Sungguhkah cinta kita?

Menyatakan secara lisan bahwa kita mencintai sesuatu harus diiringi dengan konsekuensi dan pengorbanan yang tidak ringan. Imam Al.Hasan Al Bashri rahimahullah menyinggung hal ini dalam ungkapannya yang panjang, “Jangan merasa tersanjung dan tertipu bila engkau hanya mengatakan ‘seseorang akan bersama siapa yang ia cintai’. Sebab perkataan itu harus memiliki konsekuensinya. Engkau takkan bisa bertemu dengan orang-orang yang taat sampai engkau benar-benar mengikuth jejak langkah mereka, engkau ikuti petunjuk mereka, engkau tiru sunnah mereka, engkau lewati hari-harimu dengan berjalan diatas prinsip-prinsip mereka, engkau harus berupaya benar-benar menjadi bagian dari mereka, meniti jalan mereka, menjalani tata cara mereka, meskipun ternyata engkau tidak sempurna dalam melakukan itu semua. Engkau lihat orang-orang Yahudi dan Nashrani serta para penghamba nafsu rendah, mengatakan bahwa mereka mencintai nabi-nabi mereka padahal mereka tidak bersama nabi mereka lantaran mereka mengingkari para nabi dalam perkataan serta menempuh jalan selain prinsip yang diajarkan para nabi. Sebab itulah akhir mereka adalah neraka. Semoga Allah melindungi kita dari neraka…”

Rubrik Ruhaniyat Majalah Tarbawi edisi 269, Rabiul tsani 1433 H.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

One thought on “Sungguhkah cinta kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s