Terluka

Ia duduk di sofa, membebaskan kakinya. Matanya lurus ke arah tontonan yang sedang diputar di sebuah chanel TV. Bila ada seseorang di depannya kini, orang tersebut pasti menyadari dengan cepat bahwa ada yang tidak beres.

Mulutnya bungkam, seolah menikmati sekali tontonan dihadapannya. Atau sebaliknya, tak ada satu pun potongan tontonan yang berhasil dicernanya.

Ada segumpal sedih yang menyesakkan dadanya, kurasa.

Lihat saja,

.satu
..dua
…tiga

Dan benar, tiba-tiba pipinya basah. Tanpa suara, air terus mengalir dari matanya.

.satu
..dua
…tiga

Isaknya mulai terdengar.
Tiba-tiba ia memeluk kakinya.
Kurasa ia meredam isaknya yang dalam hitungan detik menyempurnakan perih pada gumpalan sesak di dadanya.

Aku tahu itu, aku merasakannya.

Persis saling berhadapan, aku balas menatapnya nanar.
Seseorang yang membawa tubuhku, sedang terisak dalam.
Tubuh yang memeluk rapat kakinya itu bergetar hebat.

Advertisements

One thought on “Terluka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s