Pesona Bahasa

Minggu kemarin, sempat beberapa kali bolak-balik kos yang dinamai Rumah Qur’an. Kos yang sudah terdeskripsi dari namanya: basis para penghapal Qur’an (dari mahasiswa STAN). Ada dua sahabat saya disana, yang jadi alasan singgahnya saya disana. Bukan Rumah Qur’an yang akan saya bicarakan, tetapi seseorang yang saya tahu disana. Iya, saya baru tahu, belum mengenal. Kebetulan dia seorang adik, bila dilihat dari perbedaan umur. Saya tahu dia karena kami dikenalkan oleh sahabat saya. Singkatnya, namanya Atra.

Atra ini seorang hafizhah, sudah hafal 30 juz. Diceritakan ke saya bahwa Atra ini menempuh jenjang SMP di darul hufazh, pun jenjang SMA di pesantren. Asalnya Lampung, kalau saya tidak salah ingat. Sampai segitu saja saya sudah terpesona, sampai saya tahu bahwa dia seorang hafizhah. Tapi lebih dari itu, yang membuat saya lebih terpesona lagi, kemampuannya berbahasa Arab. Dan koleksi bukunya yang berbahasa arab. Saya memang begitu, gampang tertarik sama orang yang suka buku. Saya makin tertarik ketika seseorang itu menguasai banyak bahasa yang membuatnya mengoleksi buku selain yang berbahasa indonesia. Yang ada dalam pikiran saya,” keren banget orang ini, bisa tahu lebih dari bacaan yang berbahasa arab, ngga kayak saya yang mengandalkan buku terjemahan untuk dapat pengetahuan lebih dari buku berbahasa arab”.

Sama seperti kekaguman saya dengan penulis novel Pengikat Surga, mbak Hisani, yang asyik sekali mengulik temuan arsip kuno berbahasa arab gundul, kemudian dia sempurnakan ikhtiarnya lantas terbitlah novelnya yang lain yang berjudul Mutiara Bumi Saba’. Seperti kekaguman saya pada Pak Zai yang ketika ditanyakan padanya,”Biasanya proses kreatif menulis ala ustadz, seperti apa? Karena goresan pena ustadz selalu saja menyentuh hati”. Beliau lalu menjawab seperti ini,” ah sebenarnya biasa saja, saya dimudahkan bahasa Arab untuk masuk ke banyak referensi.”

Belakangan ini, saya juga jadi kagum dengan para penerjemah. Yang bisa menyampaikan isi suatu buku sesuai dengan buku aslinya, bahkan dengan bahasa yang mengalir indah. Seolah memastikan bahwa kita tidak kehilangan keindahan sastra buku aslinya. Sesuatu yang oleh seorang seperti saya, yang bisanya baru membaca-baca saja, tidak bisa diremehkan sama sekali.

Entahlah, tiba-tiba ingat mereka, nama-nama yang disebut diatas. Yang memoles kebermanfaatannya dengan bantuan bahasa arab. Mungkin karena baru bisa iri. Mungkin juga karena baru bisa terkagum-kagum sembari berkutat pada alasan-alasan yang menjadikan saya tidak mengambil kesempatan biar jadi seperti mereka.  Entahlah. Semoga Allah menjaga kebermanfaatan mereka biar tak lekang.

catatan: saya hanya menyinggung mereka yang memiliki keahlian berbahasa Arab bukan berarti saya tidak mengagumi mereka yang memiliki keahlian berbahasa asing lain. Jujur, saya kagum juga dengan orang yang punya kemampuan multibahasa. Menjadikannya bisa mengenyam lebih banyak buku, mengenyam lebih banyak cerita, mengenyam lebih banyak warna, mengenyam lebih banyak pengetahuan. Bukankah itu sesuatu yang mengasyikkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s