Purnama Jumadil Ula


Sabtu sore, empat minggu yang lalu. Sejak awal perjalanan, bahkan sebelumnya, saya tahu betul bahwa malam itu akan muncul purnama yang selalu datang dengan bentuk terindahnya. Maka, rencana ke Caringin Tilu sejak sore hingga maghrib saat itu akan sangat menyenangkan (bahkan sudah terasa saat membayangkannya). Bukankah ada kesempatan untuk full-moon-gazing di langit yang berbeda dari langit yang biasa saya nikmati purnamanya?

Tapi siapa bisa tahu kondisi langit yang sekarang-sekarang ini tak bisa begitu diantisipasi kapan cerah atau mendungnya? Setelah sore hari sebelumnya Bandung diguyur hujan (saat kami ke Saung Angklung Udjo), maka dalam angkot yang bergerak menjauh dari hotel Amarossa, diputuskan bahwa rencana ke Caringin Tilu dibatalkan. Seharian itu langit tidak cerah tapi tidak begitu mendung, sejuk saja, sehingga ada kekhawatiran bahwa kami akan berpapasan dengan hujan. Lagipula sulit menjangkau Caringin Tilu dengan angkutan umum.

Lepas pembatalan rencana ke Caringin Tilu, sebenarnya saya biasa saja. Kecewa, tapi memaklumi. Masih mengantisipasi hujan, lagipula purnama tak bisa bersamaan muncul dengan hujan kan?

Yang semestinya langit Caringin Tilu menjelang senja, berganti menjadi langit atap Masjid Salman dan langit sekitar Dago. Tak satu pun titik air turun dari langit. Dan matahari tenggelam tanpa awan mendung. Bergerak mencari penganan oleh-oleh, lalu kembali ke Masjid Salman untuk shalat Maghrib dan Isya lalu selepasnya menuju restoran seafood (yang saya lupa namanya).

Tapi sejak maghrib malam itu, perasaan saya engga enak. Tahu kan kalo ada lintasan dalam benak,”duh, coba jadi ke Caringin Tilu.” Sesal-kesal kecil semacam itu, terus ada di benak saya selama menunggu pesanan di restoran seafood tempat kami makan malam. Saya memang moody, jadi saya semakin diam saja selama menunggu makanan yang, subhanallah, lama betul. Maklum, malam minggu, restoran itu penuh dengan pengunjung. Tapi, subhanallah (lagi), bahkan minuman pun lama sekali tak kunjung disampaikan ke kami. Sampai-sampai bergerak ambil sendiri di lemari pendingin yang tersedia disana (atau memang begitu sejak awal harusnya?).

Dalam masa menunggu malam itu, kami sibuk dengan handphone masing-masing, tapi masih sempat memecahkan keheningan dengan mengobrol. Saya beranjak membuka twitter. Naas, saya bertemu dengan tweet seseorang yang woro-woro keindahan purnama malam ini. Sebel lah saya jadinya, saya dibawah atap restoran, mendongak ke langit pun percuma karena pasti terhalang dengan atap restoran tersebut. Akhirnya, saya kunci handphone saya hingga lampunya meredup. Saya beralih ke buku Melukis Pelangi yang jadi bawaan peserta Gathering Blogger-Mizan siang sebelumnya. Beralih dengan menenangkan sesal yang merusuhi hati saya malam itu.

Saya tidak akan menyalahkan siapapun, tidak ingin menyalahkan diri sendiri juga. Karena tak dipertemukan dengan purnama malam itu pun sudah sesuatu yang pasti akan terjadi.

**

Semalam, empat minggu kemudian sejak malam minggu pertengahan jumadil ula itu, saya menemukan purnama benderang yang vertikal berada di atas kepala. Karena hampir vertikal sempurna, mendongakkan kepala lama-lama sambil berdiri pun akhirnya akan terasa juga pegalnya. Semalam, sebentar saja full-moon-gazing saya lakukan, di depan rumah. Saya tak punya loteng yang kondusif untuk dinaiki dan menjadi spot terbaik tiap purnama tiba. Pun tak enak juga bila saya merebahkan badan di atas motor, yang terparkir di depan rumah, demi menikmati purnama dan bintang-bintang. Tak elok dilihat manusia yang lalu lalang di depan rumah.

Dan malam ini, malam 14 Jumadil Akhir, hujan baru selesai. Saya belum menyengajakan diri berjalan keluar dan memandangi purnama. Mungkin nanti, saat mendung menghilang dan langit telah bersih. Atau saat pertiga malam terakhir, menatapnya dari balik jendela, saat purnama tepat menghadap rumah (sesuai perkiraan posisi purnama di langit sekitar rumah, selama ini).

Lalu, sudahkan purnama (yang diberitakan dalam kondisi primanya: Supermoon) muncul di langitmu malam ini?

Advertisements

3 thoughts on “Purnama Jumadil Ula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s