Jejak

Ini bukan kali pertama, saya bilang, saya percaya bahwa satu-dua kebiasaan, satu-dua keseharian kita, terbentuk demi menyuburkan ingatan kita terhadap seseorang. Kadang satu-dua kebiasaan, satu-dua keseharian itu, adalah obat rindu otomatis yang diproduksi atas kerjasama ingatan otak dan sistem gerak.

Dan mengetahui hal itu, tiap sadar akan simpulan-pribadi itu, saya tersenyum. Meski tak sempurna ingatan visual saya pada orang-orang yang saya rindukan, saya tetap bersyukur bahwa: rasa merindu, sisa rasa cinta, masih ada. Terkunci rapat tanpa perlu saya kesusahan menguapkannya kala saya butuh. Karena saya hanya butuh memejamkan mata, meresapi apa yang saya lakukan, memindai jejak untuk kemudian tersenyum.

**Saat ingatan visualku, akanmu, terasa begitu payah. Aku meringis, menangis diam. Kehabisan akal, aku berbaring, kemudian memindai jejak-jejakmu dalam keseharianku saat ini. Memejam mata demi menghibur diri bahwa kebiasaanku terjaga saat malam adalah demi mengobati rindu yang selalu tertuju padamu, ibu.

Advertisements

10 thoughts on “Jejak

    1. ‘alaykumussalam
      iya nih, duluan program hibah sejuta buku itu kan ya,
      mb anaz (kompasiana) bilang kali ini periode dua kan ya,

  1. ah.. suka banget quotenya..
    tapi emang iya, sekarang pun saya ga bisa membayangkan wajah mbah kakung dan mbah putri saya seperti apa persisnya
    tapi saya masih inget bener giman rasanya disayang dan dimanja mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s