Jebakan Kecepatan

*serial etika komunikasi, Majalah Tarbawi Edisi 248 – Jumadil Awwal 1432 H

Internet ibarat panggung terbuka. setiap orang bisa tampil diatasnya. Kita tak lagi semata menjadi khalayak, tetapi juga dimungkinkan berperan sebagai pelaku utama dalam komunikasi massa. Tak harus memiliki lembaga media untuk semata menyebarkan warta ke segala penjuru duni dalam waktu yang simultan. Cukuplah dengan akses berbiaya murah, karena berbagai ruang maya disediakan berbiaya murah pada kita secara cuma-cuma.

Sebagai pelaku komunikasi, bisa jadi kita sungguh-sungguh ingin menjadi pewarta warga (citizen journalism), misalnya lewat berbagai blog yang kita sulap menjadi media online. Atau semata meneruskan atau mengutip informasi dari orang lain. Fasilitas forwarding dalam internet atau seluler memudahkan kita untuk meneruskan informasi yang kita terima pada orang lain.

Apapun pilihannya, pekerjaan membagi informasi selalu memiliki jebakan etis. Karena tak ada informasi yang tak bebas nilai. Problem yang paling mendasar sebetulnya euphoria informasi yang menjangkiti kita. Dalam lalu lintas informasi, baik yang berbasis internet maupun seluler, orang merasa berarti ketika bisa turut bebragi. Maka begitu mendapatkan kabar, seseorang dengan spontan berpikir, kepada siapa informasi itu akan diteruskan. Apalagi, jika merasa itu sesuatu yang baru.

Kita bisa menyebutkan sebagai syndrome broadcaster, semacam obsesi untuk terus menjadi sumber dan penyampai informasi. Ini yang harus kita waspadai karena potensinya untuk melanggar etika tinggi. Pertama, karena kita pada umumnya tak memiliki tradisi melakukan verifikasi yang baik. Keengganan melakukan verifikasi informasi akan menjebak kita dalam distribusi kabar yang tidak akurat, atau bahkan tidak benar sama sekali.

Kedua, internet berpotensi disusupi berbagai berita bohong (hoax). Kalau tidak cermat, kita akan menganggapnya sungguhan, apalagi biasanya disajikan secara meyakinkan layaknya kabar dari kalangan professional. Ada narasumber yang dikutip, ada data-data yang disebut. Meneruskan hoax sama artinya kita adalah pembohong. Bayangkan jika ada yang menganggap seirus informasi itu, bisa jadi akan menimbulkan kepanikan atau minimal keresahan. Seperti kabar tentang merek-merek susu yang tercemar enterobacter Sakazakii beberapa waktu lalu yang sempat meresahkan.

Ironisnya, media-media profesional pun kadang termakan hoax juga. Beberapa jam setelah Pembangkit Listrik Tenanga Nuklir Fukushima Jepang meledak, muncul peringatan dari media elektronik bahwa warga Indonesia hendaknya tidak keluar rumah, karena radiasi akan sampai ke negeri ini.

Ketiga, nampaknya, internet akan menjadi rumor terbesar hari-hari ini atau nanti. Logika rumortetap sama, berkembangnya akan paralel dengan seberapa penting isu terkait dan seberapa dianggap penting suatu isu, semakin ramai dibincangkan. Semakin tak jelas sebuah sumber, semakin tinggi potensinya menjadi rumor. Disinilah jebakannya, karena semakin kita merasa sebuah informasi penting, semakin tinggi keinginan kita untuk membaginya pada yang lain.

Internet memungkinkan siapapun untuk menaruh informasi apapun, mulai dari yang  berkelas sampah hingga yang bernilai. Dari yang berpotensi merusak, hingga yang berpotensi membangun. Dari obrolan pinggir jalan hingga omongan serius para pengambil kebijakan. Dan orang yang menaruhnya bisa menjadi siapapun. Internet memungkinkan orang menjadi anonim, tak dikenal. Sumber yang tidak jelas inilah biang informasi yang tak berujung pangkal.

Keempat, meneruskan informasi dari media online, berpotensi kehilangan konteks. Media online selalu terobsesi pada kecepatan, sebagaimana karakternya yang always updated. Namun, kecepatan informasi seringkali merusak konteks. Jika orang tidak membaca keseluruhan update informasi itu, sangat mungkin dia kehilangan konteks. Kabar tanpa konteks sama artinya dengan informasi tanpa kebenaran. Informasi yang bias. Daripada tahu sepotong bisa jadi lebih baik tidak tahu sama sekali.

Ada baiknya kita renungkan kembali kaidah komunikasi yang paling mendasar, yakni irreversible (tak dapat ditarik kembali). Begitu kita salah membagi informasi, pasti ada dampaknya, sekecil apapun. Bayangkan jika ini menyangkut orang-orang yang sejatinya tak bersalah. Betapa mengerikannya, misalnya, ketika kita justru turut dalam proyek fitnah atas seseorang. Sementara, kita bahkan tak mengenal orang yang bersangkutan. Tak ada motif seirus, selain gejala lebay, namun dampaknya teramat serius, apalagi jika menyangkut isu public. Hanya karena jari-jemari kita yang tak terdidik akibatnya bisa sangat fatal.

Pakar telematika Onno Purbo berpesan, selain pandai memilah dan memilih, masyarakat sebaiknya juga berhati-hati dalam menyusun atau meneruskan suatu informasi. Kecepatan memang pentng, tetapi bisa menjebak. Tak ada artinya kecepatan tanpa kebenaran.

(Edi Santoso)

*

dalam sebuah pelatihan jurnalistik, saat sesi diskusi, ada seorang mahasiswa perwakilan Indonesia untuk Libya (dan bersekolah di Libya). ia menyatakan kekecewaannya terhadap pemberitaan di Indonesia. pernah ditayangkan video yang menampilkan adegan bentrokan dan pengeboman yang dikatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di sebuah tempat di Libya. Ia, yang menyaksikan berita tersebut, merasa bingung dan resah. karena peristiwa tersebut terjadi ditempat yang ia kenali bukan tanah Libya.

perhatikan sekali lagi: Begitu kita salah membagi informasi, pasti ada dampaknya, sekecil apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s