Penolakan

image

Hampir kebanyakan penolakan menghadirkan kekecewaan, termasuk penolakan yang semalam saya rasakan.

Dari seorang kenalan, saya mendapat kesempatan mengajar seorang anak rintisan homeschooling yang sudah lulusan SMA jurusan IPS, 2010 lalu. Anak ini, namanya Sithara, ingin ikut serta dalam SNMPTN tahun ini. Saya mengiyakan tawaran untuk mengajarnya, karena bayaran yang lumayan.

Selasa lalu, saya datang ke tempat tinggalnya di sebuah unit Apartemen Pakubuwono. Pengalaman pertama, menginjakkan kaki di kompleks apartemen yang memang benar-benar kompleks: rumit. Masalah keamanannya, maksud saya. Saya mengendarai motor untuk kesana, tapi ternyata tidak tersedia parkir motor. Belum lagi, sekuriti di main gate apartemen berbelit-belit. Belagak kurang tahu dimana letak parkir motor. Masa iya, dia tidak tahu ketersediaan parkir motor? Mestinya dari awal saja bilang kalau tidak ada lahan parkir motor. Kan saya tidak perlu berputar arah sebanyak dua kali, karena kebetulan jalan raya didepannya adalah jalan satu arah, hanya untuk melongok pelan-pelan mencari parkir motor. Hingga akhirnya, saya dapat kejelasan tidak adanya lahan parkir motor dari seorang sekuriti di kantor marketing yang tidak jauh dari main gate. Alhasil, motor saya titipkan ke sekuriti restoran Jepang yang ada diseberang Apartemen.

Masuk apartemen, ternyata sangat tidak sederhana kawan! Setelah melewati pagar, menuju lobby pertama, tas saya diperiksa. Macam di mall saja. Lalu di lobby pertama, mencatatkan diri di daftar pengunjung. Lalu melewati kolam renang yang menghubungkan tiap tower apartemen untuk mencapai tower sandalwood, tempat unit Sithara berada. Lobby kedua, saya pikir saya bisa langsung menuju lift. Eh ternyata, pintu kaca lift tidak bisa begitu saja dibuka. Lalu saya dipanggil oleh seorang resepsionis laki-laki, ditanya hendak kemana. Lalu saya bilang tujuan saya. Oh oh ternyata, sang resepsionis menelpon terlebih dahulu. Padahal di lobby pertama, resepsionis berbeda sudah menelpon unit tempat Sitha berada.

Setelah mengkonfirmasi, sang resepsionis mengantarkan saya. Ternyata, pintu kaca tadi memerlukan kartu pemindai untuk membukanya. Lalu saya ditunjukkan ke lift yang langsung menuju unit tinggal Sithara. Saya kira, lepas dari lift, saya masih perlu berjalan melalui lorong dan mencari pintu bernomor 23 D. Hal itu tidak diperlukan lagi, karena pintu lift terbuka tepat didepan pintu unit tinggal Sithara.

Sithara ini, ternyata keturunan india. Non-muslim, sepertinya dia nasrani. Karena beberapa pajangan yang terpasang di ruangtamu nya mengindikasikan demikian –ada salib dan sebagainya. Kenalan saya bilang, Sithara ini rada sensitif.  Dan setelah diberitahu kemudian, Sithara ini juga mudah lupa. Pantas saja, saat saya memulai dengan canggung, dia bilang lupa sama sekali dengan –setidaknya- materi-materi yang diujika untuk UN-nya yang lalu. Jadi, di pertemuan pertama itu saya mereview materi matematika yang paling awal semisal bilangan pangkat dan eksponen, juga materi matriks. Sithara ini pendiam sekali, mengangguk-angguk dan saya kira ia mengerti. Ternyata ….

Ternyata, satu pertemuan cukup bagi hubungan mutualisme kami. Karena semalam, saya dikabari kenalan saya bahwa Sithara minta ganti guru. T.T

Kaget. Jelas. Lalu saya langsung mengingat-ingat pertemuan kami  Selasa lalu. Apa saya terlalu cepat mengajarkan materinya? Ah, benarkah faktor ketidaknyamanan Sithara saja? Sayang banget sih kalo akhirnya hanya satu pertemuan begini. Karena sepulang dari apartemennya, saya mulai berpikir keras. Memikirkan penyajian materi berikutnya. Memikirkan bagaimana caranya, beberapa bulan ini cukup bagi Sitha mempersiapkan diri mengikuti SNMPTN. Tahu sendiri kan, soal-soal SNMPTN bisa satu-dua tingkat lebih sulit dari soal UN (saya bahkan sudah siap dengan satu buku pendalaman materi matdas dan satu buku soal SNMPTN IPS). Saya sempat jadi khawatir sendiri.

Dan ya, penolakan ini berarti hubungan kami berakhir. Padahal saya sudah akan mengantisipasi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dan ternyata penolakan ini rasa kasih tak sampai. Aah, semoga kami sama-sama belajar.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

One thought on “Penolakan

  1. 😀

    Memang rasanya tidak enak. Aku saja membacanya jadi tak enak juga. Tapi ya terimalah itu, bahwa ketidaksempurnaan kita selalu akan terlihat di mata orang lain 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s