tanpa rindu

 

Rindu itu ada karena kita menjalani masa.

Rindu itu terjadi karena kita pernah melewati sebuah celah yang menangkap emosi kita

Rindu itu terajut karena kita membiarkannya, dengan sesekali menjadikan rindu itu alasan.

Rindu ada karena jarak. Itu yang diketahui banyak manusia.

Tapi bilamana jarak itu dilipat, rindu pun akan tetap ada. Karena ada zaman ketika kita bertemu dan ada zaman yang membentang jembatan diantara kita. Selalu berakhir pada simpul rindu (yang satu waktu ke waktu lainnya, rupa rindu itu tidak pernah sama)

Meski sejatinya, rindu itu cuma rasa.

..

Rindu itu adalah ketika aku duduk dan wajahku menghadap jendela kaca yang memperlihatkan jalan yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang tapi yang terlihat hanya penggalan-penggalan masa kita bersama.

Rindu itu adalah ketika aku menangis tanpa tahu beban apa sebenarnya yang menggelayuti tiap airmata.

Rindu itu adalah ketika kamu ingin menempuh jarak menjengukku tapi aku mati-matian berkata kau jangan datang.

Rindu itu alasan. Alasan. Dan selamanya rindu bagiku cuma rasa dan alasan untuk mengikat kita dalam sebuah hubungan.

Rindu itu ternyata masih sebatas alasan agar aku terhindar dari lupa.

Rindu itu, mengapa bisa aku menggenggamnya padahal tak jarang rindu menusuk perasaan?

..

Tapi tetap saja, ada sudut hatiku yang mengatakan rindu ini berarti ingin ada perjumpaan..

Hanya saja, atas nama rindu ini: aku belum ingin bertemu.

 

Advertisements

2 thoughts on “tanpa rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s