A Simply Fulfilling-Friday

Mulanya, saya pikir, akan menuangkan banyak kata dalam tulisan ini. Menceritakan fragmen-fragmen hari ini yang ‘memenuhi’ hati saya dengan kebahagiaan yang sederhana. Ternyata, cadangan kata yang mestinya tumpah disini, justru menguap. Tak apa, gegap rasa kesyukuran atas dihadirkanNya skenario sederhana di jum’at ini, masih disini. Tidak kemana-mana.

**

-Syahrurrahmah

Kamu tahu Rurry, darimu aku dapat satu hikmah. Mengulang hikmah, sebenarnya.
Kamu mengajarkan aku, “Saat tahu dirikita sedang dalam frekuensi keimanan yang rendah, kita sendiri perlu mendekat pada stimulan frekuensi keimanan, mengunjungi orang shalih, memohon ampun dan meminta kekuatan yang lebih dari Sang Pencipta. Dan ketika mendapati orang disekitar kita yang terlihat sedang menurun frekuensi imannya, kita juga yang perlu mendekatinya. Menghibur kesedihannya. Kita pun beruntung, merasai pertalian lebih syahdu. Nikmatnya tergandakan. Bukan begitu, shalihah?”

Kamu tahu, aku tak pandai berbicara. Maka biarlah buku yang aku ‘titip’ itu menjadi penggantiku. Menjadi teman bagimu yang lebih baik dariku, saat aku tidak mungkin mengunjungimu. Semoga begitu adanya, sesuai dengan harapku.

***

#12

Kenapa pula yang terngiang, setelah percakapan kita tadi, adalah kalimat bahwa ‘kisah asmara itu mendewasakan’. Kalimat yang meluncur dari anak termuda diantara kita. Kita membicarakan ceritera orang lain tadi, sebenarnya. Sampai aku agak takut bahwa itu cenderung ghibah. Tapi aku tahu, kita tidak bermaksud begitu. Ini adalah sebentuk lain dari berbagi kabar, dari cerita yang terangkum selama kita tidak bertemu itu kita belajar. Iya kan, #12?

Bersama kalian, aku tidak ingin terlihat berbeda. Maka, terbuka saja. Ceritakan sesuatu yang perkaranya belum aku tahu. Ceritakan selapang kalian mampu menceritakan, aku ingin selalu bisa mendengarkan.

***

#Rumahteduh

Rumahteduh, akhirnya aku kembali mengunjungimu. Masih riuh, dengan dengung merdu penuh lafadz Ilahi. Selalu begitu, udara yang aku hirup, berbeda. Sejuk menyusup ke dada. Ada yang lain hari ini, dekat maghrib saudari-saudari teduh disana berlomba mengkhatamkan Qur’an. Variasi aktivitas yang tidak sengaja aku dapatkan. Ada satu saudari yang malu, tertunduk, saat belum berhasil memenuhi tantangan khatam dalam 3 malam. Ada saudari yang lain yang menghabiskan belasan juz dalam satu malam. Mungkin terdengar berlebihan, tapi bukankah itu memperlihatkan tekad mereka yang semakin rapatbulat?

Lalu, lepas maghrib, aku menyisip. Ke dalam lingkaran kalian yang memanjat doa khatam Qur’an. MasyaAllah, Bilakah suasana tadi terulang setiap hari? Ketika getar suara Runa yang memimpin doa beresonansi, membuat dada kita naikturun: sesak juga dekat. Lagi-lagi karena Al-Qur’an, celetuk seorang saudari. Alhamdulillah, minggu depan aku akan bergabung, meski memang tak jadi penghuni tetap. Aku tahu kalian akan selalu lapang, menerima. Dan anehnya, meski aku sudah mengerti betul, aku tetap gegap menerima kebaikan kalian tiap kali aku datang. Begitu tak terkatakan. Ya Allah, ambil mereka dan diriku menjadi keluarga-Mu..

***

Yaa Rabb, NikmatMu yang manakah sanggup aku dustakan?

Simple Happines -22.00 wib
Selatan Jakarta, 9 Desember 2011
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s