Thufail Ibn Amr Ad Dausi

Thufail, seorang pemuka kabilah Daus, Yaman. Yang secara fitrah, baik kepribadiannya. Hidayah Allah sampai kepadanya dengan mendengar ayat-ayat AlQur’an. Saat itu, ia sedang thawaf di Mekkah. Ia sambil menyumbat telinganya, saat thawaf demi tidak mendengarkan ‘syair’ yang dilantukan Muhammad. Saat datang ke Mekkah, dia diberi informasi yang sangat tidak baik tentang Muhammad. Muhammad diperolok-olok kafir Quraisy dihadapannya. Meski ia sendiri seorang yang sebenarnya baik, ia mengantisipasi perkataan kafir Quraisy.

Dalam izin Allah, penyumbat telinganya terjatuh. Bersamaan dengan itu, ia mendengar ayat Al Qur’an yang dibaca Muhammad dalam shalatnya. Seketika itu pula ia merasa takjub. Sebagai seorang yang menyukai syair-menyair, dia paham betul bahwa ‘syair’ yang dilantunkan Muhammad terlampau indah bila ‘syair’ tersebut merupakan ciptaan manusia. Hingga kemudian ia mendekati Muhammad, menyatakan keislamannya. Dikuatkan keyakinannya saat kemudian ia dijamu dirumah Muhammad. Olok-olok Muhammad oleh kafir Quraisy yang didengarnya dahulu, runtuh seketika. Ia mengimani bahwa Muhammad memang pembawa risalah dan mulia dengan segala akhlak yang didapatinya selama bersamanya.

Sebelum kembali ke sukunya, ia meminta didoakan Rasulullah agar dakwahnya kepada kaumnya tidak mengalami kendala berarti dan dapat diterima luas oleh kaumnya. Dalam izin Allah, keberkahan bersamanya, meliputinya dan meliputi upaya dakwahnya. Allah menjadikan kepalanya bercahaya, lalu ujung cambuknya bercahaya. Cahaya yang kemudian menjadi penjelas keberkahan langkahnya.

Keberkahan juga terlihat dari kemudahannya mengajak ayahnya dan istrinya untuk ikut kedalam agama Islam yang baru dianutnya. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia berhasil mengislamkan 200 penduduk Daus. Subhanallah. Kemudahan mengislamkan orang-orang yang bahkan Rasulullah tidak dapatkan.

Suatu kala, Thufail menyampaikan bahwa dirinya bermimpi. Mimpi yang aneh, menurutnya. Meski tetap saja dianggap bahwa mimpi tersebut memiliki tabir yang baik oleh pengikutnya yang mencintainya. Thufail bermimpi. Kepalanya terlepas dari raganya, kemudian burung keluar dari mulutnya. Anaknya memiliki permintaan yang tidak bisa dipenuhinya kecuali di kesempatan yang berbeda. Mimpi tersebut, adalah tabir kematiannya. Kelak, ia syahid dengan kepala yang terpenggal, terputus dari badannya. Subhanallah, meski telah lepas dari raganya, dua kalimat syahadat justru terlafal dari mulutnya ketika kepala lepas dari badannya. Ini yang dimaksud kepalanya lepas dari badan dan burung keluar dari mulutnya.

Dan tentang anaknya, Amr bin Thufail yang menginginkan untuk syahid bersama dengan ayahnya, justru pulih total setelah mengalami luka parah pasca perang Yamamah. Dan ia, menjemput syahidnya, di perang Yarmuk. Keinginannya untuk syahid dijemput ditempat yang berbeda dari Ayahnya. Wallahua’lam

Semoga kita termasuk yang bisa memetik pelajaran atas kisah-kisah terdahulu.

Advertisements

6 thoughts on “Thufail Ibn Amr Ad Dausi

  1. aku pun begitu terpukau oleh kisahnya thufail ini..dan sperti perbicangan kita semalam di parkiran, kisah thufail ini jg baru ku dengan kemarin… 🙂 subhanallah semoga bisa rutin ikut majelis itu ya.. 🙂

    1. faraziyya

      subhanallah semoga bisa rutin ikut majelis itu ya..

      aamiin.
      oia kak, aku nulis ulang catatan kajian kemarin disini
      kalo mampir, cb dibaca mgkn ada yg perlu dibenerin. hehhe 😀

  2. Pingback: [FFL] Capacity of Hearts: a Lecture from Sh. Omar Suleiman | Faraziyya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s