Airmata

Ini bukan perkara sulitnya menangis, karena kantung mata saya sangat aktif.

Membaca novel, saya menangis. Menonton film, saya menangis. Bahkan mendengarkan lagu, airmata saya bisa begitu saja mengalir, tanpa aba-aba. Pun tadi, dalam perjalanan kesini (acara milad FLP), beberapa kali airmata saya jatuh. Bersyukur kaca helm bisa dimanfaatkan untuk menyembunyikan wajah yang mungkin tadi sembap, sehingga saya tak perlu malu-malu amat.

Mengapa saya mudah menangis? Saya rasa itu bawaan karakter melankolis yang dominan dalam diri. Emosi mudah dikendalikan situasi. Semisal pagi ini, sebenarnya saya antusias sekali menyambut hari ini. Dua pertemuan menjadi penyemangat saya atas hari ini. Tapi pertemuan pertama, tak bisa dibilang gagal (sebenarnya), tapi juga tidak berhasil. Dan itulah yang menjungkirkan mood saya seketika hingga saya membawa sesak dan menumpahkan airmata selama berkendara motor. Tidak sesederhana itu, tapi tidak mungkin saya menceritakannya panjang lebar disini.

Meski baru saja menghapus airmata, saya tetap rindu menangis. Saya rindu menangis yang konteksnya berbeda.

Tepatnya, saya rindu menangis dengan lepas dalam sujud dan dihadapanNya. Dengan segala pikiran yang memenuhi benak, saya ingin mengadu banyak-banyak. Tapi naas, aduan-aduan itu menyesaki dada bukan dalam saat yang tepat.

Meski membawa keberatan-keberatan dalam shalat saya, belakangan saya tak bisa berlama-lama. Tapi diluar shalat, dan diluar seusai shalat, keberatan-keberatan tersebut tetap menghantam dan menyesakkan. Dan selalu berhasil meluruhkan airmata.

Kenapa? Kenapa sulit airmata meluruh dalam sujud tapi mudah saja disaat kesendirian lainnya yang lepas konteks ibadah?

Ya Allah, saya rindu meluruhkan airmata ini tepat saat berdialog denganMu disaksikan hamparan sajadah.

Ya Allah, segerakan saya menggenapkan rindu semacam itu. Hamba takut bahwa ini semacam tanda tercipta jarak. Hamba takut bahwa ini adalah perkara semakin menjauhnya hamba dariMu..

Ya Allah…

Posted from WordPress for Android

Advertisements

2 thoughts on “Airmata

  1. mampu menangis dalam shalat adalah sebuah anugerah, dan menyesali ketidakmampuan menangis itu juga sebuah hidayah…
    semoga air mata ini mengalir deras hanya untuk-Nya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s