[Sidestory Garis Batas] Mensyukuri lingkungan Islam yang konservatif

Malam ini (tepatnya mungkin malam kemarin ya?-Minggu malam), saya tidur di awal malam dan bangun dini hari. Tidak seperti biasanya, dimana saya terjaga hingga dinihari. Saya menyengajanya, karena ingin memiliki dini hari ini untuk melahap lebih banyak lembar-lembar Garis Batas yang sedang saya tekuni beberapa hari belakangan ini. Itu, buku yang menceritakan perjalanan Agustinus Wibowo ke negara-negara Asia Tengah yang nama-namanya berakhiran –stan. Macam Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Seperti Avgustin yang telah menceritakan kultur Islam di Afghanistan, kali ini ia juga banyak bercerita tentang kultur Islam di negara-negara yang saya sebutkan diatas.

Pertumbuhan memang menyertakan proses. Termasuk dalam hal pertumbuhan agama. Membicarakan kenyataan-kenyataan kultur Islam dari bermacam negara bermayoritas muslim pun membuat kita perlu memahami latar perkembangan Islam di negara-negara tersebut. Sebagian besar Asia Tengah pernah merasakan penaklukan Jenghis Khan juga Tsar Rusia. Begitu pun Islam disana, sempat memudar pada masa penjajahan Jenghis Khan yang melenyapkan peradaban bangsa-bangsa yang ditaklukannya. Belum lagi Islam disana tambah memudar sepanjang Rusia bertahta: suku-suku orisinal dan muslim disana dipaksa mengimani komunisme dan mullah-mullah menyiarkan Islam secara diam-diam dan tersembunyi.

Belasan tahun berlalu sejak hengkangnya Rusia dari negara-negara pecahan Uni Soviet berakhiran –stan tadi, wajah Islam pun butuh proses untuk kembali harum. Saat buku itu dituliskan, penulis mengatakan bahwa Muslim disana jarang shalat, menjalankan Ramadhan seperti hari-hari biasa, merayakan Idul Fitri benar-benar sebagai ajang untuk berlibur bersama keluarga, perempuan berjilbab jarang ditemukan (di Kazakhstan), tidak mengenal bahasa Arab (mampu menunjukkan liontin membentuk kata Allah, tapi tidak paham cara membacanya), menganggap ‘Assalamu’alaykum’ sekadar salam pentolan dari wilayah mereka dan kurang menyadarinya sebagai doa hingga kenyataan bahwa Muslim disana pun makan babi.

Belum lagi, kultur Rusia yang benar-benar lekat meski berlawanan dengan ajaran Islam. Yakni pohon Natal yang disangkal Muslim disana sebagai Pohon Tahun Baru, padahal berhiaskan lampu-lampu khas dan gantungan kecil berbentuk sinterklas. Tradisi Tahun Baru yang dibawa Rusia beserta ‘pohon Tahun Baru’nya masih belum terhapuskan. Yang membuat saya tercengan ya tentang vodka yang tidak bisa hilang karena seperti telah mendarah bersama jasad kebanyakan orang Rusia dan Asia Tengah sana. Sangat aneh, saya sendiri merasa terperanjat saat membaca paragraf-paragraf yang menceritakan bahwa merayakan Idul Qurban di Uzbekistan (Bukhara) bahkan tidak luput dari aroma vodka. Sedih? pastinya. Tapi alasan semua keanehan itu menjadi terjawab saat mengetahui proses penjajahan menahun oleh Rusia yang melunturkan wajah asli bangsa mereka.

Ada harapan untuk Islam berjaya kembali (setidaknya) di situs-situs peradaban Islam dahulu semisal di Bukhara, tetapi semua itu butuh proses yang tidak sebentar. Semoga Allah menumbuhkan hidayah untuk lepas dari kultur Rusia yang bertentangan dengan syariat dan memudahkan proses mereka dalam mengembalikan keaslian jatidiri mereka dan jatidiri Islam disana.

Selain terperanjat dan sedih membaca catatan faktual tentang Muslim disana, saya bersyukur dan merasa beruntung karena di negara kita mudah menemukan Islam yang lekat dengan sisi konservatifnya. Bersyukur karena peluang mengenal dan mengakrabkan diri dengan Islam disini telah jauh lebih mudah dibanding disana yang hambatannya bahkan datang dari kultur paksaan yang akhirnya mewarnai jatidiri.

Saya bersyukur sekali karena Islam pun tampak semakin indah ketika ada bait yang menceritakan bahwa Jenghis Khan meninggalkan Menara Kalon (di Bukhara) tersisa padahal ia terkenal membabat habis manusia, hewan dan peradaban musuh habis tak bersisa. Ada kehormatan Islam disana yang juga menggugah hati Jenghis Khan. Ah, betapa kebanggan terhadap Islam mudah sekali muncul dan membuncahkan iman..

Meski kadang berbeda wajahnya ditiap kita menyibak garis batas, Islam memang begitu, selalu memesona apatah lagi kemahaan Sang Pencipta? Allahu akbar..

*ini sidestory setelah ‘mendengarkan’ sebagian cerita tentang Asia Tengah dalam buku Garis Batas. Terbetik keinginan untuk mencari bahan lain yang lebih otentik membahas perkembangan islam dan membahas Muslim di negara Asia Tengah sana. Sehingga, bila ada teman-teman yang lebih mengetahui fakta orisinil tentang Muslim disana, mohon bantuannya untuk mengoreksi dan menambahkan.

**keterangan gambar: Masjid dan Menara Kalon di Bukhara, Uzbekistan.

Advertisements

3 thoughts on “[Sidestory Garis Batas] Mensyukuri lingkungan Islam yang konservatif

  1. hmm.. terkadang yg beginian luput dari pandangan.
    nggak ada yg tau dan (sepertinya) nggak ada yg peduli juga soal melunturnya kultur2 islam di negara yg satu benua dengan kita.
    jangan sampai kita ikutan menjadi seperti mereka, karena sepertinya budaya kita mulai dirasuki aroma2 barat yg hedon, semoga kita tidak menjadi bagian dari mereka.. 🙂
    nice post mbak..
    (afwan, kalo komentarnya rada2 geje, hehe)

  2. Assalamu Alaikum 🙂
    salam kenal dulu tentunya. kebetulan saya juga habis membaca buku Garis Batas dan habis mereviewnya.

    menurut saya kondisi ke-Islam-an warga Asia Tengah bisa seperti sekarang salah satunya karena mereka sudah melewati masa puluhan tahun di bawah kekuasaan komunitas Sovyet di mana semua agama dilarang, segala praktek keagamaan dibatasi sehingga wajarlah kalau generasi yang sekarang jadi tidak paham tentang agama Islam yang sejatinya adalah agama nenek moyang mereka

    semoga kondisi yang sama tidak terjadi pada kita di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s