Talk About The Moon

Entah kapan waktu spesifik untuk menjadi penanda saya mulai suka menikmati cahaya bulan. Setahu saya, kerap sekali cahaya bulan dimalam hari selalu menemani suasana hati saya. Bila suasana hati saya sedang tidak baik, maka menikmati cahaya bulan bisa sedikit mengobati. Bila suasana hati saya sedang bagus, maka saya akan lebih bersemangat untuk tersenyum.

Saya sebenarnya tidak terlalu mengkhususkan untuk berjalan dimalam hari mencari cahaya bulan. Karena dibanyak kesempatan justru saya menikmati cahaya bulan saat mengendarai motor dijalan. Iya, saat saya mengemudikan motor seringnya saya menengadah ke langit. Membalas siraman cahaya yang dipantulkan bulan dengan menatap balik. Bila tidak sedang mengendarai motor, maka saya menikmati cahaya yang dipantulkan bulan dengan duduk-duduk diteras belakang rumah. Tapi kondisi kedua ini menjadi jarang saya lakukan karena saya lebih banyak beraktivitas dimalam hari.

Kenapa saya tiba-tiba membicarakan bulan? Saya sedang mengalihkan hati saya dari ‘rasa sensi’. Sepertinya saya sering menyebut-nyebut ‘rasa sensi’ seharian ini dan hal itu menguras emosi saya πŸ˜€ . Jadi saya memutuskan untuk sedikit berbicara seenaknya tentang bulan :-p

Tidak jarang yang menyukai bulan. Apalagi menyukai purnama. Saya mengenal beberapa sahabat maya justru karena kami sama-sama menikmati purnama. Tapi lebih dari itu, saya menyukai langit. Langit dengan beragam yang terlukis di-dirinya selalu bisa membuat saya mendecak kagum kepada Sang Pencipta. Tidak, saya menyukai mereka (langit & seisinya, serta bulan) sampai membuat saya mengekor selalu pada perkembangan pengetahuan tentang mereka. Tapi kesukaan saya ini, mau tidak mau mengikat mereka dan menobatkan mereka sebagai ‘objek healing’. Sederhananya : saya menjadikan objek bagi saya untuk ‘memulihkan diri’ dari berbagai macam situasi, dengan cara menikmati (memandang lekat-lekat) penampakan mereka.

Ah iya, telah berlalu fase purnama. Dan untuk fase purnama bulan ini, seperti kalian ketahui, ada yang spesial yakni kejadian supermoon. Bulan Purnama tampak 6% lebih besar dari fase purnama biasanya. Terjadi di tanggal 19 kemarin. Alhamdulillah, saya sempat menikmatinya. Malam itu, dimana-mana awan mendung menutupi purnamanya bulan, sehingga lewat pukul sembilan malam saya baru menikmati bulan purnama dengan duduk-duduk di belakang rumah. Saya tidak merasa bahwa bulatnya bulan saat itu bertambah 6%, yang saya rasakan justru siraman cahaya yang dipantulkannya itu yang lebih banyak, lebih terang. Dan yang agak berbeda saat itu adalah warnanya yang terlihat lebih jingga (entah, apakah mata saya ini mengalami gangguan). Itu saya perkirakan karena jarak bulan yang tidak seperti biasanya: ia berjarak lebih dekat ke bumi.

Saya juga tidak mengambil gambar dari kamera saya, maka saya hanya menyalin-tempel gambar supermoon yang diabadikan seseorang yang disebarluas melalui sini. Here they are :

terang yang saya nikmati dibelakang rumah juga hampir mirip seperti ini,

dan lebih jingga-nya purnama juga terasa seperti ini

ini gambar lain yang juga dilampirkan di tempointeraktif.com


*menuliskan postingan ini sambil menikmati ‘talking to the moon’ by Bruno Mars*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s