(another) New Will

Kelingking dan telunjuk bersamaan memencet ‘ctrl’ dan ‘n’, blank document yang kelima terbuka. Dokumen keempat, ketikan berisi cerita semi-fiksi yang baru mulai tapi sudah saya tutup buru-buru. Sebelumnya, saya membuat catatan mula ide cerita yang hendak dibuat. Tapi ternyata belum cukup menjadi kerangka yang benar-benar menyangga sehingga roboh sebelum sampai kalimat terakhir. Well, sulit. Bagi saya. Yang belum bisa saya siasati adalah membangun kalimat-kalimat langsung yang bagus untuk menyempurnakan cerita.

Dua minggu yang lalu, ditawari untuk mengikutkan naskah cerpen. Yang nantinya akan diseleksi untuk membuat buku yang royaltinya didonasikan. Dan akhirnya, semangat di awal menjemput tawaran itu tidak dibarengi dengan persiapan. Iya, saya merasa butuh persiapan. Saya belum pernah menulis cerita fiksi kecuali satu cerita berjudul ‘semburat merah muda’. Itu pun engga banget rasanya. Tadinya, saya ingin menjadikan kesempatan kali ini sebagai tantangan untuk melejitkan minat saya menulis fiksi. Tapi ujung-ujungnya, saya sembari berlalu menyiakannya secara tidak sengaja (atau sengaja). Hiks (ngelirik mas ungu dan mba novi)

Duh, apalagi rasanya akhir september kali ini rasanya sesuatu banget. Selain kesempatan mencoba menulis cerita fiksi, kesempatan ikut kelas menulis FLP Ciputat pun ikut menemui garis matinya. Sepanjang tahu dibukanya kelas menulis baru, saya bimbang. Berdebat dalam pikiran untuk ikut dan tidak ikut. Ikut sambil berharap bisa istiqamah belajar menulis. Tidak ikut karena terbayang usaha masa lalu. Sepertinya setelah ini, saya (akan) berakhir menekuri buku sakti menulis fiksi dari redaksi annida. Harapannya sih, untuk mengurai satu per satu usaha yang mesti saya lakukan untuk berakrab dengan kegiatan menulis fiksi.

Ngomong-ngomong kelas menulis, saya sudah pernah bergabung dengan FLP Jakarta angkatan 14. Tapi keikutsertaan saya disana pun, mundur teratur. Saat ini saya masih di Sekolah Menulis Kearifan Tarbawi (SMKT), disana pun adem-adem aja. Bukan karena sekolah menulisnya, tetapi saya yang tidak jeli, tidak giat.

Saya sudah tahu akar masalahnya: tidak giat berlatih. Saya tahu tapi seperti baru tahu. Arghh..gemes rasanya.

Eniwei, rencananya tulisan ini adalah garis mula (baru) dan pengingat. Karena ‘to do’ berikutnya adalah mengisi lembar demi lebar notes dengan ide-ide, mengurai ide itu menjadi sketsa yang menyokong, dan menyempurnakannya menjadi cerpen. Dan hingga jum’at berikutnya, telah tercantum dalam blog saya, dua cerpen. Hingga jum’at berikutnya, saya harus persistent! Kudu!

Bismillahirrahmanirrahim!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s