-Qur’an yang rasulullah bacakan).

Lalu, penggalan kisah lainnya, yang berasal dari Umar radhiallahu ‘anhu. Sebelum ayat-ayat Thaha menjadi sesuatu yang memutarnya menjadi muslim, ia telah bertemu ayat-ayat Al- Haqqah. Kala itu, Umar tidak dalam kebiasaannya (saat jahiliah), yakni minum khamr. Tidak dalam kesibukannya minum khamr, ia memutuskan untuk ‘beribadah’. Ia pergi untuk thawaf di Ka’bah. Saat itu lah ia bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sedang tilawah. Dengan penasaran, ia mendekat hingga jarak face to face dengan dihalangi sebuah hijab yang tidak tebal.

Umar menyimak, dalam hati terbersit dibenaknya, pastilah Rasulullah ini seorang penyair. Betapa yang dibacakannya terdengar indah. Seperti dijawab, saat itu rasulullah sampai pada ayat ke 41 Al Haqqah,” wa maa huwa bi qauli sya’ir.. –dan ia (Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan seorang penyair.” Umar terperangah, bagaimana bisa ia mengerti apa yang sedang ku pikirkan? Ia pasti tukang tenung.   Lalu ayat berikutnya, juga seperti bisa menjawabnya, berbunyi: “wa laa bi qauli kaa hin, qalilam maa tadzakkaruun –dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.”

Lepas kejadian tersebut, yang begitu tidak masuk akal bagi umar, ia jatuh sakit. Ia jatuh sakit saking berefeknya ayat yang dibacakan tersebut terhadap dirinya. Ia bingung. Agar ia tidak bingung, ia berniat untuk membunuh rasulullah. Mungkin dengan begitu kebingungannya menghilang, pikirnya. Dan dalam usaha menjalankan niatnya itu lah, ia bertemu ayat- ayat Thaha, ia mendengarnya dari sang adik perempuannya. Ia mencoba membacanya sendiri, hingga luluh lah ia. Luluh lah hatinya, lalu seperti itu saja ia menerima Islam. Dengan keislamannya ia memberi hadiah bagi mu’minin saat itu. Masyaa Allah. Allahu Akbar.

If you’re alreading reading the qur’an and you dont have the capacity to listen what the Qur’an is telling you, then, these words are nothing to you. These words are just routine for you. And that, there’s problem there.

Kisah Thufail ad Dawsy dan Umar mungkin biasa kita lihat sebagai betapa kuasa Allah yang memperlihatkan bagaimana sebuah hidayah itu bekerja pada manusia-manusia pilihanNya. Tapi di sisi lain, kondisi masuknya hidayah itu juga dipengaruhi kondisi hati si penerima. Hati yang siap, ini lah yang sedang dibicarakan Sh. Omar dalam ceramahnya ini.

Bisa jadi kita mengeluh, mengapa tidak bisa hati ini, diri ini menggapai kondisi seperti shahabat terdahulu? Dimana mereka selalu berurai tangis bahkan terhadap khutbah-khutbah yang isinya adalah ayat dan materi keimanan yang sama? Mengapa kadang, atau malah seringnya, nasihat-nasihat keimanan dari para asatidz terasa hambar? Mengapa tilawah tidak terasa meresap ke dalam hati dan tidak memberikan efek signifikan?

Bukan jawaban yang disodorkan oleh Sh. Omar, tapi dianjurkan olehnya untuk bertanya beberapa hal penting ke dalam diri, ke dalam sanubari. Pertanyaan ke dalam hati kecil kita masing-masing.

When you read Qur’an, Brothers and Sisters, are you ready to accept what its tell you? Are you ready to accept what its ruling? Are you ready to do as it tells you to do? Or are you read it already with some hesitation, like, ‘i wanna read suratu rahman cause it makes me feel good’ or ‘i’m not comfortable with suratun nisa cause that one not progressive enough for me’. See, you already reading it with the motive to push it away and you wonder why its not affecting your heart??

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada muhasabah lain yang perlu kita lakukan. mungkin ini telah banyak dianjurkan, tapi seberapa sering kita menerapkannya? Muhasabah diri kita sendiri sebelum Hari Penghisaban itu datang. Berapa banyak dosa telah dilakukan hingga menghalangi hati sampai tidak bisa menghargai Al-Qur’an dan apa yang disampaikannya dengan menangis? Mengapa tidak ada airmata atas ancaman-ancama Allah yang tersampaikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca? Bagaimana bisa kita meminta Allah untuk mengizinkan kita untuk meresapi, menikmati kesyahduan semacam itu bila membawa diri kita ke hadapan-Nya dengan hal-hal haram yang melekat pada diri kita?

…..

Allah… izinkan kami termasuk mereka yang membaca Al-Qur’an dan terpengaruh akannya, melakukan apa yang Engkau perintah, dan melakukan sunnah Rasul-Mu.

Allah .. izinkan kami termasuk Ahlul Qur’an. Anugerahi kami dengan kemampuan untuk menghargai Al-Qur’an. Izinkan kami bangkit nanti di Hari Pembalasan dengan mengucap firman –Mu dan melafaz Laa ilaa ha illallah sebagai kata terakhir sebelum kami terlepas dari dunia.

Advertisements

9 thoughts on “[FFL] Capacity of Hearts: a Lecture from Sh. Omar Suleiman

  1. Teguh Puja

    Seperti halnya rizki dalam bentuk kekayaan, jodoh dalam bentuk pasangan, dan bentuk cobaan-cobaan yang lain, kesiapan mental dan juga hati kita untuk menerima pelbagai hal yang Allah berikan itu kadang tidak mudah diterima dengan hati yang lapang. Bagaimana pun, keraguan, ketakutan dan hal-hal seperti itu menjadi salah satu penghalangnya.

    Mungkin kita sering menyebutnya dengan ‘penyakit hati’, ada saja masalah yang ditimbulkan hati kita itu di saat kita berhadapan dengan kebaikan dan kebenaran yang ada di hadapan kita. 🙂

    http://wholesketch.wordpress.com/2012/08/04/mendamba-temu/

      1. Teguh Puja

        Senang sekali membaca FFL yang dibuat Fara. Setidaknya itu bisa mengembalikan kembali ingatan-ingatan mengenai apa yang sudah dipelajari selama ini. 🙂

          1. Teguh Puja

            Ayo buat lagi tulisan yang baru ya. Semoga akhirnya nanti membawa lebih banyak manfaat bagi saudara-saudara kita lainnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s