[Ulasan Buku] Sahabat-Sahabat Cilik Rasulullah

Dekat dari waktu pembelian buku ini, Murabiyyah saya pernah meminta saya (dan teman-teman halaqah saya) untuk menjelaskan apa-apa yang akan kami lakukan bila berkeluarga nanti, planning seperti apa yang sudah kami siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah berkeluarga. Sampai kami diminta untuk menjelaskan detil tentang keseharian yang hendak kami rancang dalam upaya membentuk anak-anak kami. Ah, saat itu kami semua agak canggung. Meski bisa menjawab, saya yakin bahwa kami saat itu tidak begitu puas bahkan dengan jawaban kami sendiri. Karena masih banyak teladan yang ingin kami ‘salin-tempel’ ke dalam program mendidik anak.

Masih dalam semangat yang sama, saya dibuat mencari banyak informasi mendidik anak. Dalam halaqah saat itu, yang banyak kami bincangkan akhirnya adalah program mendidik anak, sharing tentang kenyataan merawat anak-anak, hingga cita-cita kami untuk anak-anak kami. Jadi ingin tertawa sendiri. Ah iya, dengan semangat yang sama, saya akhirnya mengambil buku berjudul diatas dengan alasan ingin tahu bagaimana Rasulullah memperhatikan kondisi anak-anak.

Betul saja, buku ini merupakan penggalan sirah Nabi Muhammad. Yang dikumpulkan disini adalah sirah Nabi dengan fragmen interaksi yang melibatkan Nabi dengan anak-anak yang membersamai masanya. Diawal bahkan diceritakan sepenggalan kisah Ismail a.s, dan juga kisah Abdul Muthalib hingga memiliki anak bernama ‘Abdullah dan bercucu Muhammad saw. Diceritakan secara runut di sub-bab Masa Kanak-kanak Rasulullah, bab pertama dalam buku ini.

Lalu dibuat berurutan, buku ini mengisahkan mulai dari ‘anak-anak dalam keluarga Rasulullah’, ‘anak-anak tiri Rasulullah’, ‘anak-anak para sahabat’ dan disertakan juga hadits-hadits berkenaan sikap nabi terhadap anak-anak disekitarnya.

Di buku ini, banyak disebutkan nama-nama sahabat yang tidak asing. Semisal Zaid ibn Haritsah – anak angkat yang dicintai Nabi, Anas Ibn Malik – anak Ummu Sulaim yang diberikan kepada Nabi untuk menjadi pelayannya, masa kecil ‘Aisyah – ummul mukminin, dan beberapa yang lain. Tapi buku ini juga menceritakan nama-nama mereka anak-anak yang belum pernah saya dengar. Seperti Rafi’ Ibn Khudaij, Imam ibn Abu Al ‘Ash, Umair Ibn Sa’d.

Mereka, anak-anak yang dikisahkan dibuku ini, menjadi beruntung karena diajarkan langsung perihidup oleh Nabi. Membersamai Nabi bahkan hingga mereka akhirnya berinisiasi untuk menjadi ‘cahaya mata’ dengan sisi spesial yang berbeda dengan semangat yang terilhami oleh kecemerlangan akhlak Nabi.

Buku ini bercerita dengan ringan, tetapi banyak bertutur pelajaran.

Abdullah ibn Umar pernah mengatakan, “Rasulullah memegang pundakku sambil sedikit menggerak-gerakkan, seolah meminta agar aku memperhatikan. Lalu, beliau berkata,”Wahai ‘Abdullah, jadilah seolah orang asing atau seolah orang musafir di dunia ini. Dan anggaplah dirimu sebagai ahli kubur.”

Dipesankan kepada Anas, oleh Nabi saw,” Anakku, jika pada pagi dan sore hari kau mampu menghindarkan hatimu dari kedengkian, lakukanlah! Itulah sunnahku! Siapa yang melestarikan sunnahku, berarti ia menghidupkan aku. Siapa yang menghidupkan aku, ia akan bersamaku di surga.” [H.R Tirmidzi]

Sabda Nabi yang lain, tentang pendidikan terhadap anak-anak:

“Tak ada pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anak selain tata krama yang baik.” [H.R Tirmidzi]

“Kewajiban orangtua kepada anaknya adalah mengajarkan Al-Qur’an, berburu, memanah, dan memberi rezeki yang halal.” [Kanz al – ‘Ummal, 45340]

Bahkan dari berinteraksi dengan anak kecil pun, kita belajar keteladanan yang indah dari Nabi Muhammad. Semoga bermanfaat.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s