Bersalah


Pondok Cabe,

Setelah memastikan bantuan direksi menuju tempat yang hendak saya kunjungi (selanjutnya, sebut saya lokasi x), saya berangkat pukul 06.30. Ah, iya, bantuan direksi yang saya maksud adalah bantuan aplikasi Google Maps. Tidak bermaksud mempromosikan, sebenarnya, tapi aplikasi ini sangat membantu (bagi saya yang sulit menghapal rute).

Ternyata, jalan yang saya tempuh sederhana. 17km, kata Google Maps. Dan butuh 25 menit, menurut perkiraannya. Tapi ternyata butuh waktu (hampir) satu jam. Maklum, saya tidak persis melewati jalan yang dianjurkan oleh Peta Gugel tadi. Tapi, jalan lain yang bisa diakses menuju lokasi yang sama. Tidak nyasar, kan, berarti?

Singkat kata (apa iya pembuka tadi, singkat?), saya berhasil ke sebuah gang yang jadi ancer-ancer. Masuk, sekitar 300 meter ke dalam untuk sampai ke lokasi x. Berhubung lokasi x berada di dalam kompleks perumahan, cukup sulit bagi saya menemukannya. Hingga ternyata saya terlewat, cukup jauh.

Saya menyadari itu karena untuk jarak 300 meter, jalan yang saya ambil sudah cukup jauh melebihi. Saya berniat bertanya kepada seorang ibu yang saya lihat di kejauhan. Ibu itu sedang menunggui warung yang ada di sisi kanan jalan. Untuk mendekat, saya butuh minggir ke sisi kanan, dong? Saya hidupkan sen (bagaimana deh pelafalannya) sebelah kanan. Untuk menandai kendaraan yang ada di belakang. Karena merasa cukup aman, saya perlahan menepi ke kanan. Naas, motor di belakang saya melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Alih-alih mengambil sisi kiri, ia malah berusaha menyalip saya di kanan.

Kebetulan yang tak mengenakkan juga, dari gang kecil yang ada di sebelah kanan, keluar sebuah motor. Crash! Terdengar bunyi hantaman dan motor yang terseret. Laju motor saya melambat, sementara motor yang ada di belakang saya terus saja melaju. Padahal laju ngebut-nya telah membuat motor lain (yang berasal dari gang kecil tadi) kaget dan rem mendadak hingga ia terjatuh bersama motornya ke bagian jalan yang rusak. Masya Allah, saya memarkir di depan warung. Bergerak melihat keadaan. Laki-laki yang terjatuh tadi mengalami luka di tubuh sebelah kiri.

Kaki (lutut), tangan, dan bahu lecet. Berdarah, dan sebentar lagi (sepertinya) akan membengkak. Melihatnya, tangan saya dingin. Bukan ngebutnya saya yang membuat dia terkaget, memang. Tapi karena inisiatif mengambil sisi kanan jalan, yang mungkin mengganggu motor di belakang saya hingga akhirnya ia tetap mengambil sisi kanan dan malah membuat motor lain nge-rem mendadak dan jatuh terluka.

Laki-laki yang terluka tadi, tidak menyalahkan saya. Sedang lelaki yang mengendarai motor di belakang saya malah terus saja melaju. Tak sudi lagi menengok ke belakang. Istilah lain, ia kabur. Saya? Sangat merasa bersalah, laki-laki yang terluka tadi hanya diobati seadanya. Diobati dengan obat merah. Padahal, ia hendak berangkat kerja. Tak tahu lah, apa pekerjaannya. Tapi peristiwa ini mengingatkan saya akan kecelakaan kecil yang saya sebabkan, dulu.

Pernah, dalam jalanan yang ramai, saya melaju cukup cepat. Karena jarak kian dekat dengan mobil di depan saya, akhirnya saya rem mendadak. Sayangnya, ada motor yang juga jaraknya tak jauh dari belakang saya. Ia akhirnya ikut-ikutan rem mendadak, hampir menyerempet saya. Tapi saya selamat, sedang ia yang terluka kakinya. Luka yang cukup membuatnya terpincang. Dilihat dari mana pun, itu salah saya kan? Tapi saat itu saya tidak membawa uang banyak. Hingga akhirnya saya ‘dibebaskan’ hanya dengan meminta maaf. Tapi sepanjang melanjutkan perjalanan, Masya Allah, saya terus merasa deg-degan. Menyesal hanya bisa meminta maaf dan tak bisa membayar kerugian.

Kecelakaan pagi ini, sebenarnya bermuara pada tindakan salah saya. Saya tidak ingin membawa pulang rasa bersalah. Hingga akhirnya saya menyelipkan uang, sambil meminta maaf pada laki-laki yang terluka (pagi ini).

Bukan. Bukan berarti rasa bersalah terbayar oleh uang yang seberapa itu. Tapi, setidaknya uang itu bisa meringankan penyembuhan lukanya. Setidaknya uang itu, membantu menghapus kekesalannya akibat kecelakaan pagi ini. Bersyukur bila uang itu bisa bermanfaat lebih.

Tak sepenuhnya tentang rasa bersalah, tapi terselip pelajaran untuk bertanggung jawab dalam berkendara.

Semoga luka laki-laki itu cepat pulih dan cepat kembali beraktivitas seperti sedia kala.

01.07 WIB
Dini hari yang berkawin dengan ‘melancholia’
Selatan Jakarta

*keterangan gambar
potongan video klip Falling – John Park
tidak nyambung,
ini hanya karena, usai tulisan ini, yang diperdengarka daftar putar lagu adalah suara gentle milik John Park.

Advertisements

2 thoughts on “Bersalah

  1. Assalamualaykum,
    Ziyy adakah tersedia es teh barang segelas untuk melepas dahaga? Abis keliling blog ini capek juga euy,,, πŸ™‚ Ini mah namanay blog penulis senior, setelah muter-muter memutuskan masuk arsip bulan Mei 2012, dan ketemu disini yang sedikit “lapang”.. #semogabisabelajarbanyakdariBlogIni

    Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s