Alasan

Terbetik untuk menulis tentang alasan, atau sebenarnya nanti berkembang menjadi sesuatu yang memotivasi kita dalam berbuat. Dan seperti biasa, baiknya saya memulai dengan cerita saya sendiri. Saya termasuk orang dengan tubuh tidak sensitif, yang saya salah artikan bahwa tubuh saya ini sedemikian baik (tidak rewel) untuk diasupi minuman berpengawet. Karena saya suka sekali minum minuman kemasan, suka sekali cappucinno, dan tidak hirau dengan jumlah airputih yang diasup tubuh yang jelas sekali dibawah minimal konsumsi sehari-hari. Belum lagi, jenis makanan yang saya makan itu terbatas, tak banyak. Maka jangan heran jika saya makan jenis makanan itu-itu melulu (bila ada yang mendapati saya kelak). Kadang keterbatasan jenis makanan itu cuma karena alasan tidak suka, tidak terbiasa, tidak diterima pikiran dan mulut. Ya, semacam itu.

Sudah banyak teman dekat yang mengingatkan, ada satu sahabat yang menakut-nakuti dengan efek jangka panjang kebiasaan jelek saya itu. Saya tahu, tapi menyembunyikan ke’tahu’an saya itu. Saya memilih abai, sesuatu yang ngga banget, sesuatu yang mestinya saya hindari tapi entahlah, disini saya tidak bisa dewasa. Hingga semalam, saya chat dengan seorang teman yang juga kontak disini. Bukan karena anjuran dia, sebenarnya. Tapi anjurannya seperti harus mengakhiri rasa abai saya selama ini. Tahu apa yang dikatakannya? “Mulailah memikirkan Fauziyyah Jr”, katanya. Melongo saya, dia ceritakan kisah keponakannya yang daya tahan tubuhnya lemah karena memiliki ibu yang mulanya seperti saya ini, kurang peduli dengan air putih dan pola makannya berantakan. Saya akhirnya nanggepin dengan serius, semoga dia berkenan saya ceritakan disini ^^v.

Dan memang, saya selama ini sebenarnya tengah mencari alasan. Alasan yang sama seperti alasan yang dimiliki seorang ayah yang akhirnya berhenti merokok demi anaknya. Alasan yang dimiliki seorang ikhwan yang menjaga dirinya demi akhwat, yang dia sendiri tidak punya pengetahuan atasnya, tetapi berhusnudzon demi menjaga perasaan pasangannya kelak. Alasan yang dimiliki seorang mukmin, yang frekuensi imannya tinggi, yang berhati-hati dalam mengasup makanan (tentang muasal dan halalnya). Alasan yang dimiliki seorang anak yang tipikal tidak peduli terhadap keluarga tetapi kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya memiliki penyakit yang butuh kesabaran yang tidak pendek dan tidak sebentar.

Alasan seperti itu, alasan yang memotivasi dan mengubah hidup seseorang. Alasan yang akhirnya membawa ketenangan, kelak. Meski demi alasan itu, dia mesti bergulat dengan hawa nafsunya sendiri. Meski demi alasan itu, dia mesti menanggalkan egonya. Alasan yang seperti itu. Alasan yang membawa kita pada titik bahwa manusia itu akan bermuara pada kelemahan bila dianya sendiri tidak mengambil jalan untuk berubah, untuk mengembalikan semua hal pada fitrahnya.

Advertisements

2 thoughts on “Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s