Pernikahanmu

Mungkin sebulan lalu, atau lebih dari itu, saat pertama mendengarmu sedang dalam proses khitbah. Jujur aku kaget, atau lebih tepatnya merasa keduluan/kecolongan atau semacamnya. Pasalnya diantara kita (lingkaran gabungan kita), kamu adalah yang termuda. Lepas kekagetanku, aku mulai berpikir,” Siapa yang meminangmu, anak kecil?”

Iya, aku kadung terbiasa memanggilmu Dian si anak kecil. Apa kamu ingat, saat kita tracking gunung pancar yang tak jauh dari rumahmu, kamu bilang bahwa kelak karakter pasangan yang mungkin cocok denganmu adalah seseorang yang memiliki karakter seperti aku. Bahwa kamu adalah seseorang yang suka petulangan sedang aku lebih memilih mendengarkan cerita-cerita petualanganmu itu. Bahwa kamu adalah anak yang ceria sedang aku adalah tipikal orang yang menerima keceriaan dan terbiasa meredam buncahan keceriaan hanya dengan seulas senyuman atau satu-dua bait tanggapan. Dan sekarang, bagaimana dengan sosok laki-laki yang sedang bersamamu? Bila pun dia tidak memiliki karakter sepertiku, pasti dia adalah match terbaik yang dihadiahi Allah untukmu.

Kemarin lusa, aku mengikuti proses pernikahanmu. Kadang dengan mataku, kadang melalui lensa kamera yang melulu aku bawa. Ya, hari itu aku jadi tukang foto. Posisi yang akhirnya aku syukuri tetapi juga aku sesali. Karena mengikuti perubahan ekspresimu sepanjang akad hingga resepsi itu adalah hal yang menggembirakan. Tetapi disaat yang bersamaan aku jadi dilanda angan, maklum saja karena aku masih single. Tidak, aku bukannya ingin cepat-cepat menikah. Tetapi aku juga menyelipkan doa agar segera menyusulmu yang aku dan teman-temanku sampaikan melalui gambar bergerak yang mungkin nanti akan kamu lihat.

Hey anak kecil, setelah ini aku tidak bisa lagi memanggilmu anak kecil. Karena pada kenyataannya kamu memilih lebih dahulu menghadapi ujian kedewasaan melalui pernikahan. Setelah ini kamu bukan lagi anak kecil, karena mana ada anak kecil yang memiliki suami kecuali dalam keadaan diluar kebiasaan? Ah, itu, kini kamu sudah memiliki suami. Sisi kewanitaanmu pasti akan bertumbuh dan mematang, bukan? Untuk kematanganmu setelah ini pun, aku akan melihatnya meski dari jauh.

Kemarin, saat pernikahanmu, Umi dan Apak terlihat begitu sumringah. Apak kelihatan sangat segar, dan meski agak kesulitan, senyum Umi terus terkembang. Mereka pasti sangat bahagia, karena melihatmu yang berani mengambil tanggungjawab berupa kehidupan rumahtangga. Dalam benak mereka sudah pasti ada harapan dan doa agar kehidupan rumahtanggamu setelah ini dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan yang lebih dibandingkan kebahagiaan mereka selama ini. Dan adikmu, Eli, betapa dia yang memang terlihat lebih dewasa sebelumnya dibandingkan kamu, hari itu pun dia terlihat bahagia dan tenang.

Hey Shalihah, kemarin lusa kamu begitu cantik. Memang binar mereka yang sedang menjamu cinta itu berbeda. Dan kamu memiliki binar itu. Meski masih tak luput malu-malu dan keki dari raut wajahmu, meski terlihat sekali dibeberapa tangkapan kamera kamu salah tingkah, tetapi tetap binar itu ada pada wajahmu. Bukan Cuma aku yang percaya-tidak percaya akan pernikahanmu hari itu, tapi toh pada akhirnya memang kamu memilih untuk satu langkah lebih dewasa dan mengambil satu anak tangga untuk bertumbuh sedemikian rupa. Dan pada akhirnya bungkam mulutku dan hanya tersembul sebuah senyum: turut merasa bahagia.

Barakallahulaka wa baraka ‘alayka wa jama’a bainakuma fii khair.

Untuk Dian dan Titto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s