Mirror: Aku kepada Kamu #1

Kamu, yang sekarang tengah merasa berada di titik letih yang amat terhadap perasaan sendiri.

Ada yang salah, dan kamu telah mengetahuinya dengan amat jelas.

Dalam klimaks tersebut, kamu tahu bahwa kamu perlu lekas bergegas.

Sebentar, bergegas itu tidak berarti terburu-buru,

Jadi bisa kan, sempatkan sedikit waktu berbincang dan menyeruput kopi denganku?

,,,

Hm… Bila waktu yang sedikit ini bukan tentang berdialog, maka biarkan waktu ini aku manfaatkan untuk menasihatimu.

Hal yang ingin aku sampaikan ini tidak bisa menunggu waktu lain.

Untuk itu, biarkan aku berbicara terlebih dahulu.

..

Telah adakah ditanganmu, sebuah buku yang terbuka tanpa baris dan tanpa noda tinta?

..

Bila belum ada, maka cari lah. Semoga ia tak jauh dari jangkauanmu saat ini.

Saat kamu sendiri seperti sekarang kamu butuh lebih banyak halaman kosong.

Sst…iya, aku mengerti kamu merasa heran dengan hal ini.

Simpan keheranan itu, karena seperti Musa saat bersama Khidir, kamu tidak boleh menghalangiku dengan keherananmu.

..

Anggap saja aku sedang membantumu melarikan diri. Meski kamu merasa telah begitu ahli berlari. Tapi kali ini, pelarian khusus yang hendak kau hadapi. Kau butuh aku, cepat atau lambat kau akan menyadarinya.

..

Ah iya, buku dengan halaman kosong itu..nantinya akan terisi sendiri tanpa perlu kau menuliskannya. Ia akan penuh dengan tulisan/coretan/gambar segera setelah kau mengambil langkah. Jangan khawatir.

..

Hey, kamu. Mengendalikan halaman kosong itu jelas bukan urusan tanganmu. Tapi itu menjadi tanggungjawab hati dan pikiranmu. Untuk mengatur halaman kosong tersebut, kamu harus punya kendali bagi hati dan pikiranmu. Cukup hal itu.

..

Hey, kamu. Aku tidak bisa berjanji akan membersamaimu sepenuh hati. Karena Tuhan menggariskan demikian, kita tidak akan selamanya bersisian. Jadi sejak sekarang, sedikit demi sedikit, kamu perlu belajar menerima kehilangan. Kamu akan terbiasa dan menjadi dewasa dengan waktu. Percaya padaku.

..

Dan kamu, buku itu, buku yang saat ini hanya berupa halaman-halaman kosong itu. Ia yang akan selalu bersisian denganmu. Cukupkan ia untukmu.

Nah, saatnya bergegas. Ternyata aku tidak punya cukup kemampuan untuk menyita waktumu.

Semoga berhasil.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s