Tentang Menghadirkan Sirah dalam Fiksi

Hal ini, riuh akibat pertanyaan seorang peserta kajian semalam. Yang ditanyakan adalah batasan menghadirkan sirah dalam fiksi. Demi menikmati sirah, novel fiksi based on sirah Rasulullah kan sekarang lagi laku tuh. Tapi mengganjal kah dalam benak kita tentang mencampurkan fiksi dan sirah itu, yang benar, bisa sejauh mana?

Dalam jawabannya, Ust Salim bilang, bahwa penulis harus hati-hati. Karena ada kemungkinan, apa yang tertulis dalam fiksi sirah tadi menyinggung sebuah hadis dimana jatuhnya adalah neraka bagi mereka yang menisbatkan Rasulullah. naudzubillah. Kebolehan hanya ada pada segmen memodifikasi latar suasana, dan mesti sesuai dengan sirah yang menjadi rujukan. Tidak boleh sampai memodifikasi, ucapan, atau perbuatan Nabi. Bila pun memodifikasi kalimat, redaksinya mungkin bisa diubah tetapi harus berhati-hati karena makna yang ditunjukkan mestilah sama.

pfiuh..saya pribadi jadi ingat beberapa novel. seperti novel Humaira, MLPH juga MPPH, sampai novel Pengikat Surga yang bercerita tentang Asma’. Rasanya ingin memindai sekali lagi, buku-buku itu, dan berhati-hati. Sebuah pelajaran penting sekali tentang ‘aturan main’ menggunakan sirah dalam menjadi sandaran tulisan kita.

oia, tentang isi kajian #majelisjejaknabi edisi 20 Januai 2012, di Masjid Pondok Indah, ulasannya disini

semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Menghadirkan Sirah dalam Fiksi

  1. faraziyya

    MLPH – Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
    MPPH – Muhammad: Para Pengeja Hujan
    dua2nya bikinan Tasaro GK, ngehits loh. belum pernah denger tah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s