Kegiatan Membaca (Edisi Pengecualian)*

gambar: cuma cuplikan rak buku habis baca di goodreads

Maksud dari edisi pengecualian disini, adalah akumulasi waktu kegiatan membaca yang bukan sebulan, melainkan lebih dari bulan. Ya, selanjutnya tulisan ini akan terdiri dari kegiatan membaca mulai dari bulan oktober hingga hari ini, 5 Desember 2011.

Saya pernah, melihat satu video dari situs TED.com (disini), tentang challenge atau tantangan. Saat kita mengumbar tantangan, melemparkannya pada publik, psikologisnya kita –secara tidak sadar- akan merasa bahwa tantangan tersebut telah berhasil kita penuhi, padahal dalam kehidupan nyata, kita baru menuliskannya atau mungkin baru akan memulainya. Perasaan bahwa tantangan tersebut sudah terpenuhi itulah yang membuat kita kadang mandek. Menurut pembicara di video tersebut, baiknya, bila kita punya tantangan dalam rangka perubahan diri, simpan rapat tantangan tersebut. Tidak disebarkan melalui publik terlebih dahulu, setidaknya sampai ada keberlanjutan yang nyata dari tantangan yang dalam niat dan hati, telah kita ikrarkan.

Dan saya pun, merasakannya. Termasuk dalam kegiatan membaca. Saat saya berikrar, menuliskannya dalam ruang publik yang saya miliki, ikrar tersebut justru tidak terpenuhi. Saat itu saya bilang akan menghabiskan 12buku untuk satu bulan, tapi kenyataannya hanya genap 8buku. Dan mungkin, kegiatan membaca yang merupakan pengecualian ini disebabkan hal tersebut juga, entahlah.

Jadi, mari simak buku-buku yang memenuhi kegiatan membaca saya.
Bulan oktober:

1.    Mutiara Bumi Saba’ -Hisani Bent Soe

Tanggapan atas buku ini, telah saya muat di kolom review, blog multiply saya. Bisa dicek disini

2.    99 Cahaya di Langit Eropa -Hanum Salsabila Rais

Buku yang menarik perhatian saya, pertama-tama karena kavernya. Lalu karena nama Hanum, anak Amie Rais. Saya ingin tahu, tulisannya seperti apa. Ah iya, saya pun melihat tanggapan-tanggapan yang lumayan bagus dari buku ini. Tapi entah, setelah saya baca, saya merasa buku ini biasa saja.

Jadi gini, faktor penguat keimanan, bagi tiap-tiap muslim bisa berbeda. Kadang apa yang membuat muslim lain berdecak kagum, kemudian menyebut nama Allah, bisa tidak memberi efek yang sama bagi muslim lainnya. Seperti itu. Lagi-lagi ini tentang relativitas. Apa yang sederhana, bisa jadi tak sederhana. Pun sebaliknya, yang tidak sederhana bisa tampak sederhana. (ziyy ngomong apa deh?)

Bukan saya jumawa, karena cuma mengangguk-angguk saja atas pengalaman sang penulis. Bukan, tentu saja bukan, apalah saya ini. Tapi ya itu, keislaman tiap muslim, prosesnya bertumbuh dalam islam yang dipegang teguh, bisa sangat berbeda. Kadang sulit mendapat frekuensi yang sama. (ngomong apa lagi deh?)

Ya begitulah, bahkan dibagian akhir, saya agak tergesa. Tak membaca banyak tentang zero point yang diceritakan sang penulis. Maaf sekali bagi teman-teman yang mungkin menyukai novel ini. Dan komentar saya, jangan terlalu diambil hati. Karena rasakan saja membaca buku ini. Semoga komentar datar saya tidak membuat teman-teman mundur.

3.    Hadits Aktifitas sehari-hari yang harus kita ketahui -Sulthan Hadi

4.    Muslimah Bertakwa: Perhiasan Dunia, Akhirat -Ishom bin Muhammad Asy Syarif

Dua buku terakhir ini, diselesaikan dalam semalam. Sekali duduk. Ya karena ketebalannya yang tidak mengganggu, pun dengan pembahasan yang tidak terlalu berat melainkan informatif-aplikatif.

