Tidur

Many people complain about their sleep patterns during Ramadan; from those who complain about sleeping too much during the day and not being able to sleep at night, to those who complain of little sleep due to their busy schedules and the extra demands of Ramadan with taraweeh, suhoor, etc.

Membaca mukadimah artikel dari productiveramadan.com tersebut, hati saya mencelos. I am one of them, those who complain my sleep patterns. Kekhawatiran yang sudah ada sejak sebelum Ramadhan hingga sekarang. Sebenarnya saya mudah untuk tidur, tapi saya lebih sering terjaga hingga dini hari. Karena malam saya jadikan jam sibuk. Tapi kemudian masalahnya adalah badan yang rasanya sering tidak fit pasca terjaga hingga dini hari.

Nah, yang sibuk saya pikirkan belakangan, sejak Ramadhan datang, adalah kemungkinan untuk meminimalkan tidur. Lacur, negosiasi saya dengan tubuh sendiri belum berhasil. Kemarin lusa saya coba tidur menuruti kebiasaan saya, tidur saat larut. Dengan berharap dan menitip doa agar dibangunkan Allah jam 2 pagi-nya. Ah tapi lewat satu jam, saya terbangun jam 3 pagi. Tidak terlambat, sebenarnya. Tapi memperhitungkan waktu yang saya butuhkan untuk menyiapkan sahur Papa hingga menyiapkan obatnya, terbangun jam 3 terasa mepet sekali karena tidak maksimal menegakkan shalat malam. Lalu kemarin saya tidur lebih awal, lepas tarawih dan tilawah, ternyata saya tetap bangun jam 3, saya bahkan merasa geram sendiri. Belum lagi bila lepas subuhnya, kantuk mudah sekali menggelayuti mata.

Kebetulan sekali, baca artikel ini. Sebenarnya artikel ini baru berisikan teori tentang tidur itu sendiri, dari dua sisi; tidur menurut perspektif fisik dan tidur menurut perspektif spiritual. Yang menarik perhatian saya adalah penjelasan mengenai tidur menurut perspektif spiritual.

Dari perspektif spiritual, sleep is a blessing from Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) and a favour upon us from Him. And just like all his favours upon us, it needs to be thanked. We thank Allah by using it to energize ourselves to worship Him better, and not using it as an excuse to miss many of His commands.

Another spiritual understanding of sleep, is that it is the sister of death, and reminder for us about the day of resurrection. Just like we sleep each night and wake up each morning, so too shall we die one day and be resurrected on the day of Judgement (QS. Az- Zumar : 42)

Understanding that sleep is a sign of Allah, a blessing from Allah, and a reminder of our ultimate destination gives an entire new dimension to sleep. We stop seeing sleep as simply having to fulfil X amount of hours each night or week, but something bigger.

Moreover, now we can understand how righteous men and scholars would sleep little at night yet have more energy during the day than me and you! The answer is that Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) puts barakah and blessing in their sleep so they benefit more from their little hours of sleep and hence have more energy during the day. They gained this status because they’ve given up their sleep for Him, and Allah is rewarding them (QS. Ad- Dzariyat : 17)

Lengkapnya, lihat disini.

Ahh, baca artikel ini membuat saya berpikir, membuat saya harus mengusahakan sesuatu biar tidur saya bisa disisipiNya keberkahan. Bismillah. Mari dimulai, ziyy.

Eniwei, artikel diatas baru bagian pertama, semoga di bagian berikutnya ada tips bermanfaat buat kita.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s