Tudung Hitam*

*editorial majalah Tarbawi edisi 268, Rabiul Awwal 1433H, 9 Februari 2012

Tiba-tiba perempuan itu bertudung hitam. Setelah menabrak kerumunan pejalan kaki secara mengerikan, wajahnya sangat datar. Tak ada reaksi yan layak, apalagi histeria rasa bersalah. Apakah ia memang selalu membawa kain hitam itu, dihari-hari yang ia isi dengan menelan ekstasi, entahlah. Delapan orang tewas seketika. Satu lagi menyusul setelah dirawat beberapa saat dirawat. Yang lain mengerang diruang-ruang perawatan. Ini mungkin bukan soal kerudung apalagi jilbab. Karena toh tidak sepenuhnya menutupi aurat. Maka kita tidak tahu pasti apa maksudnya.

Tetapi setidaknya kita belajar tentang pelarian diujung kebengalan. Didetik ketika seseorang sadar bahwa kegilaannya dihentikan oleh trotoar atau besi –besi halte, sekelebat hadir perasaannya sebagai manusia yang lemah. Dan bila tudung hitam itu punya arti, kira-kira ia menjelaskan bahwa perempuan itu merasa perlu berlari kepada ‘simbol keterhubungan’ dengan Tuhan. Tapi terlalu ringkih untuk disebut sebagai kain hitam lambang pertaubatan.

Tiba-tiba perempuan pembobol bank itu bertudung hitam. Sejak kali pertama diperiksa polisi hingga persidangan ia seringkali menutupi kepalanya dengan kain hitam. Dengan bermilyar ruiah ditangguk dari uang nasabah, telah banyak lenggak-lenggok kehidupan gemerlap yang ia santap. Tapi ini mungkin bukan soal kerudung atau jilbab. Sebab toh tidak seutuhnya menutup aurat. Maksud dan niat memakainya hanya dia yang tahu.

Tetapi setidaknya kita belajar tentang pelarian diujung kerakusan. Dihari ketika seseorang sadar bhwa perilaku garongnya mendadak dicokok hukum, sekelebat hadir perasaannya sebagai manusia yang hanya manusia. Dan bila tudung hitam itu punya makna, barangkali ia menjelaskan bahwa perempuan itu merasa perlu berlari kepada ‘simbol keterhubungan’ dengan Tuhan. Tapi terlalu ringkih untuk disebut sebagai lambang pertaubatan.

Tiba-tiba perempuan itu bertudung hitam. Tidak semata kerudung atau jilbab. Bahkan ia bercadar. Dihari-hari pemeriksaan dan persidangan untuk kasus korupsi yang sangat mengguncang negeri ini, ia tampil sangat berbeda. Ini bukan tentang jilbab atau cadar. Keputusan menutupi aurat dengan cadar, punya tempatnya secara lahiriyah dalam Islam. Tetapi kita tidak tahu dan tidak bisa menghukumi apa yang tersembunyi didalam hati orang.

Para perempuan itu tiba-tiba bertudung hitam. Kita tidak tahu pasti apa maksudnya. Tetapi setidaknya kita bisa bercermin. Bahwa terlalu banyak orang yang hanya berlari kepada Tuhan ditubir keruntuhannya. Dan, setelah kebejatannya memakan begitu banyak korban. Itupun pelarian yang rapuh. Hanya ‘simbol keterhubungan’ yang masih multitafsir. Bahkan bilapun tudung hitam itu diartikan sebagai sepotong rasa bersalah, ia masih menghajatkan sangat banyak pembuktian lanjutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s