Buku Berharga

Β 

Lepas maghrib, dari daerah Cipete, saya langsung bertolak ke Pejaten Village. Hendak ke Gramedia. Grab and buy buku keempat Supernova -Dee, yang berjudul Partikel.

Tak hanya Partikel, saya juga membawa pulang Catatan Cinta dari Mekkah -Awy Ameer Qolawun. Yang saya hajatkan memiliki buku itu untuk saya baca dan saya ulas setelahnya demi mengikuti lomba resensi. Karena hadiahnya lumayan sekali: paket buku senilai 750.000 untuk pemenang pertama! Wah sekali itu! Setidaknya untuk memenuhi koleksi saya πŸ˜€

Satu buku lainnya yang saya bawa pulang malam ini: Rahasia Penulis Hebat (menciptakan karakter tokoh). Buku yang isinya kumpulan sharing penulis ternama. Dan ternyata, royalti keseluruhan buku ini diperuntukkan bagi pembangunan rumah dunia, rintisan Gola Gong.

Jadi, begitu saja kah jurnal ini: melaporkan apa saja yang saya beli di Gramedia malam ini? InsyaAllah tidak. Ada hal lain. Ya tentang ‘berharganya’ sebuah buku. Saya seorang yang menyenangi buku lebih dari menulis buku sendiri (ya iyalah, saya belum lahir menjadi penulis -.-“). Dan saya lebih menyenangi membaca dari mengoleksi buku. Inilah alasan mengapa buku saya masih segitu (postingan sebelum ini). Saya mulai mengoleksi buku tiga tahun belakangan ini. Jangan salah, mengoleksi buku itu berat (meski tak seberat mengoleksi lukisan). Tentu saja uang yang jadi masalah.

Buku murah hanya terhampar atas nama even. Dibuat-buat, dan kemurahannya memiliki kadaluarsa. Dan seperti malam ini, atau bahkan tiap kali ke Gramedia, membeli buku itu benar-benar terasa menguras lembaran uang di dompet. Inilah maksud jurnal ini, saya kepingin ngedumel.

Kenapa sih, kalo buku itu karya seseorang yang sudah punya nama, karya seseorang yang sudah ngartis, harganya bisa semelambung namanya? Padahal kan sudah bisa diantisipasi bahwa buku itu akan best seller. Memang sih, ketebalan, kualitas cetak, jenis kertas itu sangat berpengaruh. Tapi, menurut saya ada pertimbangan lebih yang mestinya jadi pemberat: jerih menulis yang ditanggung penulis. Saya apresiatif sekali untuk penulis yang memang kesana-kemari mencari bahan yang menguatkan kisah yang menjadi karyanya. Penulis dengan pijakan literatur yang bisa ditelusuri jejaknya. Tapi selebihnya? Tolonglah, bila karya itu adalah fiksi, akan lebih baik jika harganya tidak melebihi harga buku nonfiksi keilmuan.

Belum lagi, saya pusing sebenarnya dengan berkembangnya buku yang terbit sekarang ini. Saya pusing, karena saya tipikal pembaca yang besar dengan buku yang saya baca. Apa maksudnya? Saya loyal terhadap penulis yang tak hanya berhenti pada satu judul yang dilahirkannya. Tapi sekarang? Muncul satu dua judul dengan nama pena-nya, lalu tenggelam? Kehadiran buku-buku seperti itu kadang mengecohkan rasa, karena bagaimanapun seduktivitas buku memang tak melulu tentang isi tapi juga kaver dan pemasarannya. Dan rasanya, satu dua kali, mungkin saya pernah β€˜tertipu’ atas kaver dan pemasaran beberapa judul buku. ah tapi mungkin ini juga masalah selera.

Dan pada dumel-an saya ini, saya rasa ebook mungkin bisa menjadi solusi. Karena tak semua yang bisa menulis mesti mengeluarkan buku (fisik). Maka beralihlah pada produksi ebook. Kecuali bila karya itu memang worth to read, worth to be own physically. Ini yang sedang saya bicarakan adalah, bagaimana caranya biar buku-buku yang sekarang banyak beredar ini adalah buku berkualitas. Buku-buku yang tak mudah lahir hanya atas nama proyek menulis. Buku-buku yang tak mudah lahir hanya demi memenuhi permintaan membukukan bila tema yang diangkat sebenarnya adalah sesuatu yang umum. Maaf bila ada yang tersinggung. Sekali lagi, saya cuma kepingin ngedumel disini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s