Menjauh untuk Pulang

Pukul 15.53, sekitar empat jam lagi, saya akan berada dalam bis menuju Jakarta. Pulang. Menemui wajah-wajah yang tak asing. Mendapati bahasa percakapan yang tak lagi asing. Meraih tangan Ayah, untuk dicium. Menyisir ingatan tentang Mama, yang hanya bisa dibaui lebih dirumah, di Jakarta.

Tak jarang yang bertanya,” Java Touring-kah?”
Saya malah bingung menjawabnya. Sejatinya saya mengambil jarak 14 Jam, menuju Blora, demi menemui saudari. Menjenguk ibundanya. Tapi dalam 14 Jam perjalanan itu, saya mengambil waktu berisitirahat di Jogja. Mengambil keuntungan dengan menjenguk keluarga saudari yang lain. Menghirup oksigen di Kulon Progo. Menemui wajah-wajah ramah, mengenang Jogja berhati nyaman dalam 6 jam jeda. Lalu membawa ingatan, permintaan, akan langit mereka. Langit yang luas, langit yang membuatku betah memandangnya lama-lama. Langit mereka yang membuatku berkhayal, macam planetarium-kah kelak, saat tiba pertengahan bulan-bulan hijriah. Saat purnama menyembul, tak sendiri. Saat purnama bisa diresapi di langit yang bersih.

Bukan touring, tapi saya membayar rindu. Meminta bertemu dengan seseorang yang lebih dari setahun lalu, meninggalkan saya, meninggalkan kami. Seorang ‘pendamping’, seorang ‘guru’. Lalu merasai lagi kehangatan yang ringan dan tulus, di Semarang ini. Mengenal lagi putri-putrinya yang sempat melupakan nama dan wajah saya. Mengakrabi pertumbuhan mereka. Putri sulungnya, menjadi sulung yang jiwanya matang. Sedang si adik, menjadi lebih aktif. Sangat aktif. Dan saya berada dalam keluarga lain. Keluarga yang membuat Pagi saya tadi, terasa hidup kembali.

Bukan touring, saya hanya menghindar dari Jakarta. Mencari alasan untuk rindu. Mencari cara agar bisa menyisakan ruang lebih, untuk mencintai dan kembali mengasihi apa-apa yang sejenak saya tinggalkan. Dan dalam akhir perjalanan ini, ada hal-hal yang bisa terbayar. Tentu saja. Apalagi saya dihadiahi ujian ukhuwah, yang astaghfirullah, saya menyesal telah meninggikan suara saya terhadapnya, kemarin sore. Dan dia meninggalkan saya dalam kondisi yang aneh. Ujian ini belum selesai. Belum. Setidaknya menurut saya.

Dan jurnal ini, dimulai. Garis mulanya adalah akhir, tempat saya mengingat-ngingat kembali. Hikmah-hikmah yang mengayakan hati. Semoga.

Advertisements

8 thoughts on “Menjauh untuk Pulang

  1. lama gak ‘jalan-jalan’ dan akhirnya mampir di ‘rumah’ ukhti..
    ternyata singgah di jogja ya Ukh?
    *berharap bisa bertemu lagi setelah satu tahun berlalu… πŸ™‚

    1. hu’um, ke kulon progo.
      ke jogja ya 2jam jalan2, naik sepedamotor
      mampir ke beringharjo, beli rok batik, terdesak psdiaan baju πŸ˜›

  2. I can assure you that you do have some great talent to be a marvelous writer. It’s an honor to visit your blog. Just go on reading and writing, as Stephen King said, “If you don’t have time to read then you don’t have time to write”. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s