Catatan Akhir Pekan: Bilik 602

Minggu pertama Maret, saya disibukkan dengan jadwal mengajar yang frekuentif. Beberapa murid saya menghadapi Ujian Tengah Semester Genap dan murid saya yang kelas IX sedang gencar dihadapkan oleh Try Out Ujian Nasional. Menyelarasi frekuensi seperti itu, saya menunda mengunjungi pameran buku-buku Islam yang digelar di Istora Senayan dengan nama IBF 2011. Maksud saya yang lain juga mengumpulkan uang terlebih dahulu dari privat yang saya pegang.

Selain IBF, ada acara lain yang ngga kalah menarik yang ingin saya ikuti. TEDx Jakarta Live (live screening) bertempat di @america – Mall Pacific Place. Saya yang sudah mengikuti 3 acara terakhir dari TEDx Jakarta, kali ini berinisiasi untuk bergabung di acara tersebut. Karena speakers yang dihadirkan saat itu, merupakan tokoh-tokoh kenamaan dunia, bahkan menghadirkan Bill Gates. Tapi dasar keinginan itu punya ruangnya untuk gagal terealisasi, dan benar saja rencana saya diawal pekan kedua bulan Maret ini berantakan.

Semoga saya termasuk orang yang bersyukur, saya tahu Allah selalu hadiahkan hikmah disebalik peristiwa. Ah, saya juga tidak perlu kecewa amat kan?

Nomor bilik 602 adalah bilik tempat Papa saya dirawat. Papa menderita kencing batu, dibutuhkan operasi untuk mengeluarkan batu ginjal yang bersarang di saluran kemih tersebut. Ukurannya cukup besar, dokter sudah mewanti-wanti bahwa pengangkatan dengan edsokopi mungkin tidak cukup berarti. Rabu sore (09/03) Papa mulai menjalani rawat inap untuk operasi yang dijadwalkan hari Jum’at ( 11/03). Malangnya, hari H operasi malah tekanan darah Papa meninggi dan dokter mengambil keputusan bahwa operasi ditunda hingga Senin mendatang (hari ini).

Dipenghujung pekan, yakni kemarin siang. Saya sempatkan diri mampir ke perhelatan IBF hari terakhir. Saya ngga muluk-muluk, cuma ingin menyambangi tiga stand penerbit untuk saya beli buku terbitannya (Republika, al-I’tishom, dan tentunya Tarbawi). Itupun mencari buku untuk diberikan kepada orang lain. Ternyata pekan ini, tema self-education buat saya adalah belajar untuk tidak memikirkan diri sendiri. Tidak terlebih dahulu membiarkan diri pribadi berada dalam prioritas pertama.

Beberapa malam dan beberapa siang dari pekan kemarin, saya habiskan di lingkungan rumah sakit. Di bilik 602 saya berperan menjadi penjaga pasien. Sayang sekali karena saya baru bisa menjadi penjaga, belum sepenuhnya bisa menggenapkan definisi ‘merawat’. Saya selalu kalah dari kakak perempuan saya. Yang selalu kesana kemari, totalitas mengurusi administrasi, dan menemani Papa dari awal pengobatan sakitnya. Untuk masalah perhatian pun, yang saya miliki buat orang lain (bahkan buat Papa) ternyata masih terlampau sedikit.

Kabar baik bila Papa bisa melangsungkan operasi hari ini, tapi malang, operasinya kembali ditunda. Sebabnya sama, tekanan darah yang tinggi, mengantisipasi pendarahan saat operasi sehingga lebih memilih menunda kembali jadwal operasi menjadi hari Jum’at (18/03) mendatang.

Entah, didepan kami Papa terlihat biasa saja. Tapi bagaimana dengan perasaannya? Apalagi diamenghadapi ini sendiri, tanpa genggaman dan perhatian Mama. Itu juga yang selalu menggelayuti pikiran saya. Saya jadi ingat saat-saat mengantar mama beberapa kali untuk pengobatan sakitnya, ingat raut kecewanya terhadap pengobatan oleh dokter & rumah sakit, ingat kecemasannya, ingat saat-saat menungguinya untuk bisa terlelap tidur (karena itu menjadi hal yang sulit baginya semenjak pertarungan kekebalan tubuhnya dengan sel kanker menjadi kian intens).

Bila saya selalu bisa rindu kehadiran Mama, apalagi bagi Papa?

Ya Allah, hadiahi kami kesembuhan total bagi Papa.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s