Berapapun Usia Kita Dewasakan Diri dengan Cerita

*judul Majalah Tarbawi Edisi 270, 8 Maret 2012-Rabiul Tsani 1433H.

Hidup ini adalah kumpulan cerita. Cerita-cerita yang kemudian menghadirkan simpul makna. Jangan khawatir, cerita-bercerita adalah fitrah manusia. Dan dalam penjelasan tersingkatnya, cerita selalu bisa membawa makna dan menjadi tangga yang bisa mempermudah proses pendewasaan kita, dengan syarat: kita ‘awas’ terhadap cerita yang kita alami atau kita dapati dan merengkuhnya juga mengurainya menjadi pelajaran-pelajaran bermakna bagi hidup singkat kita.

Kawan, berikut saya kutipkan beberapa isi dari majalah Tarbawi edisi 270 yang semoga memberi kebermanfaatan.

“Manusia itu menyukai cerita, fitrahnya cenderung kepadanya. Kalau dikisahkan sepotong cerita kepadanya, ia terdorong mengetahuinya hingga selesai.” –Syaikh Faisal bin Saud Al Hulaibi

*

Siapapun kita, berapapun usia kita, kita memerlukan cerita. Bahkan bilapun kita merasa bukan pecinta cerita, pasti ada dalam hidup, yang kita jalani dengan cara belajar dari sepotong peristiwa. Itu bentuk lain dari cerita. Maka cerita bisa berupa apa yang kita dengar dalam bentuk riwayat. Bisa juga apa yang sedang terjadi dan kita saksikan langsung. Itu semua menghasilkan definisi bahwa hidup adalah panggung berbagi cerita. Kita saling berbuat, saling pula menyebar tanda. Karenanya, Asyirbashi mengatakan bahwa segala sesuatu bisa menjadi sumber ibrah dan nasihat bagi manusia. “Yang dengan itu manusia menguatkan sisi kebaikannya, dan mengendalikan sisi buruknya.”

*

Cerita memiliki berbagai pesan, bermacam kesimpulan, sekaligus nilai. Maka pelajaran pun menjadi banyak. Tetapi bila kita ingin memeras semua pelajaran itu, dan mencari satu kata yang menjahit keseluruhannya, kita akan mendapati bahwa satu kata itu adalah harapan. Pada akhirnya kita ingin memiliki sebuah harapan dibalik segala cerita yang kita jadikan asupan. Kita membangun harapan dari balik banyak cerita.

Kita menyemangati diri dengan harapan , sebab kita memasuki hari esok dengan ketidaktahuan kita tentang hari esok itu sendiri. Sebagian harapan itu kita ikatkan pada doa-doa. Sebagin link ita sandarkan pada pelajaran-pelajaran dari berbagai cerita dan peristiwa. Caranya, melalui cerita-cerita itu hati dan pikiran kita secara seksama kita ajak melakukan tafakkur, sebuah proses dimana kita merenungkan dan menghayati kehidupan ini.

Tafakkur itu sendiri, kata Fudhail bin Iyadh, “Adalah cermin, yang memberi tahu kita kebaikan diri kita, dan menunjukkan kepada kita keburukan kita.” Dengan mengetahui baik buruk diri kita, akan mudah pula bagi kita untuk merangkai harapan-harapan yang kita inginkan.

*

Harapan, optimisme, dan kesinambungan, adalah isu utama dibalik kebutuhan kita akan cerita. Semakin kita mampu mengambil manfaat dari sebuah peristiwa dan cerita, semakin kuat pula harapan yang bisa kita bangun. Ada banyak cerita disekitar kita. Yang panjang dan rumit, maupun yang singkat dan sederhana. Semua punya manfaatnya. Dibutuhkan hati yang kuat dan alat penghayatan yang baik untuk itu semua. Seperti dijelaskan Al-Qur’an, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.” –QS. Qaaf: 37

*

Pada fitrah kita, ada kecintaan pada cerita. Sedikit atau banyaknya. Maka memahami fungsi dan manfaat cerita secara benar, tak lain adalah bentuk dari memahami apa yang harus kita lengkapi untuk mengayomi fitrah kita.

Dalam prosesnya yang berkelanjutan, saat fitrah itu sendiri tumbuh menemukan apa-apa yang harus diisikan ke dalam relung-relungnya dari berbagai cerita, saat itulah kita akan merasakan betapa kita tumbuh ke arah yang benar. Itu hanya kata lain dari menambah hari demi hari dengan menjadi lebih dewasa melalui cerita.

*

Berkomunikasi dengan cerita, dengan demikian, sejatinya adalah sebentuk persuasi, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Kita bisa belajar dari cerita. Kita bisa merengguk semangat dengan menyimak cerita . sebaliknya pula, kita bisa mendidik, mengajar, atau berbagi semangat dan nilai bersama orang lain dengan cerita. Bila lelah dan putus asa datang menggoda, kita bisa membangkitkan diri dengan cerita.

Cerita inspiratif akan menjadi teman hidup bagi kita, siapapun, sampai kapan pun. Karena, pada dasarnya kita semua suka cerita. Karena, kita adalah makhluk pencerita.

*

Begini memang, membeli majalah Tarbawi memang selalu worthed. Suplemen banget. Untuk lebih lengkapnya, mangga, dibeli majalah Tarbawinya. Meski ini spoiler, semoga saya tidak dimarahi tim Tarbawi biar kebermanfaatannya berkah. Selamat membaca 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Berapapun Usia Kita Dewasakan Diri dengan Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s