Catatan Pagi #1

Saya ingat, dulu seorang teman satu kelompok Ospek terheran dan agak iri, karena dilihatnya saya mudah menangis. Iya, memang rasa-rasanya saya ini cengeng. Melihat ini, menangis. Mendengar itu, menangis. Bahkan sepertinya saya memiliki hati yang lemah, lemah melihat kekerasan. Dan pagi ini, saya akhirnya memulai hari dengan menangis karena yang baru bisa saya lakukan hanyalah menangis.

Sebelum akhirnya menuliskan ini, saya terduduk di ruang tamu. Berniat menonton tv. Acak saja program yang saya lihat. Berita mula yang saya simak, justru kabar artis. Yakni kabar sakitnya ibunda yuni shara dan KD. Kabar artis ini yang pertama menjadi semacam spiritus dan menyulut tangis saya. Karena ingatan akan Mama, terluapkan thanks to this issue. Mengingatkan saya bahwa sedalam apapun rindu yang saya punya, selama saya masih hidup, hanya bisa berakhir dan terbayar dengan menangis di gundukan tanah tempat tinggal Mama kini. Tidak mungkin pelukan atau kecupan bisa saya dapatkan. Dan jelas-jelas, rindu fisik tak kan pernah terbayarkan.

Lalu acak lagi, menonton berita tentang razia gepeng (gelandangan & pengemis). Dikabarkan dalam berita itu, seorang nenek tunawisma histeris dan seorang anak penjaja koran ketakutan ketika mengatahui dirinya terkena razia. Sedih sekali melihatnya, meski memang mereka tidak sepatutnya seperti itu: menggelandang di jalan. Karena saya tahu sekali bahwa seharusnya pemimpin kita merasa bersalah karena tidak berhasil memberikan kesejahteraan hingga mereka terusir dan butuh menggelandang di jalan. Entah saya menangis karena keprihatinan atau kekesalan. Atau mungkin juga saya menangis karena bersyukur masih terselamatkan dari kondisi tersebut, masih terjaga dari beban hidup yang kepalang membuat stres pikiran. Entah…saya cuma tahu, lagi ujung mata ini terus mengalirkan airmata ke pipi.

Saya menangis karena cuma bisa menangis. Menangis karena baru bisa menangis. Menangis karena tidak bisa mengatasi rindu yang bersangatan. Menangis karena belum bisa menjadi solusi dan hanya bisa memperkeruh permasalahan. Menangis karena belum seberapa berbagi. Menangis karena egois membuat kepentingan diri sendiri selalu tak bisa dielakkan. Menangis karena ketidakberdayaan. Astaghfirullahal’adzim…..Astaghfirullahal’adzim…Astaghfirullahal’adzim.

 

Ya Allah, sampaikan rindu ini..

Ya Allah, sampaikan haru ini..

Ya Allah, dengan cintaMu pada diri-diri kami..buat kami terus bergantung padaMu.

Ya Allah, buat cinta kami kepada akhiratMu lebih dalam daripada cinta kepada dunia. Buat lah kami mengerti, dengan sebaik-baik pengertian, bahwa wahn adalah pangkal kehancuran hidup kami. Yaa Muqallibal Qulub..buatlah hati dan iman kami memenangi jasad kami yang kerap tersipu oleh permainan fananya dunia.

 

Bersama matahari yang semakin meninggi, memperlihatkan kehidupan sekali lagi.

05 Oktober 2011

Advertisements

4 thoughts on “Catatan Pagi #1

  1. Kunjung balik 🙂
    Semoga dalam rindu pada ibunda, terus berbuat yang terbaik seolah dia di samping kita 🙂

    Mungkin daripada nonton infotainment mau lihat ini:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s