[Sidestory] 111 Kolom Bahasa Kompas

Saya mendapat buku ini, maksudnya meminjam buku ini, sejak senin lalu. Mengambilnya di rak buku di bengkel, markas LPM MedCen tempat saya bergabung dulu. Dari mana lagi saya mendapat sesuatu yang essence dalam jurnalistik bila bukan dari ‘rumah’ saya yang satu itu.

Yang menarik dari buku itu adalah pemaparan sejarah terkait penggunaan beberapa istilah bahasa di Indonesia. Mula kemunculan suatu istilah, makna awal, sejauh ini apakah istilah tersebut mengalami perluasan ataukah penyempitan makna, apakah istilah tersebut lestari dalam kesalahartian tetapi terjebak dalam kepopuleran. Ya, tulisan semacam itu yang mampu dihadirkan oleh orang-orang yang punya kapabiliti dan punya perhatian khususnya tersendiri terhadap penggunaan istilah bahasa dalam keseharian.

Asyik. Karena saya sendiri jadi tahu banyak hal terkait muasal beberapa istilah bahasa. Tidak, saya belum selesai membacanya kok. Bahkan saya baru sampai pada tulisan keempat-belas. Sampai pada bagian tulisan tersebut yang ditulis seperti ini,”Memang banyak juga gunanya segala kata asing dalam bahasa kita. Salah satunya, untuk menghajar akal umum, sehingga tidak dimengerti. Atau supaya pembaca plengang-plengong, merasa diri koplo.”

Yang menarik dari bagian tulisan itu bahwa disana disebutkan satu dari sekian kegunaan pemakaian kata asing adalah untuk menghajar akal umum sehingga tidak dimengerti. Menarik buat saya karena bait itu meluapkan ingatan saya terhadap seorang senior di LPM, Pemimpin Redaksi sebelum saya, yang orang dan tulisannya unik. Secara personal, senior saya itu aneh. pembawaannya aneh, kadang dalam berkomunikasi ianya lebih memilih meninggalkan tanda tanya kepada lawan bicaranya. Tulisannya? Awal saya baca, tulisannya beraliran sarkas. Banyak istilah yang ia gunakan yang saya tidak mengerti, tidak cuma saya tapi juga anggota lain yang mesti berpikir keras ketika bertemu kata-kata semacam ‘naussae’ atau ‘uroboros’ sebagai judul tulisan.

Sebenarnya tulisan-tulisannya sarat makna, tapi memang dia seperti sengaja membuat pembacanya perlu sedikit usaha berlebih untuk menemukannya. Awalnya saya kira tujuan yang ia punya sama seperti bait diatas,”menghajar akal umum, sehingga tidak dimengerti”. Tapi setelah sedikit lebih lama mengenalnya, ternyata itu memang dia adanya. Dia terbiasa dengan gaya semacam itu, banyak berfilsafat dan tak jarang menyindir secara kasat. Dia sudah lama menggunakan cara seperti itu, saya hanya baru tahu sebagiannya.

*tulisannya rasa nggantung, meski ingin diteruskan tapi saya ingat bahwa sidestory kali ini memang untuk bercerita tentang luapan ingatan saya terhadap seorang senior setelah membaca sebuah bagian tulisan yang andil dalam buku ini, jadi ya cuma itu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s