#dusk

petang yang memulai, biar malam beri kita pekat sebagai awal temu frekuensi kita. #dusk

kamu, eksepsi, begitu yang disampaikan malam padaku #dusk

eksepsi yang kadang membuatku menyerah, lalu mengalah. meminta rasio ikut bersama hati saja #dusk

memintamu, hampir sama dengan meminta purnama, tidak bisa utuh dan lama. #dusk

petang dan malam yang mewujudkan dirimu, sehingga saat mereka tiada, wujudmu pun terlupa. #dusk

terdengar jahat, tapi sebenarnya tidak. karena hanya dengan begitu, aku bisa mengendalikan hatiku. biar tak merah bersemu melulu #dusk

apa yang istimewa darimu? seperti malam, kamu hanya punya satu warna. tak berpura-pura #dusk

kekonsistenan yang membuat pilu dan rindu datang bersamaan. selalu bisa buatku: gusar #dusk

satu warna, yang seperti malam, justru bisa memperlihatkan pendar2 pantulan cahaya yang ada di purnama. iya, seperti itu. #dusk

bedanya hanya, kamu insan dan malam bukan. perbedaan yang kadang buatku frustasi, bahwa aku tak bisa mengagumi lebih dari ini #dusk

tak bisa lebih dari ini, dan kamu tahu itu. karena bila lebih sedikit saja, kamu pasti akan menghindar, karena kecewa. #dusk

aku tahu, kecewamu pasti akan tiba. karena rasaku ini menjenjang, dan kecewamu itu tinggal tunggu waktu saja. #dusk

aku ingin kecewamu nanti saja, karena aku masih menikmati malam dan dirimu. menikmati pahit-manisnya, menikmati rasa bersalah sendiri #dusk

jadi, sekali ini saja, berpura-pura. dan abaikan, bahwa kamu tahu ada rasa dariku untukmu. bisakah? #dusk

Advertisements

7 thoughts on “#dusk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s