Bulan November:

1.    Life Traveler –Windy Ariestanty.

Buku yang asyik, untuk dibaca. Ringan saja bahasanya, ya sederhana. Menyisihkan cerita-cerita mengalir, bukan dari tujuan perjalanan, melainkan dari remah-remah selama perjalanan. Selain itu, buku ini cantik. Benar deh, cantik. Saya jatuh cinta dengan kavernya. Dan akhirnya, saya berkesempatan melihat pewajahsampul buku ini, yang juga jadi pewajahsampul ‘Hujan dan Teduh’, juga ‘The Journeys’. Namanya Jeffri Fernando, baru dapat penghargaan pewajahsampul terfavorit pilihan pembaca indonesia. Termasuk teman baik penulis buku ini, dan diikusertakan dalam satu tulisan dari buku ini.

2.    Cinta tak pernah menari –Asma Nadia.

3.    Keluarga Qur’ani –Dedhi Suharto.

Buku yang kemudian ingin saya baca, setelah tahu profil penulisnya. Alumnus STAN. Saya lebih dulu menjadi pengikutnya di twitter, baru kemudian menjadi pembacanya. Kesan saya atas buku ini pun, tidak begitu mendalam. Setelah sekian lama, akhirnya saya membaca buku tipikal memotivasi. Ya, saya akhirnya menggolongkan buku ini menjadi buku motivasi. Karena memang yang saya rasakan seperti itu: bahasanya sederhana dan begitu teknis. Meski awalnya, saya mengharapkan lebih dari buku ini. Dan agak kecewa, pada pemilihan  judul yang menggunakan Qur’ani karena kecenderungan penulis yang menyukai kata itu. Ya dibuku-buku beliau sebelumnya pun, kata itu menjadi ekor. Negarawan Qur’ani, Qur’anic Quotient, dll.

4.    Yoyoh Yusroh: Mutiara yang Telah Tiada –tim GIP.

Buku yang benar-benar membuat airmata saya menderas, sesak, rasanya penuh, juga membuat saya tak bisa berkata-kata. Sampai saat membuat tanggapan pun, singkat sekali tutur saya. Bisa dilihat disini.

5.    Hujan dan Teduh  –Wulan Dewatra.

Buku yang berkali-kali saya lirik karena kavernya yang cantik. Apalagi dikavernya ada dua kupukupu. Membacanya, ya seperti membaca chicklit-teenlit gitu. Tapi salut, penulisnya lebih muda satu tahun dari saya. Telah bisa menyajikan roman yang lumayan rumit ceritanya seperti itu. Tentang anugerah 100% roman asli indonesia, yang dinobatkan pada novel ini. Entah mengapa, saya merasa itu berlebihan. karena, membaca novel ini, saya tidak dibuat berdesir. Tidak dibuai dengan penggambaran perasaan yang kuat. Ah entahlah, mungkin itu juga karena saya yang tidak puas saja.

Sedang dibaca:

Banyak sebenarnya, karena saya termasuk pembaca yang membaca beberapa buku dalam waktu bersamaan. Tapi disini, saya hanya akan menyebutkan satu, yaitu: 111 kolom bahasa Kompas. Kumpulan tulisan yang asyik sekali dibaca, bisa terasa humornya, bisa terasa sindirannya, bisa membuat mengangguk-angguk, bisa membuat mulut membulat mengeluarkan suara,”ooohh..”

Menyenangkan membacanya, tapi tetap saja saya bingung, kenapa saya tidak bisa menyelesaikannya segera. Bahkan tadinya, saya baru akan membuat tulisan ini lepas buku itu habis saya baca, tapi apa bisa dikata? Saya baru sampai tulisan 81, dari 111 tulisan yang ada. Ya! Masih ada 30 tulisan menanti.

Jadi, inilah laporan kegiatan membaca saya, dalam edisi pengecualian. Semoga berkenan

Advertisements

5 thoughts on “Kegiatan Membaca (Edisi Pengecualian)*

  1. belum baca semua 🙂

    Cinta tak pernah menari –Asma Nadia.
    99 Cahaya di Langit Eropa -Hanum Salsabila Rais
    Yoyoh Yusroh: Mutiara yang Telah Tiada –tim GIP.

    `masuk daftar list dulu deh, bulan ini ada 6 buku yang masih menunggu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s