Melankolis

Image

Saya melewatkan satu jurnal, kemarin. Karena semalam, hati saya berantakan. Hati yang saya bawa pulang sambil menangis padahal saya sedang mengendarai motor. Bukan kali pertama, memang. Entahlah.

Apa memang ya, seorang melankolis itu, ruang dalam hatinya sempit? Sehingga mudah saja hatinya sesak, sampai tak mampu menahan airmata.

Kadang saya berpikir, sisi melankolis kenapa seringnya muncul tak tahu diri? Gampang saja merenggut suasana hati yang ceria, menjadi penuh debar-sesak-yang-rasanya-tak-enak dan tersudut pada diam.

Hari ini pun, perasaan saya masih begitu, syahdu. Yang tak saya pikirkan, tiba-tiba penuh dalam rongga dada menjadi beban. Akhirnya saya cuma bisa diam, meredam sesak yang tidak enak dibawa-bawa ini. Tak tahu akan menghadapinya dengan cara apa, lagi.

Selatan Jakarta, 20.00 wib
14 Desember 2011
Advertisements

2 thoughts on “Melankolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s