[Trip] Bekal Keingintahuan

Saya ingat, Yayan, Pemimpin Redaksi Media Center dimana saat itu saya menjadi koordinator peliputan dibawahnya, duduk bercerita. Membagi nasihat. Dia bilang, kami, wartawan (bila bisa disebut demikian) perlu memiliki rasa skeptis. Saat mewawancarai narasumber, wartawan perlu menjadi seorang yang bodoh. Mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan dasar. Pertanyaan-pertanyaan yang bila dibunyikan, tidak terlihat bahwa kita memiliki banyak pengetahuan atas tema berita yang kita angkat. Dan saya, yang kurang menyukai kata skeptik, menyebutnya bekal keingintahuan.

Saya, yang pernah bergabung menjadi repoter di media kampus, memang termasuk orang yang sulit bereksplorasi dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan sempat menjabat sebagai korlip, saya diuntungkan karena berkurangnya kegiatan reportasi. Karena tentunya, artikel yang saya kerjakan tidak sama banyaknya dengan reporter-reporter lain. Karena pengurangan tugas reportasi itu, demi menunjang kerja korlip yang juga mengatur pendistribusian berita, pengerjaannya, mengawasi penyuntingannya hingga pengerjaan pengaturan tataletak konten-konten tabloid. Maka, saya hanya lebih banyak tampil di rapat-rapat redaksi. Demi memimpin rapat, brainstorming ide-ide artikel yang akan diangkat dalam tabloid, dan berada di stase akhir yakni saat artikel-artikel matang siap menjalani proses pengaturan tataletak dan desainnya.

Kemarin, hari senin sore, saya bertolak menuju Semarang dari Blora. Menggunakan jasa mobil travel. Saya dapat tempatduduk disisi supir, persis. Mestinya saya mengajak sang supir berbincang. Apa saja, sok dekat saja. Syukur-syukur bisa membantu sang supir untuk tidak terlelap dan tetap fokus mengemudi. Tapi sayang, hanya sedikit kata yang keluar dari mulut saya. Apalagi pertanyaan, hanya satu-dua. Selebihnya, saya diam. Menggigil dihantam AC mobil yang sejurus dengan lutut dan anginnya mengarah ke wajah dan tangan.

Sebenarnya bukan perkara tidak memiliki keingintahuan. Karena saya punya rasa ingin tahu itu dalam benak. Hanya saja, saya tidak begitu berusaha untuk menjawab keingintahuan itu dengan meluncurkan pertanyaan, berbincang dengan lawan bicara saya yang saat itu adalah seorang supir yang sedang mengemudikan mobil travel. Demi Tuhan, saya merutuk mulut saya yang terkunci. Kenapa sampai begitu rapat terkunci? Padahal saat itu saya tidak tertidur sama sekali. Kenapa dalam keterjagaan itu, tidak banyak cerita yang bisa saya ambil, saya dengar? *sigh

Dan lalu, hal ini terkait dengan kapasitas yang mestinya, secara natural, ditemui atau dimiliki oleh pejalan (traveler). Bekal keingintahuan adalah bekal terbesar yang memuluskan perjalanan-perjalanan yang dilakukan. Bekal keingintahuan inilah yang membuat buncahan-buncahan perasaan selama perjalanan, menjadi lebih terasa. Yang membuat mata dan hati para pejalan bia sedemikian berbinar-binar menikmati perjalanan yang mereka tempuh.

Dan tentunya, bekal keingintahuan ini sebenarnya tidak sulit. Benar-benar tidak sulit, kecuali bagi saya. Setidaknya hingga saat ini. Meski begitu, saya masih mempunyai tujuan-tujuan perjalanan yang ingin saya tempuh. Dan kala itu, semoga bekal keingintahuan itu saya bawa sedikit demi sedikit. Dan semoga mengayakan perjalanan yang saya lakukan.

Saya bukan pejalan sejati. Tapi saya tidak mundur, saya sedang menjadi seorang pejalan. Yang juga akan kaya karena perjalanan-perjalanan yang dilakukan, meski sederhana. Doakan ya, kawan.

Catatan: melakukan perjalanan, menyusuri bumi Allah itu, sungguh! Sungguh membuatmu merasa kekurangan, membuatmu selalu tak puas, membuatmu merasa kesyukuranmu selalu tak cukup tak pernah cukup dan mengayakan hati dengan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang membuat kearifan menjadi lebih mulus jalannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s