[Sidestory] Proposal Cinta dan Catatan Terakhir

Masih ngga jauh dari review yang barusan saya publish. Ini tentang contoh proposal cinta bagian Do’aku. Ini beberapa bait yang saya kutipkan disini:

 

“Allah, pertemukan kami dengan seseorang yang cantik imannya. Yang selalu menjaga dirinya dalam kesucian. Yang akan menjadikan dunia laksana surga, sebelum menikmati surga yang sebenarnya. Yang mampu satukan dua perbedaan dalam satu ikatan suci pernikahan. Yang mampu melihat kekuranganku sebagia kesempatan baginya untuk melengkapiku dan menjadikan kelebihanku sebagai kekuatan baginya.

Allah, pertemukan kami dengan istri yang dapat melengkapi hidup kami. Yang dapat saling mengisi seperti matahari dan bulan. Yang dapat menimati perjalanan rumhtangga dalam kesetiaan ruang keshalehan dan kasih sayang. Yang rela menjadi pendamping hingga sejarah penutup halaman terakhir perjalanan. Hingga rambut kami memutih. Hingga ajal kan datang menjemput diri”

 

Membaca bait itu, ingatan saya langsung tertuju ke bait-bait lirik lagu Catatan Terakhir –  Thufail al Ghifari. Lagu yang begitu akrab ditelinga saya karena begitu keranjingannya saya terhadap lagu bagus itu. Dari judulnya, Catatan Terakhir, saya kira banyaknya orang yang mendengarkan lagu itu akan terbayang dzikrul maut. Memang tidak salah. Tapi, saya, setelah berkali-kali memutar lagu itu justru menangkap makna yang begitu menghidupkan. Catatan Terakhir menjadi semacam rumusan mula. Termasuk yang menjadi inspirasi penulis ini, yang mengambil makna menghidupkan tadi dan mengaitkannya menjadi doa yang identik dengan perkara berpasang-pasangan.

 

Saya sih, mulanya, tidak buru-buru mengaitkan dengan perkara berpasang-pasangan. Maklum lah, saya masih polos . Tapi karena bait doa dalam buku kang Rifa’i ini, saya jadi mulai memikirkan makna lagu Catatan Terakhir ke ‘arah sana’. Dan, pada akhirnya, saya jadi mengerti alasan seorang teman yang kerap menghadiahi lagu ini (bait-bait dan maknanya) bagi kakak-kakaknya yang menikah, disamping tentunya mendoakan keberkahan. Karena memang maknanya bukanlah perkara ‘catatan terakhir’ tetapi bait-baitnya justru bersifat ‘pengantar’.

 

Lirik Catatan Terakhir:

 

Terjagalah dari segala maksiat / dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat / disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa jiwa / yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri

ini bukan cerita cinderela / bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya / tak dapat diukur tapi bersama Allah / semua pasti akan teratur

dinyatakan dalam ketulusan / dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam / bersemi dari pupuk akhlak yang hebat / berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat

tidak, ini takkan dimengerti / oleh hati yang penuh dengan dusta / yang buta oleh warna warni dunia yang fana / ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan / keteladanan bagi generasi berikutnya

keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah / dan menjadi manis seperti kurma / diawal rembulan yang indah

untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan / dan hanya mau mencium / atas dasar kemurnian kita berkata cinta / karena bukan apa siapa dan bagaimana / tapi luruskanlah dalam wangi surga / karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta

hingga rambut kita memutih / hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih / hingga ajal kan datang menjemput diri ini

inilah cinta sejati / cinta yang tak perlu kau tunggu / tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh / tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu /

petunjuk yang selalu datang / dari ruang para malaikat / yang sanggup melihat tak kenal pekat / tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju / takkan habis oleh waktu

karena kecantikannya tersimpan dihati / dalam pesona yang selalu menjaga jiwa / yang menjadikan dunia menjadi surga / sebelum surga sebenarnya

yang membuat hidup lebih hidup / dari kehidupan sebenarnya / seperti sungai yang mengalir
bening airnyapun selalu artikan keseimbangan syair

yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan / untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan / dan kelebihan sebagai kekuatan / lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan / dalam kesetiaan ruang kesolehan dan kasih sayang

bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan / para kesatria sastra jihad dan dakwah / tercatat dalam untaian rahmat berakhir / dalam catatan terakhir yang mulia / digariskan hanya oleh ketetapan Allah Subhanahu wata’ala

hingga rambut kita memutih / hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih / hingga ajal kan datang menjemput diri ini

Lagu bisa diunduh disini

Advertisements

2 thoughts on “[Sidestory] Proposal Cinta dan Catatan Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s