Merah

Suka itu masalah selera. Relatifitas selalu ada, dan pemberat rasa suka adalah indera.

Hari ini, saya semakin sadar kalau saya suka warna merah. Mulanya saya merunut simpulan itu berdasarkan kecenderungan warna benda-benda yang saya miliki. Iya, mereka didominasi warna merah. Pun ketika hari ini memilih ransel untuk dibeli, akhirnya pilihan jatuh pada ransel berwarna merah bermotif kotak-kotak yang berpadu warna abu-abu dan sedikit sentuhan warna biru tua.

Orang selalu punya alasannya masing-masing dalam menentukan warna favoritnya. Mulai dengan berfilosofi atas warna, memiliki kisah dibaliknya, sampai alasan: kecenderungan indera penglihatan. Awalnya, saya mengira suka dengan warna merah dikarenakan dominansi merah (yang tak sengaja) atas benda-benda yang saya punya. Tapi ternyata, dalam ketidaksengajaan itu, ada sebabnya. Sebab yang akhirnya saya temukan hari ini dan berhasil membuat saya tersenyum.

Karena merah adalah warna sahabat terkasih. Sahabat yang saya kenal sejak 6 tahun silam. Saya menemukan dia di warna merah. Merah, pada akhirnya saya jadikan alasan ‘biar terjaga dari lupa’. Meski tak melulu merah bisa segera membawa saya pada ingatan tentang dia, tapi satu dua kesempatan pasti merah mampu membawa ia kembali dalam benak saya. Dan ketika ia muncul bersama dengan merah, bisikan rindu itu jadi makin jelas.

Karena merah itu kamu,

Sadar atau tidak sadar, aku akan cenderung memilih merah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s