[Trip] Membuka Diri

Minggu, 18 Desember 2011

Pukul 17.14 dan saya telah berada di stasiun tanah abang. Kereta Bengawan baru akan berangkat sekira 2,5 jam lagi. Saya memutuskan duduk di bangku panjang yang diperuntukkan bagi penumpang. Bersisian dengan sepasang laki-perempuan, di sebelah kiri, yang sedang asyik berbincang, berbagi jajanan, dan berbagi canda-tawa. Diseberang, arah serong kiri, pun ada sepasang laki-perempuan yang tenggelam dalam aktivitasnya menyisihkan sampah gelas plastik. Entah, akan di-apa-kan nantinya, saya tidak berani menyeberang demi bertanya pada mereka.

Menunggu seperti ini, inginnya saya mendengar musik dari pemutar musik yang ada di handphone. Tapi saya urung, demi baterai handphone terjaga. Maka buku ‘Meraba Indonesia’ yang baru saya beli, sore ini juga, membantu saya menyelisihi waktu-waktu menunggu seperti ini.

Tapi kemudian kelebatan dalam pikiran membawa fokus saya melayang. Teringat istilah seorang (mantan) classmate, yang menanggapi racauan saya dalam jejaring sosial, bahwa saya ini sedang galau pra-perjalanan. Dan tanggapannya itu benar, saya akui demikian. Sebelum-sebelum ini, saya cuma tahu betul bahwa saya ingin keluar Jakarta, memikirkan biaya yang perlu saya siapkan, tapi tak menetapkan waktu perjalanan. Hingga akhirnya, mengunjungi ibu seorang teman menjadi alasan. Terkesan tergesa, saya membeli tiket terlebih dahulu dibandingkan meminta izin ayah.

Dan saya bisa saja langsung menuju Blora, tempat sahabat yang ingin saya kunjungi, tapi kemudian tiket yang saya beli adalah tiket menuju Jogja. Entah, mungkin memang dasarnya saya ingin kesana. Ingin disampaikan kesana.

Tak membuat itinerary, dilimpahi kuasa keputusan tujuan, moda transportasi selama perjalanan, saya keder. Hey, i’m not such a pro-traveler. But, can i say that to the one who believe in our journey together? She is willing to accompany me, it should be enough.

Satu hal terakhir, yang memenuhi benak saya sore ini, tentang sebuah bekal yang mesti saya bawa sepanjang perjalanan ini dan (mungkin) perjalanan nanti-nanti: membuka diri, perlu membuka hati. Karena saya bukan tipikal orang yang mudah membuka komunikasi, membuka diri menjadi perlu. Karena saya seringnya merasa cukup dengan apa yang ada dibenak, membuka diri bisa menjadi jalan untuk berbagi pikiran. Karena saya tipikal orang yang cepat merasa cukup, membuka diri menjadi cara untuk tetap haus. Dan dengan membuka diri, meski tak mudah memulainya (bagi saya), perjalanan ini akan lebih menyenangkan dan bermakna. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s