Cerita Lain Saat Melingkar

Seorang teman, selingkaran, menyampaikan kepada saya bahwa ada seseorang yang akan bergabung dalam kegiatan melingkar hari ini. Seseorang yang dalam beberapa bulan terakhir baru rapi menutup auratnya. Seorang wanita atraktif, cantik, cerdas dan begitu sociable. Seorang yang tidak pernah terlintas dalam benak bahwa ia akan bergabung, duduk melingkar bersama kami.

Ummi, sengaja tidak menyamakan kegiatan melingkar kali ini dengan pertemuan-pertemuan kami sebelumnya. Demi menjaga frekuensi masing-masing kami. Dan saya sempat menyadari bahwa untuk pagi ini, ummi mengenakan jilbab biru rapi. Bukan kerudung langsung seperti biasa dia menemani kami. Bikin terlintas dalam hati,”ih ummi, berdandan rapi-nya kenapa ngga sejak pertemuan-pertemuan sebelum ini?” tapi itu hanya berakhir di hati saja. Tidak saya sampaikan, buat apa pula?

Seseorang ini, yang kali ini beririsan dalam lingkaran rutin kami, adalah seseorang yang menempuh jalan tidak biasa dalam menutup rapi auratnya. Saat mengungkapkan keinginannya berjilbab, ia ditentang ibunya yang memang lingkaran aktivitasnya justru memihak pada feminisme. Ibunya trauma dengan kelakuan jilbaber yang tetap berperangai tidak baik, yang sering ditemuinya. Ibunya berargumen, tidak ingin anaknya hanya berjilbab untuk kemudian, saat imannya menurun, jilbab itu dilepasnya. Ibunya tidak ingin ia tidak lagi terlihat cantik gara-gara jilbab yang membalut tubuhnya. Ya memang, sebelum ini pun, ia adalah seorang yang modis. Begitu memperhatikan penampilan, berani menjadi tren bagi lingkungannya. Dia bilang, butuh berbulan-bulan, seksama meyakinkan ibunya tentang keinginannya berjilbab.

Ia seorang wanita cerdas, yang saya rasa, mendapati hidayahnya bersama dengan penerimaan pengetahuan Islam secara nalarnya. Yang saya harap, basis hidayahnya akan kuat, menghiasi kehidupannya, akhlaknya, keseluruhannya. Saya, dan teman saya yang membawanya, sama-sama berharap dia pun menjadi agen rahmatan lil ‘alamin. Akan sangat menyenangkan sekali mendapatkan orang-orang baru. Bersamaan berjalan, dengan jumlah pasang kaki yang lebih banyak. Dengan genggaman tangan yang terbentuk, rantainya memanjang dan kuat. Subhanallah walhamdulillah.

Ini sedikit cerita lain saat melingkar hari ini. yang membuat ummi mengajak kami bernostalgia dengan cerita-ceritanya tentang tarbiyah dimasa awal 90an. Yang secara pribadi, membuat saya mengenang mama dan cerita hidayahnya. Yang membuat saya bersyukur, meski materi yang kami dapatkan hari ini mengulang materi awal.

Sedikit cerita lain saat melingkar yang membuat saya merasa tak sia-sia menembus hujan demi berkumpul dan berdzikrullah bersama. Subhanallah walhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s